RAGAM  

Uji Kompetensi Wartawan dan Era Disrupsi Informasi

Foto : Beni Yulianto

WARTAMU.ID, Lampung – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung baru saja selesai menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) angkatan ke 26. Saya termasuk salah satu peserta dalam UKW tersebut. Dari 36 peserta untuk jenjang Muda, Madya, dan Utama ada enam peserta yang dinyatakan tidak lulus UKW.

Dalam sesi pembukaan UKW ketua PWI Lampung Wirahadikusumah beberapa kali menyebutkan tentang disrupsi informasi. Ya, di era industri 4.0 ini, sebagai jurnalis pasti merasakan dampak dari disrupsi informasi. Dimana kekuatan media sosial ‘seakan’ menggilas media. Arus informasi tak bisa lagi dibendung. Melalui media sosial, siapa pun dan kapan pun bisa saja viral. Urusan benar atau tidak informasi tersebut, nomor 2. Hingga kemudian Informasi Hoaxs menjamur. Ini tantangan sekaligus peluang bagi pers. Pers yang bertransformasi ke era digital.

Kembali ke UKW. Saya mengakui telat sekali baru mengikuti UKW setelah lebih dari sewindu menjadi wartawan. Sempat beberapa kali pindah media, namun yang paling lama sekitar 8 tahun saya jalani kerja-kerja jurnalistik ketat di Koran Tribun Lampung. Koran lokal Kelompok Kompas Gramedia (KKG), yang memiliki platform media sendiri. Meski tak seketat kakak-nya Kompas, namun saya merasakan nuansa berbeda di sini. Terutama penerapan sistem digital.

“Sekarang era konvergensi, wartawan dituntut harus multi platform. Bukan saja bisa menulis, namun juga merekam peristiwa dengan baik melalui, foto dan video sekaligus.” Itu kerap saya dengar dari mentor saat bekerja. Sebisa mungkin, saya pun berupaya melaksanakan itu semua. Hingga nyaris tak ada waktu untuk sekadar ngalor-ngidul saat di lapangan. Sebelum berangkat liputan, berita pertama dimulai dengan informasi cuaca yang ada di sekitar tempat tinggal. Kemudian, melalukan liputan terencana, sambil mengejar proyeksi dari koordinator liputan.

Di lapangan, multi platform mulai dimainkan tepat setelah memarkirkan kendaraan. Live melalui media sosial seperti facebook, atau instagram, mengambil foto, mencatat, dan mewawancarai narasumber. Belum lagi berita harus real time. Diliput, diberitakan tepat saat acara berlangsung. Media Online memang berbeda jenis kelamin dengan media cetak, online adalah kecepatan, dan cetak adalah akurasi. Hal ini lah kemudian yang membuat tak ada waktu lagi untuk santai-santai.

Saya membayangkan, jika pada saat itu saya mengikuti UKW jenjang muda, maka 10 materi uji ini mungkin bisa saya kerjakan dengan gampang sekali. Tapi sekarang, kecepatan mengetik, apalagi mengetik di gadged, tak lagi selincah dulu. Meski demikian, selama materi uji masih seputar kerja-kerja jurnalistik dilapangan, saya tetap PD (percaya diri) untuk membereskannya.
Dari 10 materi UKW tingkat muda, saya sempat ragu di jejaring. Materi uji jejaring ini untuk menguji kepercayaan narasumber kepada wartawan. Peserta diminta menyerahkan 20 kontak narasumber, kemudian penguji menunjuk secara acak tiga narasumber untuk dihubungi. Logikanya, jika narasumber percaya dan kenal baik kepada wartawan tersebut maka ia akan mengangkat telepon. Atau paling tidak, segera menghubungi kembali setelahnya jika narasumber sedang sibuk.

Materi ini, menurut saya paling sulit selain menghafal kode etik jurnalistik, dan 12 pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA). Sulit, karena faktor kelulusan materi uji ini ditentukan juga oleh orang lain. Bagaimana jika narasumber yang sudah lama tak saya hubungi tiba-tiba sedang sibuk, masih mengikuti satu agenda atau sedang sakit. Tapi beruntung, dua nomor yang ditunjuk oleh penguji untuk saya hubungi langsung menjawab. Meski, saya tahu salah satu narasumber yang saya hubungi tengah sakit. Ia dengan sukarela menjawab, bahkan merekomendasikan saya sebagai wartawan kompeten.

Ada 10 materi uji UKW tingkat muda ini. Jika kita bekerja sebagai wartawan di satu perusahaan pers apalagi di media mainstream dengan infrastuktur SDM redaksi yang lengkap, menurut saya 10 materi uji ini bisa dilalui dengan mudah.

10 Materi uji itu, yakni uji kompetensi merencanakan/mengusulkan liputan/pemberitaan, mencari bahan liputan acara terjadual, wawancara tatap muka, wawancara cegat (doorstop interview), menulis berita, menyunting berita sendiri, menyiapkan isi rubrik, rapat redaksi, dan membangun jejaring. Terakhir namun yang menjadi materi pertama yakni mengenai Kode etik jurnalistik, dan pedoman pemberitaan ramah anak (PPRA).
Era Konvergensi

Setelah selesai mengikuti UKW ini, saya kemudian teringat kembali dengan sambutan ketua PWI Wirahadikusumah tentang disrupsi informasi. Era digital saat ini memaksa media massa juga mengalami transformasi. Era print beralih ke era digital. Media online mulai menjamur. Sebagai media massa online, maka kaidah penulisan dan selera berita pun banyak berubah mengikuti mesin pencari.

“Anda boleh saja hidup, tapi selama anda tak ditemukan google, anda tiada” narasi mengungkapkan betapa pentingnya mesin pencari di era digital ini. Beberapa rekan wartawan bahkan membuat anekdot sebagai ‘penyembah google”

Era tanpa batas, yang menjadi hambatan sekaligus peluang bagi pers nasional. Wartawan multi platform dituntut untuk bekerja cepat. Sehingga berita-berita di media online kemudian berubah mengikuti Search Enggine Optimization (SEO). Wartawan banyak yang berubah menjadi konten kreator. Membuat konten (juga berbentuk berita) yang sesuai selera SEO untuk media online.
“Seperti kata teori evalousi Charles Darwin, bukan yang paling kuat yang bertahan, tetapi yang paling cepat berubah atau menyesuaikan diri yang bertahan,” sebut Ketua PWI Lampung Wirahadikusumah dalam pembukaan UKW PWI Lampung.

Hal ini pun diamini oleh wakil rektor IIIB Darmajaya RZ Abdul Azis PHD yang menyebut transformasi digital merupakan peluang bagi pers. Pers yang seperti apa? Tentunya pers yang mampu menyesuaikan diri dengan era digital.

Sayangnya, dari 10 materi uji UKW tingkat muda ini saya tak menemukan materi digital. Artinya, konten kreator yang beririsan dengan kerja-kerja jurnalistik sebagai wartawan belum terakomodir di sini. Era industri 4.0 seharusnya pers tak lagi alergi atau menganggap konten kreator bukan lah wartawan. Justru, wartawan harus bertransformasi ke era digital dengan memproduksi konten/berita yang baik. Sesuai dengan selera SEO, namun tanpa mengangkangi kaidah jurnalistik.

Karena itu, menurut saya materi uji mengenai digital di era konvergensi media saat ini penting dilakukan. Sehingga dalam praktik di lapangan, media online yang menjadikan SEO sebagai rujukan membuat berita, selaras dengan kaidah jurnalistik.

Perketat UKW

Jujur saja, mulanya saya termasuk dalam barisan wartawan yang berpandangan, untuk apa sih UKW? Sudah bertahun-tahun menjadi wartawan, kok ikut UKW muda? Beberapa rekan wartawan yang jauh di bawah saya menjadi jurnalis, sudah ikut UKW wartawan utama.
Ada juga yang sinis menyebut, ada oknum wartawan yang mengantongi sertifikat Kompetensi Utama tapi menulis berita juga masih belepotan. Tapi, seperti kata pepatah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Akhirnya dengan keyakinan bulat, meski harus merogoh kocek sendiri (sebelumnya ada UKW yang gratis) saya yakin mendaftar UKW wartawan muda meski sudah tua.

Setidaknya, UKW ini sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan jurnalistik wartawan. UKW juga sebagai itikad baik organisasi pers untuk membenahi SDM, sebagai sarana pendidikan bagi wartawan.

Awak media menurut penulis harus sadar juga, ulah oknum yang mengatasnamakan wartawan di luar sana, ikut andil mencoreng nama baik pers Indonesia. Karena itu, uji komptensi bagi wartawan setiap tahun harus semakin ketat. Mengapa? Karena kita ingin pers yang bermutu, pers yang berkualitas, bukan kuantitas. UKW sebagai salah satu saring, juga dituntut untuk semakin memperketat saringannya. Sehingga setiap individu wartawan memiliki tanggungjawab sendiri. Saat akan naik jenjang, wartawan mulai instrospeksi diri sendiri. Menyadari dan memahami kemampuan sendiri di bidangnya.

Dengan demikan profesi pilar keempat demokrasi ini ke depannya juga semakin baik. Disamping menuntut kebebasan pers, UKW sebagai sarana tanggungjawab moral bagi pers dalam pembenahan SDM. Tabik Pun.

Penulis adalah wartawan, Saat ini tercatat menjadi kontributor di beberapa media seperti Bandarlampungpost.com, dan Sinarlampung.co.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *