RAGAM  

Puasa Dan Kewajiban Bersantai

Oleh : Mansurni Abadi (Anggota Literasi Woodlands Singapura)

Ilustrasi Puasa Dan Kewajiban Bersantai

WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Ketika kita menjalani ibadah Puasa, porsi pekerjaan yang kita lakukan biasanya akan dikurangkan, baik dari waktu maupun bebannya tentu kenikmatan pengurangan ini tidak setiap orang akan rasakan karena bergantung kesepakatan dan jenis pekerjaan yang mereka lakukan tapi bagi kita yang merasakan nikmat pengurangan ini maka akan bertemu jeda diantara ibadah dan aktivitas yang biasa disebut oleh orang-orang bule sebagai waktu bebas atau “leisure time”.

Waktu luang ini sebenarnya memiliki dua fungsi disamping berfungsi sebagai ibadah maupun pengumpul energi  karena di waktu-waktu itu kita bisa tertidur yang mana merupakan bagian dari ibadah sekaligus pengisian energi, juga berfungsi nalar terutama logika dan estetis sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Yunani kuno yang memanfaatkan waktu luang untuk menciptakan banyak karya –karya hebat sebenarnya hal ini berlaku di peradaban lainnya.

Ketika saya menghadiri kuliah yang diberikan oleh Lufthie Assyaukaunie 2 tahun silam, tentang sejarah peradaban modern, beliau membuka seminar itu dengan menegaskan awal mula terciptanya banyak inovasi atau yang disebut moment eureka karena  adanya waktu santai,yang kalau sekarang kita identikkan dengan momen planga-plongo.

Puisi atau sesuatu yang puitis itu dicipta karena ada leisure time (waktu luang), entah itu sekedar for pleasure atau sesuatu yang lebih transenden.  Dalam masyarakat politik ,awal sejarah, yang beradab, pengkondisian untuk leisure time itu terpaksa membelah kelas sosial menjadi warga negara dan hamba/budak/non warga negara seperti pada masyarakat Yunani Kuno lalu menurun sampai sekarang.

Sebenarnya waktu luang bukanlah barang mewah yang hanya dinikmati para bos apalagi oligarkh, kita pun menciptakan waktu luang yang terbaik bagi diri kita sendiri namun ditengah zaman kapitalisme yang serba cepat biasanya waktu luang menjadi semakin mahal karena keterkondisikan oleh keadaan yang harus terus menerus mengejar produktifitas yang mirip-mirip dengan slogan bapak presiden ,”Kerja,kerja,kerja”.

Andai yang mengagas “Kerja, kerja,kerja” itu sempat menonton film Kalau Kungfu Hustle yan dibintangi Stephen Chow yang super jenaka itu, ada banyak jagoan kungfu yang  justru “menganggur”. Kungfu Hustle itu bercerita kalau kungfu itu ada di mana-mana, kungfu itu keramaian, kesibukan, keriweuhan.

Tapi ironisnmya Kapitalisme lanjut mencipta budaya riweuh, budaya sibuk, hustle culture, sehingga banyak orang terlihat sibuk, sok sibuk, padahal sebenarnya menganggur. Bayangkan, seorang yang sudah jadi rektor dengan puluhan ribu mahasiswa dan pegawai saja masih merasa perlu cari-cari kerja tambahan sebagai tuan komisaris. Yang membuatnya abadi di dunia maya sebagai public enemy (musuh masyarakat).

Tapi untunglah ada Pandemi covid19,ada hikmah dalam setiap kejadian begitulah petuah Lesti Bilaar, jadi memahaminya sebagai hikmah , mungkin dapat membantu kita menjalani budaya senggang, sebagai lawan dari hustle culture yang seolah satu-satunya saja kebudayaan yang secara deterministik harus kita terima sebagai nasib. Waktu luang lebih berharga, sebab waktu bukanlah uang. Kita bisa menarik konteks ini kepuasa , mari kita rebut waktu luang kita bukan sebatas untuk tidur saja namun menangkap inspirasi sekaligus melawan anggapan inspirasi mesti datang kalau kopi dan rokok sudah bertemu.