RAGAM  

Tarhib Ramadhan dengan Sosialisasi Edukasi dan Advokasi

Oleh: Dra. Nurhayati Wahidah,M.Pd.I (GPAI SDN2 Hajimena Natar)

Dra. Nurhayati Wahidah,M.Pd.I (GPAI SDN2 Hajimena Natar)

WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Ramadhan tahun 1443 H/tahun 2022M tinggal beberpa hari lagi. Ummat Islam seluruh dunia akan melakukan ritual satu bulan penuh, siang hari menahan lapar dan dahaga, malam hari menghidupkan dengan amalan mulia. Syariat puasa tidak saja pada ummat Nabi Muhammad Saw tetapi juga dilakukan oleh ummat terdahulu. Bahkan tradisi puasa juga dilakukan agama-agama besar dunia tentunya dengn cara yang berbeda. Dari praktek puasa beberapa agama didunia dapat dikatakan bahwaa etos yang terkandung dalam nilai-nilai puasa signifikan dengan pembentukan karakter menuju kesempurnaan kemanusiaan.

Pangkal ayat QS. Al Baqarah ayat 183 (yaa ayyuhalladziina aamanuu/hai orang-orang yang beriman) kewajiban puasa dibebankan kepada orang yang telah mencapai derajat keimanan, artinya syariat puasa adalah sesuatu yang berat yang hanya dapat dipikul oleh orang-orang yang yaqin dan memiliki komitmen atas keyakinannya. Rasulullah Saw memberikan tuntunan menyambut bulan Ramadhan agar saat ramadhan tiba ummat Islam telah siap lahir bathin menapaki amalan-amalan dengan semangat dan penuh harap. Pada bulan Sya’ban  Rasulullah Saw memperbanyak puasa sunnah, memperbanyak amal, doa dan mohon ampunan.

Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban sebagai warming up  bagi ummat islam agar dapat melakukan puasa tidak hanya secara lahir tetapi dapat mempersiapkan bathinnya, tidak sekedar dapat menahan haus dan lapar tetapi  juga dapat mengoptimalkan amalan-amalan Ramadhan lainnya  dan merefres daya pengendalian diri sebagai manusia agar setahun kemudian daya pengendalian diri dapat berfungsi secara sempurna menghadapi dinamikaa dunia yang penuh goda.

Idealnya  seluruh ummat Islam  bersuka ria menyambut bulan yang Agung dapat menikmati Karunia Allah Swt bernama Ramadhan yang didalamnya ada keutamaan kemuliaan dan lailatul Qadr, lebih baik dari seribu bulan. Tetapi faktanya sikap ummat Islam  terhadap Ramadhan  bervariasi, bahkan masih banyak yang mengingkari dengan tanpa rasa malu menunjukkan keingkarannya didepan umum. Maka perlu sosialisasi dan edukasi baik oleh perorangan komunitas maupun lembaga secara terus menerus tentang ramadhan dan hikmah syar’i yang terkandung didalamnya. Bahkan perlu juga advokasi hususnya bagi yang ingin berpuasa tetapi menghadapi kendala eksternal.

Kegiatan Tarhib Ramadhan (Songsong Ramadhan) merupakan sosialisasi yang bertujuan untuk membangkitkan dan menyadarkan kembali semangat menunaikan Rukun Islam ke empat. Disampaikan konsep dasar, landasan filosofis, kaifiyat puasa agar ummat dapat melaksanakan puasa dengan benar. Karena Puasa merupakan ibadah husus/ ibadah mahdhah yang pelaksanaannya cara dan aturannya telah ditetapkan secara rinci dan  qath’i berdasar Al Quran dan Sunnah Nabi saw.

Melalui Tarhib Ramadhan di viralkan hadits Nabi Saw  : ”manshaama ramadhaana imanan wakhtisaaban ghufiralahu maa taqaddama min dzanbih”/Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karna iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. (HR.Bukhari). “Setiap amalan anak Adam  adalah (pahala) baginya, kecuali puasa karna puasa itu untuk Ku dan akulah yang akan membalasnya”. (HR.Bukhari Muslim, Ibnu Majah,Ahmad Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban), “Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan yang akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat…”( HR.Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, Ibnu Majah).

Hadits yang terkait dengan ancaman bagi yang melanggar syariat puasa Ramadhan: “Siapa saja yang berbuka (tidak berpuasa) sehari saja di bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (keringanan atau alasan yang dibolehkan syara’) maka itu tidak cukup diganti dengan puasa satu tahun” (HR. Ibnu Majah). “Siksaan bagi orang yang meninggalkan puasa tanpa ada udzur adalah di gantung terbalik urat kaki sebagai ikatan, ujung-ujung mulut robek dan mengalirkan darah..”(Hadits Riwayat Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban, al Hakim dan al Baihaqi).

Penting juga  dalam kegiatan Tarhib ini diingatkan kepada yang masih memiliki hutang puasa untuk segera dibayarkan. Berdasarkan pengamatan dimasyarakat masih banyak yang memiliki hutang puasa tetapi tidak segera di bayar sementara Ramadhan segera tiba. Keluarga, ayah ibu  sangat berperan dalam urusan hutang puasa putra putrinya. Ayah Ibu yang faham berapa hutang puasa putra putrinya dan terus mengingatkan mensuport bahkan menyediakan sahur dan buka serta menemani puasa agar putra putri terbebas dari hutang puasa. Para Guru ustadz teman diluar keluarga hanya mengingatkan, ayah ibu dirumah yang mengambil peran.

Bagi ummat Islam yang sangat ingin berpuasa tetapi terkendala dengan tata tertib ditempat kerja, beban pekerjaan yang sangat berat atau hidup dilingkungn yang tidak taat ibadah, perlu perlakuan husus dalam bentuk advokasi baik oleh perorangan, komunitas maupun lembaga.  Kendala ditempat kerja dapat dilakukan pendekatan kepada pimpinan baik pendekatan personal maupun formal. Bagi  pekerja berat dapat dicarikan alternatif pekerjaan yang memungkinkan untuk melakukan puasa atau di backup sebagian kebutuhan hidupnya selama Ramadhan.

Kegiatan advokasi dapat dilakukan berbasis masjid/RT/Desa. Takmir masjid/penyuluh agama didesa/ormasy islam didesa/pemerintah desa bagian keagamaan dapat berkoordinasi mengidentifikasi  jamaah atau warga sekitar yang mengalami kesulitan melakukan ibadah puasa. Dana dapat diperoleh dari dana masjid, donatur, atau LAZIS.

Dengan kegiatan Tarhib Ramadhan: sosialisasi edukasi dan advokasi  akan mendorong ummat Islam menyambut  Ramadhan dengan gembira penuh semangat, dan melaksanakan amaliah didalamnya secara optimal. Yang bercukupan yang serba kekurangan saling Ta’awun dan saling menguatkan. Muncul kesadaran kolektif agar Ramadhan dapat dilaksanakan oleh siapapun. Meminimalisir ego personal, dapat beribadah dengan hidmat dan husyu’ sementara tidak peduli dengan saudaranya yang tidak dapat melakukan ibadah karena dipaksa oleh keadaan. Dan pada ahirya diharapkan tercipta suasana religius, masyarakat dapat berhidmat di bulan Ramadhan sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhannya sekaligus sebagai pengamalan Pancasila sila pertama. Hidup damai penuh ampunan dalam ketaatan dan keberkahan. Berkah yang melimpah, bukan saja untuk kaum muslimin tetapi juga melimpah kepada seluruh penduduk negeri dan alam raya ini. Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil aalamiin.

Oleh : Dra. Nurhayati Wahidah,M.Pd.I
(GPAI SDN2 Hajimena Natar)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)