Nikmatnya Muhammadiyah Kampung

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Kehidupan bermuhammadiyah sangat kental dengan nuansa yang sangat sederhana lagi bersahaja dalam beraktifitas terhadap persyarikatan. Konsep yang diterapkan oleh warga dan kader Muhammadiyah di pelosok atau tingkat cabang dan ranting itu tentu berbeda sekali dengan daerah kota, daerah administrasi atau di tingkat daerah, wilayah dan pusat. Sebab, situasi yang dihadapi cenderung persoalan kecil karena lingkungan yang masih terbatas dan minoritas ataupun sedikit. Kehidupan di pedesaan, di perkampungan, di pelosok, di tempat dengan akses yang masih rendah dan juga sorotan hiruk pikuk negara itu sebenarnya lebih nikmat untuk dijalani. Walaupun kini di era digital bisa tetap mengira banyak akses informasi segala isu yang terjadi baik isu global, politik, negara sampai pada organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Hanya saja yang membedakan adalah sikap dan respon nya saja yang lebih cendueng ditanggapi lebih santai, biasa dan normal.

Segala isu yang terjadi antara politik pemerintahan negara dan politik kebangsaan Muhammadiyah di lingkungan Muhammadiyah kelas metropolitan atau kelas perkotaan, tidak lantas membuat heboh di lingkungan Muhammadiyah perkampungan dan pedesaan yang kehidupannya lebih banyak dilakukan untuk mengabdi setulus hati. Kehidupan bertani, berkebun, beternak, serabutan atau bahkan pegawai negeri sipil guru, dinas tapi tetap bersahaja dan membawa nuansa religius bermuhammadiyah di tengah aktifitas pekerjaannya. Semua hal yang heboh, rame, polemik dan kisruh baik di sosmed maupun Kehidupan nyata tidak lantas menjadi terpengaruh ikut-ikutan serperi kalangan elitnya. Sebab tidak semau hal itu menang harus ditanggapi dan direspon jika tidak begitu banyak menguntungkan lagi menghasilkan apapun di Muhammadiyah pelosok perkampungan untuk ranting atau cabangnya. Itulah kenapa tak semua hal yang rame di Muhammadiyah dibawa ke arena Muhammadiyah kampung pedesaaan.

Nikmatnya Muhammadiyah kampung merupakan kondisi Kehidupan bermuhammadiyah di perkampungan dan di pedesaan yang lebih bahagia karena kesederhanaan, kesantunan dan kebersahajaan bermuhammadiyah tanpa harus terkena penyakit modernisasi dalam menyikapi persoalan. Bukan berarti tidak ada problem Muhammadiyah kampung di tingkat ranting ini, akan tetapi setiap problem yang ada tidak perlu terlalu berlarut-larut dan berkepanjangan perselisihan nya agar tetap kembali guyub rukun, harmonis dan akrab ketika kenali kumpul bersama baik dalam rapat maupun pengajian. Walaupun Muhammadiyah kampung secara profesi tidak elit, secara kehormatan tidak besar, secara pengaruh tidak banyak, dan secara maqam tidak kuat. Akan tetapi Nikmatnya Muhammadiyah kampung itu bagaikan Kehidupan yang otentik, profetik dan humanistik yang lebih Berkemajuan sekalipun di perkampungan, pedesaaan ranting saja. Negeri negatifnya elit Muhammadiyah di organisasi dan amal usaha daerah serta wilayah tak perlu diserap dan diteruskan sampai kepada Muhammadiyah kampung, karena itu juga bukan gaya hidupnya Muhammadiyah kampung dalam menjani Kehidupan berorganisasi. Dikatakan Nikmatnya Muhammadiyah kampung itu karena tidak perlu ada gengsi, dualisme, status quo, perdebatan panjang, ribut AUM, ataupun hiruk pikuk internalisasi Muhammadiyah lainnya.

Jangan terlalu menilai rendah Kehidupan bermuhammadiyah di perkampungan dan pedesaan yang meskipun amal usaha Muhammadiyah masih sedikit atau belum ada atau bahkan masih terbengkalai. Karena dibalik itu juga lingkungan circle Muhammadiyah nya tidak begitu jelimet, tidak ambisius, tidak sikut-sikutan, tidak saling menjatuhkan dan tentunya tidak perlu masuk ala ranah kepentingan politis lainnya hanya karena bermuhammadiyah. Namun terkadang nuansa Muhammadiyah kampung dan Muhammadiyah pedesaaan pun bisa rusak dan luntur jika para elit Muhammadiyah mausk mencari suaka, suara dan swadaya demi kepentingan priabdi nua untuk di bawa ke panggung elit mencari arah dukungan serta kepemimpinan yang membuat semakin kuat. Hal itu nanti bergantung kembali kepada sosok dsn individu warga dan kader Muhammadiyah kampung itu sendiri dalam menyikapi nya, sejauh ini hanya tersentuh dan terpengaruh sesaat formalitas sebentar saja tidak berkepanjangan. Itulah kenapa untuk terus menjaga potret Nikmatnya Muhammadiyah kampung tanpa harus memaksakan diri seperti Muhammadiyah kota dan Muhammadiyah metropolitan.

Nikmatnya Muhammadiyah kampung ini menjadi pilihan alternatif bila ingin tetap kembali bermuhammadiyah di tingkat PRM dengan usaha membangun desa dan membangun kampung Berkemajuan. Segala pengalaman dan dinamika yang pernah dirasakan ketika muda, ketika elit, dan ketika berjaya dipuncak dulunya, tak lagi perlu dibawa ke ranah Muhammadiyah kampung dan Muhammadiyah pedesaaan. Sembari menikamti masa pensiun, atau beralih profesi tani, kebun, ternak, dagang maupun lainnya. Yang terpenting bisa berbahagia sambil menikmati kehidupan bermuhammadiyah di kampung atau desa menuju kemajuan. Kemajuan tidak hanya dimaknai dalam teknologi, infrastruktur, gaya hidup dan lainnya, tetapi juga pada cara berpikir dan cara bersikap dalam kehidupan sosial masyarakat secara nyata. Apapun itu selama untuk Muhammadiyah, kampung, desa dan masyarakat lagi umat islam, itu sudah menjadi bagian dalam berdakwah islam berkemajuan secara enteng-entengan dan kecil-kecilan. Sebab hal besar terjadi tidak luput dimulai dari hak kecil tentunya. Semoga dengan Nikmatnya Muhammadiyah kampung ini pun bisa menjadi angin segar dalam bermuhammadiyah terhadap semangatnya, perjuangannya dan pengorbanan nya yang tak lekang oleh waktu. Bermuhammadiyahlah Walaupun terkesan kampungan dan deso, karena itu bisa jadi lebih baik daripada Bermuhammadiyah elitis penuh kehormatan tapi sangat politis, feodalis, dan egois jauh dari esensi Muhammadiyah sebagai dakwah islam amar makruf nahi mungkar.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan)