Pelanggan cukup scan QR Code untuk pesan & bayar langsung dari HP. Kelola keuangan bisnis jadi lebih simpel dan terpantau online.
SOSIAL  

Krisis Iklim dan Kesehatan: Kolaborasi Lintas Sektor untuk Masa Depan Berkelanjutan

Sebanyak 120 peserta menerima pemeriksaan, dan 55 kacamata diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan

WARTAMU.ID, 21 Desember 2024, Cirebon – Perubahan iklim kini tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Dampaknya dirasakan langsung, mulai dari peningkatan penyakit akibat suhu panas, gangguan pernapasan akibat polusi udara, hingga kebangkitan penyakit menular yang sebelumnya terkendali.

Menjawab tantangan ini, KEBUMI dan GreenFaith Indonesia, didukung oleh Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat dan RSU Universitas Muhammadiyah Cirebon, menyelenggarakan seminar bertajuk “Health Sustainability, Climate Crisis & Clean Energy Transition”. Acara ini berlangsung pada Sabtu, 21 Desember 2024, di RSU Universitas Muhammadiyah Cirebon, menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas solusi keberlanjutan kesehatan dan lingkungan.

i
Aplikasi Kasir Posbon
Pelanggan cukup scan QR Code toko untuk membuka menu produk, lalu pesan dan bayar langsung dari HP. Semua otomatis masuk ke dashboard kasir.
Coba

Direktur RSU Universitas Muhammadiyah Cirebon, dr. Asad Suyudi, menyatakan pentingnya kolaborasi menghadapi krisis iklim. “Perubahan iklim adalah ancaman kehidupan manusia. Dalam Islam, menjaga kesehatan dan lingkungan adalah bagian dari iman,” ujarnya. Ia mengajak semua pihak mewujudkan kolaborasi untuk kepentingan bersama.

Dokter Suherman dari IHPH-Net menegaskan perlunya rumah sakit menjadi pelopor perubahan dengan konsep Green Hospital dan Healthy Workplace. “Rumah sakit memiliki peran strategis dalam edukasi masyarakat serta mitigasi dampak lingkungan melalui pengelolaan energi, limbah, dan sumber daya yang berkelanjutan,” jelasnya.

Cirebon menghadapi dua isu utama: polusi udara dari PLTU batu bara dan pengelolaan sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Cirebon, Fifi Erneti, menyatakan bahwa kota ini menghasilkan 1.200 ton sampah per hari dan sering mengalami kekurangan air bersih. “Gerakan peduli lingkungan harus menjadi budaya bersama untuk mengatasi krisis ini,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Denny Siregar Sebut Muhammadiyah Ormas Paling Keren di Indonesia

Dokter Raynaldy Budhy Prabowo dari KEBUMI menyoroti kontribusi sektor kesehatan terhadap emisi karbon, terutama dari limbah rumah sakit dan konsumsi energi. Ia menegaskan pentingnya sektor kesehatan berperan proaktif dalam edukasi dan pencegahan dampak perubahan iklim.

KEBUMI memaparkan hasil pemantauan kualitas udara di sekitar PLTU Cirebon yang menunjukkan konsentrasi PM2.5 sering melebihi batas aman. “Data ini penting untuk mendorong kebijakan yang mendukung lingkungan sehat dan transisi energi bersih,” ujar Ricka Ayu Virga Ningrum dari KEBUMI.

Selain masalah lingkungan, keberadaan PLTU batu bara memicu konflik sosial, termasuk kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan. “Krisis ini menciptakan efek domino yang merugikan masyarakat, termasuk peningkatan pengangguran dan perubahan budaya lokal,” kata Wahyudin Iwang, Direktur WALHI Jawa Barat.

Parid Ridwanuddin dari GreenFaith Indonesia menegaskan bahwa transisi energi adalah tanggung jawab iman. “Transisi energi berkeadilan adalah amanah moral untuk menjaga keberlanjutan hidup di bumi,” tuturnya.

Seminar ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci menghadapi krisis iklim. Diskusi dan aksi nyata dari Cirebon diharapkan menjadi inspirasi untuk daerah lain.

Sebagai bagian dari kegiatan, digelar pemeriksaan mata gratis di Kantor Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Sebanyak 120 peserta menerima pemeriksaan, dan 55 kacamata diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Program ini didukung oleh Ikatan Profesi Optometris Indonesia (IROPIN).

“Masalah kesehatan mata semakin meningkat akibat pandemi dan polusi. Program ini bertujuan mendeteksi dini gangguan penglihatan yang dapat dicegah,” kata Nova Joko Pamungkas, Ketua IROPIN.