Keturunan Adalah Anugerah

  • Bagikan
Childfree Bukan Pilihan (Gambar oleh Pete Linforth dari Pixabay)

WARTAMU.ID – Beberapa waktu ini jagat medsos sedang  viral dengan perbicangan tentang pasangan suami istri yang berkomitmen untuk tidak mempunyai anak (chilfree), hal tersebut muncul merespon pendapat seorang youtober sebagaimana tayang di kanal youtube Analisa Chanel bahwa  antara mereka yakni sebagai suami dan istri sudah  komitmen hanya ingin hidup berdua saja tanpa anak. Seorang artis mengungkapkan pernyataan senada yang tayang di kanal youtube The Hermansyah A6, artis ini menyatakan ketika menikah tidak mau melahirkan anak, dengan alasan masih banyak anak-anak telantar di luar sana, mengapa harus melahirkan anak sementara anak-anak terlantar itu tidak ada yang merawatnya.

Tentunya dalam pemahaman seorang muslim maupun sebagai warga negara hal ini merupakan pemahaman soal anak yang negatif, bagi seorang muslim haram hukumnya melakukan tindakan-tindakan yang membuat seseorang tidak dapat melahirkan anak secara permanen, Muhammadiyah melalui majelis tarjih memutuskan bahwa  pemahaman soal anak yang positif bukan pada tidak melahirkan anak sama sekali selama dalam kondisi normal, melainkan pada melahirkan anak yang berkualitas sehingga menjadi generasi terbaik, dengan menjaga jarak lahir.

Tujuan perkawinan

Sunantullah manusia diciptakan dengan berpasang-pasangan (QS.30:21), Sayyid Sabiq dalam Fiqh sunnah menyebutkan bahwa dilaksankannya pernikahan adalah suatu kefitrahan manusia, bahwa dengan dilaksanakan pernikahan menjaga harkat dan martabar manusia. Dengan adanya pernikahan perempuan tidak lagi menjadi alat pemuas hawa nafsu belaka, namun pernikahan membuat kedua suami dan istri menjadi mulia yakni terjaga kesucian jiwa dan raga. Dengan pernikahan itu pula dapat membentuk generasi penerus agar tidak terputusnya keturunan. Abdul Ghofur Anshori dalam bukunya “ Hukum Islam” di antara tujuan pernikahan harus di pahami ketika ingin melansungkan pernikahan, agar dapat menciptakan keluarga yang bahagia  adalah, bahwa pernikahan itu agar:

  1. Menghalalkan hubungan kelamin antara seorang pria dan wanita untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan (fitrah)
  2. Membentuk/mewujudkan suatu keluarga yang damai, tentam, dan kekal atas dasar kasih sayang, sakinah mawaddah warohmah.
  3. Memperoleh keturunan yang sah yang akan melangsungkan keturunan serta memperkembangkan suku-suku bangsa manusia.

Oleh sebab itu jelaslah bahwa tujuan pernikahan disamping menyatukan dua manusia yakni suami dan isteri, adalah agar lahirnya generasi yang menjadi penerus bagi kelangsungan hidup bagi keluarga, bahkan kelansungan manusia secara luas. Karenanya lebih jauh pernikahan dengan tujuan tidak ingin menghendaki anak dapat dikategorikan cara atau komitmen yang menyalahi Maqāid Syarī’ah atau tujuan syariat itu sendiri, yang memelihara dan mejaga keturunan ( hifdz nasl ). Sebagaimana imam Al- Ghazali menyebutkan termasuk salah satu kebutuhan dasar yang urgent (daruriyat ) adalah terjaganya keturunan.

Anak Anugerah Terindah

Mengutip sebuah perjalanan dan usaha maksimal untuk mendaptakan seorang anak, dari salah satu pasangan artis tanah air. Yang menceritakan seluruh proses dan usaha mereaka agar dapat melahirkan anak dalam kanal you tobe The Sungkar Family. Kurang lebih sudah sembilan tahun usia pernikahan namun belum juga ada buah hati mereka. akahirnya mereka ikhtiar dengan cara program hamil bayi tabung. Dengan seluruh proses yang panjang dan melelahkan maka tibalah waktu kebahagian terdengar, kabar bahwa artis tersebut hamil dan berhasil dengan program bayi tabungnya, isak tangis menggema rasa bahagia dan haru bersatu, tentunya tidak perlu ditanya biaya yang dikeluarkan, karena semuanya terbayarkan saat melihat kelahiran seorang bayi lucu sebagai sebuah rintihan dalam setiap doa dan sujud disepertiga malam mereka. Al-Qur’an juga telah menceritakan hal serupa keluarga Nabi Zakaria yang diabadikan dalam surah Maryam, juga meyiratkan pelajaran betapa pentingnya kelahiran generasi untuk meneruskan keturunan keluarga Nabi Zakaria, yang sangat ingin melahirkan anak tetapi istrinya mandul, namun kemudaian Allah memenuhi hajat Nabi Zakaria untuk dapat mempunyai anak yang lahirlah seorang anak yakni Nabi Yahya AS, serta anak perempuan suci yang dititipkan pemeliharaannya kepada Nabi Zakaria AS, bernama Maryam yang kelak melahirkan Nabi Isa AS. Al-Qur’an sebagai pelajaran itu juga mengabadikan kisah Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam (QS. 37:101), namun setelah berusaha dengan maksimal serta berdoa memohon kepada Allah, akhirnya lahirlah anak pertama mereka sersama Siti Hajar ketika usianya menginjak usia 86 tahun sebagaimana disebutkan oleh ibnu katsir dalam tafsirnya.

Selain kisah jalan Panjang mereka yang menginginkan anak, harus dipahami bahwa anak adalah anugerah terindah karena tersebut dalam sebuah hadis “seluruh amal anak adam terputus kecuali tiga hal di antaranya anak yang salih yang mendoakan orangtuanya” ( HR.Muslim). Ini berarti anak adalah asset bagi kedua orangtuanya, baik di dunia dengan prestasi dan perilaku baiknya ketika diberikan pendidikan yang terbaik dan asset ketika orangtua menjumpai ajalnya, anaklah yang akan menyambung silaturahim serta mendoakan orangtuanya. Al-Qur’an mengisyaratkan seorang anak bersikap, berbakti dan menaati kedua orangtuany, serta bagaimana orangtua mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi bertaqwa. Hal ini dapat diwujudkan tentunya dengan adanya anak atau keturunan. Melihat bebarapa contoh kisah di atas, maka hemat penyusun sungguh pemikiran dan logika yang sempit sekaligus kerdil ketika ada pasangan suami berkomitmen untuk tidak punya anak padahal diberikan kemudahan untuk mendapatkanya. Maka perlu untuk mengambil pelajaran dan petiklah hikmah dari Al-Qur’an dan apa-apa yang kita lihat dengan mata disekitar kita, agar ada rasa syukur serta tidak berpendapat kosong tanpa pengetahuan, yang acap kali hanya kehendak hawa nafsu insani.

Jangan takut untuk punya anak

Ketakutan untuk punya anak sebagaimana dilihat dari ungkapan mereka yang memilih berkomitmen untuk tidak mempunyai anak adalah terkait kesiapan ekonomi dan kesiapan mental suami dan istri padahal Allah menjamin “ dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin, Kamilah yang memberi rezeki kepada merek dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar” ( QS. 17:31). Dalam ayat lain Allah juga menjamin “ dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya” ( QS. 11: 6).

Demikian tulisan yang singkat ini semoga membuka wawasan akan pentingnya generasi penerus bagi keluarga, agama, bangsa dan negara serta penerus kehidupan manusia.

Oleh : Megi Saputra

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)

 581 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *