SOSIAL  

Perubahan Iklim Memicu Bencana Hidrometeorologi: Kesiapsiagaan adalah Kunci

Dr. Satrio Budi Wibowo, M.A (Ketua MDMC Wilayah Lampung)

WARTAMU.ID, Lampung, 22 Desember 2024 – Cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadi ancaman nyata bagi masyarakat global. Bencana hidrometeorologi kini terjadi dengan frekuensi yang meningkat, menimbulkan kerugian besar di berbagai belahan dunia. Salah satu contoh terbaru adalah banjir besar yang melanda Valencia, Spanyol. Meskipun dikenal memiliki infrastruktur dan teknologi canggih, kota ini tidak mampu menghindari air bah yang datang secara tiba-tiba, menyebabkan korban jiwa dan kerugian besar.

Peristiwa di Valencia menggambarkan bagaimana perubahan iklim mempermainkan cuaca dengan cara yang tak terduga. Bahkan negara maju pun tidak sepenuhnya siap menghadapi bencana hidrometeorologi. Bagaimana dengan kita di Indonesia, khususnya Lampung? Sebagai wilayah yang kerap menghadapi bencana seperti banjir, longsor, dan angin kencang, apakah kita lebih siap hanya karena sudah terbiasa?

Lampung memiliki topografi berbukit serta curah hujan yang tinggi, menjadikannya daerah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Kita tentu masih ingat peristiwa banjir besar yang pernah melanda Lampung Selatan, Tanggamus, bahkan Kota Bandar Lampung. Hujan deras yang turun selama berhari-hari menyebabkan sungai meluap, merendam ratusan rumah, mengevakuasi warga, dan memutus jalur transportasi utama. Dampak dari bencana ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga emosional.

BMKG telah memberikan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem, terutama di musim hujan yang bertepatan dengan fenomena La Nina. Peningkatan curah hujan, angin kencang, dan potensi gelombang tinggi menjadi ancaman nyata. Namun, apakah masyarakat dan pemerintah telah memanfaatkan peringatan ini untuk bersiap menghadapi bencana?

Langkah Kesiapsiagaan yang Perlu Dilakukan

  1. Edukasi Masyarakat Edukasi menjadi langkah utama dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir, perlu memahami apa itu banjir bandang, mengenali tanda-tanda awal, dan mengetahui jalur evakuasi yang harus diambil saat darurat terjadi. Belajar dari negara maju, jalur evakuasi yang jelas, peringatan cepat, dan koordinasi tanggap darurat yang terstruktur dapat menjadi contoh.
  2. Penguatan Sistem Peringatan Dini Pemerintah daerah di Lampung harus memperkuat sistem peringatan dini. Pemasangan alat pemantau debit sungai yang terintegrasi dengan aplikasi berbasis teknologi dapat membantu masyarakat menerima informasi real-time tentang potensi bencana. Selain itu, pengerukan sungai dan pembersihan aliran air harus menjadi prioritas untuk mencegah meluapnya sungai.
  3. Rencana Evakuasi Darurat Setiap keluarga perlu memiliki rencana evakuasi darurat. Posko siaga bencana yang dilengkapi peralatan seperti perahu karet, pelampung, dan perbekalan darurat harus disiapkan. Koordinasi antara warga, pemerintah desa, dan aparat penanggulangan bencana sangat penting untuk memastikan evakuasi berjalan efektif.
BACA JUGA :  Peningkatan Kasus Kekerasan dan Diskriminasi Anak: Solusi dari Fikih Perlindungan Anak Menjadi Agenda Mendesak

Perubahan iklim memang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan. Setiap musim hujan adalah musim untuk berbenah. Peringatan dini harus diikuti dengan tindakan preventif agar masyarakat tidak terjebak dalam situasi darurat tanpa solusi.

Kita harus menyadari bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal mengetahui kapan bencana akan datang, tetapi juga soal mempersiapkan langkah-langkah untuk menghadapinya. Lampung, dengan segala kerentanannya terhadap bencana hidrometeorologi, memiliki peluang untuk menjadi contoh kesiapsiagaan di Indonesia. Mari bersama-sama bersiap untuk selamat, demi melindungi kehidupan dan masa depan kita semua.