WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Meminjam definisi puasa dari Shah Waliyullah Al-Dihlawi tokoh pemikiran pembaruan teologi Islam. Menurutnya, “Puasa itu ibarat ‘tiryaq’ penawar bagi racun-racun setan (detoksifikasi spiritual). Dengan puasa anda memukul naluri kebinatangan (al-bahimiyah) yang mungkin selama ini menguasai diri anda (Hujjatullah al-Balighah)”.
Dalam terminologi ilmu fiqih kita mendapatkan salah satu pengertian puasa ialah “al-imsak” dari makan dan minum. Al-imsak dalam kontek filosfis kehidupan ialah menahan dari hal yang dilarang juga menahan pada sesuatu yang belum saatnya tiba. Sifat sabar, harus tertanam dalam aktivitas kehidupan untuk menahan segala bentuk larangan sampai saatnya tiba. Baik pada konteks pekerjaan, perkuliahan, karir serta pernikahan.
Pasang surut kehidupan sudah sunatullah. Tapi kita juga perlu menengok firman Allah SWT : “Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 26).
Tugas sebagai hamba untuk selalu memantaskan diri, agar masuk pada katagori orang-orang yang dikehendaki Allah SWT mendapat kerajaan, kebahagiaan, ketenangan. Tentu ajaran Islam sebagi nafas dalam menjalani kehidupan. Baik bermasyarakat dan bernegara. Tak lupa selalu diiringi dengan do’a, sebagai mawas diri betapa dhaifnya kita.
Belajar Pada Tokoh Progresif
Berbicara progresif, tidak lepas berbica kaum muda. Kata Tan Malaka, “Idealisme ialah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Lebih keras lagi, menurut Pramoedya Ananta Toer, “Pemuda kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”. Semoga idealisme serta keberanian terpatri pada kita dalam melintasi kehidupan.
Ya begitulah, kemewahan yang mesti dimiliki oleh kaum pemuda, bahkan Allah SWT mengabadikan kisah kaum muda dalam al-qur’an surat al-kahfi. Kaum muda yang berpegang teguh pada tauhid. “Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan.” (Fathul Baari 6/46). Buya Hamka juga pernah mengatakan, “Memang kegilaan itu ditakuti tetapi kadang-kadang kegilaan itu perlu untuk mengubah sejarah yang telah membeku”.
Satu lagi, kata Reonaldo Da Vinci. Seorang ilmuwan, penulis dan filsuf asal Italia pada masa renaisans. Kata Reonaldo, “Besi berkarat karena tidak dipakai. Air yang diam tidak bergerak akan kehilangan kejernihanya dan akan berbau busuk”. Sebuah tamparan bagi kaum muda, harus aktif terus bergerak. Apabila tidak bergerak akan kehilangan potensi yang tertanam pada diri kita. Kemajuan kearah perbaikan terus meningkat naik level ialah dambaan semua orang.
Kaum Progresif
Nabi Muhammad SAW, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, KH.Ahmad Dahlan, KH. Hasim Asy’ari, Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, dan sederet tokoh besar lainnya. Memiliki waktu yang sama iaitu 24 jam perhari, mampu melakukan hal besar juga bermanfaat besar. Kenapa kita tidak bisa!. Setidaknya seujung kuku kaum progresif itu, selalu memberikan manfaat pada kehidupan sekitar.
Lebih lanjut, kata Reonaldo Da Vinci, gunakan fasilitas kekuatan daya yang diberikan oleh Tuhan semaksimal mungkin. Jika tidak berarti berdosa, tidak memanfaatkan dengan baik fasilitas yang dititipkan Tuhan (akal, fikiran, paca indra). Selain berdosa pada Tuhan, berdosa pada sesama. Karena, seharusnya memberikan manfaat besar tetapi tidak karena acuh atau malas.
Dan ingat firman Allah SWT : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d : 11). Aktif dalam Islam upaya untuk selalu bergerak, tidak melihat hasil, semua dalam rangka bergantung pada Allah SWT dan sunatullahnya yang bekerja.
Al-imsak (menahan) dari segala yang dilarang dan sabar, harus satu tarikan nafas dalam menjalani kehidupan, menuju kebahagian (berbuka) waktunya tiba. Tak lupa selalu diiringi dengan berdo’a. Dan ingat, muda itu dikenal dengan keberaniannya, ketangkasannya, kelincahaannya, juga kekuatannya. Semoga sifat itu, terpatri kepada kita dalam rangka menebar manfaat pada sesama. Aamiin.
Wallahu A’lam.












