WARTAMU.ID Sumenep Majlis Langgarra Ate menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 berdirinya majlis. Kegiatan yang dikemas dalam Pengajian Akbar tersebut berlangsung meriah dan dihadiri ribuan jamaah serta paguyuban masjid dan majlis se-Kecamatan Talango.
Meski digelar dalam suasana penuh antusiasme, Majlis Langgarra Ate tetap mempertahankan konsep klasik yang menjadi identitasnya sejak awal berdiri. Kesederhanaan, tradisi keagamaan, pembacaan shalawat, qasidah klasik, serta kebersamaan jamaah menjadi bagian utama dalam rangkaian kegiatan.
Konsep tersebut menjadi pembeda di tengah perkembangan zaman yang cenderung menempatkan kemeriahan dan kemasan modern sebagai daya tarik utama. Bagi Majlis Langgarra Ate, kemeriahan tidak harus diwujudkan melalui kemewahan, tetapi melalui kebersamaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Syaiful Barri Ketua Majlis Langgarra Ate menegaskan, perjalanan sembilan tahun bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen menjaga tradisi keagamaan dan silaturahmi masyarakat.
“Kami sengaja tidak mengubah wajah majlis ini menjadi serba modern. Kami ingin menjaga keaslian yang diajarkan para ulama dan leluhur. Kemeriahan bukan pada gemerlap, tetapi pada hati yang berkumpul karena cinta kepada Baginda Nabi,” ujarnya
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an, dilanjutkan shalawat Nabi dan lantunan qasidah-qasidah klasik yang berlangsung khidmat. Suasana tersebut membuat ribuan jamaah larut dalam nuansa religius yang sederhana namun penuh makna.
Dalam Pengajian Akbar, materi yang disampaikan menitikberatkan pada keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin,khususnya dalam membangun akhlak, menjaga persaudaraan, serta mempertahankan tradisi keagamaan yang baik.
Selain memperingati Maulid Nabi, momentum HUT ke-9 juga diisi doa bersama untuk keberkahan Majlis Langgarra Ate, keselamatan masyarakat, serta kemajuan umat.
Antusiasme jamaah terlihat sepanjang kegiatan. Kehadiran anak-anak, remaja hingga orang tua menunjukkan bahwa tradisi keagamaan yang dikemas secara sederhana masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.
Bagi jamaah, suasana yang dibangun Majlis Langgarra Ate justru menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan ketenangan dan kekhusyukan.
“Suasananya tenang dan menyejukkan. Tidak berlebihan, tetapi justru terasa kebersamaannya,” ungkap salah seorang jamaah.
Sembilan tahun perjalanan menjadi bukti bahwa Majlis Langgarra Ate tidak hanya berupaya menjadi ruang dakwah, tetapi juga menjaga tradisi religius yang diwariskan para ulama dan leluhur.
Melalui peringatan Maulid Nabi dan HUT ke-9 ini, Majlis Langgarra Ate menegaskan komitmennya untuk terus bergerak dalam dakwah, mempererat silaturahmi, serta mempertahankan konsep sederhana dan klasik yang menjadi jati dirinya.












