Pelanggan cukup scan QR Code untuk pesan & bayar langsung dari HP. Kelola keuangan bisnis jadi lebih simpel dan terpantau online.

Rajo Bujang Tembus Hari Final Festival Pacu Jalur Kuansing 2026, KKN UMRI Kelompok 17 Kesalkan Insiden dan Desak Panitia Tindak Tegas

TELUK KUANTAN, 23 Agustus 2026 — Jalur Rajo Bujang berhasil memastikan tiket menuju babak Hari final Festival Pacu Jalur Kuansing 2026 di Tepian Narosa setelah menorehkan dua kemenangan beruntun. Namun, perjalanan menuju partai puncak tersebut diwarnai insiden yang membuat suasana perpacuan memanas.

i
Aplikasi Kasir Posbon
Pelanggan cukup scan QR Code toko untuk membuka menu produk, lalu pesan dan bayar langsung dari HP. Semua otomatis masuk ke dashboard kasir.
Coba

 

Pada putaran pertama, Rajo Bujang berhadapan dengan Jalur Keramat Jubah Merah dari Muaro Sentajo. Dalam perpacuan tersebut, salah seorang anak pacu Rajo Bujang dilaporkan mengalami luka pada bagian kepala.

 

Rajo Bujang tetap mampu meraih kemenangan. Namun, situasi kemudian memanas setelah haluan Jalur Keramat Jubah Merah disebut mengenai bagian kemudi Jalur Rajo Bujang.

 

Ketegangan berlanjut ketika tukang concang atau pemacu paling depan Jalur Keramat Jubah Merah disebut sempat menarik dan menggoyangkan bagian selimbayung Jalur Rajo Bujang. Sejumlah anak pacu Jalur Keramat Jubah Merah kemudian disebut berhamburan keluar dari jalur dan mengejar anak pacu Rajo Bujang hingga ke Tepian Kajang di kawasan Seberang Taluk.

 

Insiden tersebut menuai perhatian dan kekecewaan dari berbagai pihak, termasuk KKN UMRI Kelompok 17 Desa Padang Tanggung yang menilai bahwa sportivitas dan keamanan harus menjadi bagian utama dalam setiap perpacuan.

 

Ketua KKN UMRI Kelompok 17 Desa Padang Tanggung, Rabbi Fernanda, meminta panitia Festival Pacu Jalur 2026 tidak mengabaikan insiden tersebut dan melakukan pemeriksaan secara objektif terhadap seluruh pihak yang terlibat.

 

«“Kami sangat menyayangkan insiden yang terjadi. Pacu jalur adalah marwah dan kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi. Jangan sampai persaingan di arena justru berubah menjadi tindakan yang mencederai sportivitas dan keamanan para anak pacu,” tegas Rabbi.»

BACA JUGA :  Pemkab Way Kanan Gelar Upacara Peringatan HUT KORPRI Ke-51

 

Ia menekankan, apabila berdasarkan pemeriksaan panitia terbukti adanya tindakan yang melanggar ketentuan atau memicu kerusuhan, maka sanksi harus diberikan secara tegas dan adil.

 

«“Kalau memang terbukti melakukan kerusuhan, panitia wajib memberikan sanksi tegas. Jangan ada tebang pilih. Kami berharap ketegasan yang sama diterapkan sebagaimana sanksi yang pernah diberikan kepada Jalur Sang Jenderal Siposan Rimbo. Keadilan dalam perpacuan harus dirasakan semua jalur,” ujarnya.»

 

Menurut Rabbi, kemenangan maupun kekalahan merupakan hal biasa dalam sebuah kompetisi. Namun, tindakan yang keluar dari batas sportivitas tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak citra Festival Pacu Jalur yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi.

 

«“Kalah menang itu bagian dari perlombaan. Tetapi kerusuhan bukan bagian dari budaya pacu jalur. Kalau ada pelanggaran, selesaikan melalui aturan, bukan dengan tindakan di luar arena,” lanjutnya.»

 

Rajo Bujang Pastikan Tiket Final

 

Terlepas dari insiden pada putaran pertama, Rajo Bujang menunjukkan mental bertanding yang kuat. Pada putaran kedua, Rajo Bujang kembali tampil impresif saat berhadapan dengan Jalur Tuah Keramat Bukit Embun dari Indragiri Hulu.

 

Rajo Bujang kembali meraih kemenangan dan memastikan diri melaju ke hari final Festival Pacu Jalur 2026 di Tepian Narosa.

 

Lolosnya Rajo Bujang ke partai puncak menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pendukungnya. Namun, di tengah euforia tersebut, perhatian juga tertuju pada pentingnya evaluasi terhadap insiden yang terjadi agar tidak kembali terulang.

 

Kini, Rajo Bujang bersiap menghadapi pertarungan terakhir. Dukungan masyarakat terus mengalir, sementara harapan besar disematkan agar Rajo Bujang mampu memberikan penampilan terbaik dan mengukir prestasi di panggung final Festival Pacu Jalur 2026.

 

Final bukan hanya tentang siapa yang tercepat sampai garis kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana marwah, sportivitas, dan kehormatan budaya pacu jalur tetap dijaga.