Banyaknya Warga Muhammadiyah

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Muhammadiyah adalah organisasi islam yang lahir pada tahun 1912 secara legalitasnya. Kemajuan dan perkembangan Muhammadiyah tidak hanya dilihat dari segi anggota saja melainkan seluruhnya seperti sekolah, panti asuhan, rumah sakit, masjid, musholla, kampus, dan lainnya. Dari segi lulusan pendidikan pun sudah banyak warga Muhammadiyah yang bergelar S1, S2, S3 sampai pada Profesor secara akademik. Semua warganya berbagai lintas profesi dan lintas bidang apapun sudah banyak di dalamnya. Sehingga, organisasi akan terus tumbuh dan besar meskipun jika dilihat dari segi asumsi data ada kesan semakin sedikit.

Warga Muhammadiyah secara umum terbagi dalam dua kategori, yakni Muhammadiyah struktural dan Muhammadiyah Kultural. Keduanya tentu berbeda, akan tetapi secara kekeluargaan besar persyarikatan Muhammadiyah itu sama saja baik yang sudah memiliki kartu tanda anggota Muhammadiyah atau nomor baku Muhammadiyah maupun yang belum memilikinya karena berbagai faktor. Yang jelas Muhammadiyah bukan organisasi gerbong kosong dan organisasi plang nama saja, akan tetapi warganya ada meski tak selalu menonjolkan atau menampakkan diri.

Banyaknya warga Muhammadiyah ini tak akan membuat Muhammadiyah kehilangan atau kehabisan kader dan warnanya. Sebab, menjadi bagian dari warga Muhammadiyah itu bisa memberikan kontribusi dalam berbagai hal sesuai kemampuan diri dan latar belakang masing-masing yang tak mesti harus selalu dilihat dari segi unsur pimpinan struktural semata. Jika ada riset yang mengatakan bahwa warga Muhammadiyah semakin menurun dan sedikit, kemungkinan itu riset dan survei terbatas yang sample nya kurang akurat apalagi valid serta kredible. Sehingga tak perlu ambil pusing dan merasa lemah akan kekuatan massa warga Muhammadiyah yang sebenar-benarnya masih banyak, besar, dan berlimpah. Muhammadiyah itu tidak sedikit dan juga memang bukan yang terbesar pertama, akan tetapi warganya sangat banyak dan luas tersebar di seluruh Indonesia dan internasional.

Sebagai warga Muhammadiyah baik struktural pimpinan ataupun kultural jamaah di Muhammadiyah, tentu harus tetap berbangga dengan kebesaran, kemajuan dan kekuatan persyarikatan Muhammadiyah. Sudah saatnya warga Muhammadiyah terus bergerak aktif dan memberikan sumbangsih untuk persyarikatan, negara dan bangsa dalam bidang apapun mulai hal terkecil sampai pada hal yang terbesar. Sebab Muhammadiyah telah terbukti membangun negara, bangsa, umat dan masyarakat dalam ramah dakwah, sosial, kesehatan, pendidikan, agama dan kemanusiaan.

Sebagai warga Muhammadiyah yang peduli dan senantiasa ikhlas terhadap persyarikatan, maka harus optimis menatap ke depan dan ikut serta membesarkan Muhammadiyah baik asetnya, anggotanya dan antusiasnya. Tidak lagi berjalan sendirian, bekerja sendiri di amal usahanya, melainkan harus berkolaborasi secara massif, transparan dan progresif. Ini merupakan cita-cita dan harapan seluruh warga Muhammadiyah untuk terus mengabdi bagi Nusa, bangsa dan agama. Banyaknya warga Muhammadiyah itu harus dilihat secara kompleks bukan parsial apalagi hanya dikaitkan dengan aspek politik dan politik praktis yang selalu dengan ukuran survey musiman. Warga Muhammadiyah tetap massif dan akan terus tumbuh baik dari bawah sampai ke atas dan di semua lini kehidupan yang nyata. Jangan remehkan gerak juang dan gerak langkah persyarikatan Muhammadiyah terhadap sepakterjangnya untuk bangsa yang dicintai ini. Senantiasa bersama Muhammadiyah dan turut serta melanjutkan cita-cita para pendiri termasuk meneruskan ide Kiyai Ahmad Dahlan tentunya.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Alumni Pendidikan Intensif Muballigh Muda Berkemajuan)