RAGAM  

Rajin Sholat tapi Pahalanya Bisa Gugur Seketika, Kok Bisa?

Ilustrasi Gambar Pixabay

WARTAMU.ID, Jakarta – Ada satu perbuatan dosa yang sangat tercela dalam Islam. Hukumannya bahkan disebut dapat menghapus seluruh pahala kebaikan yang pernah dikerjakan sebelumnya, meskipun pelaku adalah orang yang rajin dalam sholatnya. Apa itu? Dikutip dari detik.com

Perbuatan dosa yang dimaksud adalah ghibah atau bergunjing. Penjelasan mengenai perbuatan ghibah ini pun telah diterangkan dalam Al Quran maupun sabda Rasulullah SAW. Salah satunya dalam hadits berikut ini,

إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Artinya: “Jika benar ada padanya apa yang engkau katakan itulah yang namanya ghibah. Dan jika sekiranya apa yang engkau katakan tidak ada pada saudaramu, itu namanya fitnah.” (HR. Muslim).

Secara umum, ghibah dalam ajaran Islam adalah perbuatan yang sangat tercela. Pasalnya, orang yang digunjingkannya tidak hadir dan terlibat dalam perbincangan sehingga yang bersangkutan tidak bisa membela diri. Sebagaimana dikutip dari “Ghibah: Sumber Segala Keburukan” oleh Shakil Ahmad Khan dan Wasim Ahmad.

Belum lagi bila perbuatan ini dilakukan setelah melaksanakan sholat bersama teman atau kerabat. Melalui dakwah yang disiarkan oleh channel YouTube Audio Dakwah, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan hukuman dari para pelaku ghibah dalam Islam.

Menurut penuturannya, pahala sholat dari para pelaku ghibah akan dipindah untuk orang yang digunjingkan tersebut. Ustaz yang kerap disapa UAH ini mengambil contoh tiga muslim yang sedang menggunjingkan teman mereka seusai sholat.

“Tiga orang sholat nih, begitu selesai ngobrolin orang. Ngobrolinnya dengan sifat buruk atau mengghibahkan. Maka pahala tiga orang itu dipindahkan ke orang yang dicaci seketika,” ujar UAH, sebagaiman dikutip dari siaran YouTube bertajuk ‘Ngeri, Rajin Shalat Tapi Suka Menggosip. Ibarat Orang Makan Bangkai’, Kamis (18/11/2021).

Terlebih, ustaz sekaligus pendiri Quantum Akhyar Institute ini menggambarkan kondisi muslim yang pahalanya sudah terkuras habis akibat perbuatan-perbuatan dosanya. Ghibah yang dilakukannya di kemudian hari, kata UAH, akan digantikan dengan keburukan dari orang yang digunjingkannya tersebut.

“Kalau udah habis kebaikannya, masih dzolimi orang? Maka diambil keburukan orang yang didzolimi ini, ditimpakan ke orang ini. Untuk menambah keburukan dan siksa neraka di akhirat,” papar dia.

Untuk itu, kata UAH, tiap amalan kebaikan yang dilakukan perlu disertai dengan adab. Sebab, tanda sebuah amalan diterima juga terlihat dari adab yang dilakukan seseorang.

“Tanda adab itu adalah tanda penerimaan dari amalan. Jikalau ada seseorang beramal kemudian tidak beradab, itu tandanya amalnya tidak diterima,” kata dia.

“Bagaimana seorang yang pahalanya diambil, bisa dikatakan diterima ibadahnya? Jadi amal tidak diterima, diambil pahalanya, dan diberikan kepada orang yang didzalimi (orang yang digunjingkan) itu,” tambah dia lagi.

UAH juga menyinggung salah satu dalil Al Quran surat Al Hujurat ayat 12 yang menyebut bahwa perbuatan ghibah setara dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Ini bunyi bacaannya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

UAH menafsirkan ayat di atas bahwa setiap kalimat yang dilontarkan pelaku ghibah, kalimat-kalimat tersebut akan membentuk sebuah bangkai dari orang yang digunjingkannya. Sebagai ganjaran, kata UAH, Allah SWT akan menghukum pelaku ghibah untuk memakan bangkai tersebut di hari akhir kelak.

“Selain menghilangkan pahala, setiap kalimat itu akan membentuk bangkai wujud orang yang tadi dibicarakan. Kalau tidak taubat, maka siksanya di akhirat nanti diminta untuk memakan bangkai yang disebutkan tadi. Awas hati-hati,” tandasnya.

Ternyata, hukuman dari para pelaku ghibah ini tidak main-main ya, detikers. Semoga kita semua bisa terhindar dari perbuatan tercela ini ya. Aaamiin.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *