RAGAM  

Muhammadiyah Klarifikasi Hukum Pemakaian Tato: Haram Berdasarkan Fatwa Terbaru

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Yogyakarta – Tersebar informasi bahwa Muhammadiyah membolehkan pemakaian tato. Klaim ini berdasarkan buku Tanya Jawab Agama jilid 8 yang menyebutkan bahwa tato termasuk mubah karena masuk dalam kategori perhiasan, tetapi haram apabila berakibat negatif seperti merusak iman dan akhlak. Namun, definisi tato dalam fatwa tersebut masih belum jelas. Tato jenis apa yang dibolehkan?

Ketidakjelasan ini disempurnakan dalam kolom Tanya Jawab Agama di Majalah Suara Muhammadiyah edisi ke-15 awal Agustus 2023. Dalam fatwa ini, definisi tato diambil dari pernyataan Stacie J. Beckercor dan Jeffrey E. Cassisi, yaitu tato didefinisikan sebagai masuknya pigmen eksogen ke dalam dermis, menghasilkan tanda permanen.

Definisi dan Risiko Tato

Dalam bahasa Arab yang dikutip dari situs Almaany, tato disebut dengan “al-wasym” yang berarti memaksukkan sebuah jarum ke dalam kulit lalu dimasukkan padanya zat (cairan tinta) khusus, kemudian dibuat gambar-gambar atau garis-garis dengannya.

Fatwa ini juga menyebutkan beberapa risiko negatif dalam memakai tato, salah satunya tersebarnya virus HIV melalui pori-pori kulit. Data penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penularan HIV melalui aktivitas bertato berkisar antara 2%-56%. Karenanya, Kementerian Kesehatan menyarankan untuk setiap orang yang baru saja memakai tato melakukan screening HIV.

Dalil Hukum Pemakaian Tato

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan hukum memakai tato, di antaranya:

  1. Hadis dalam Sahih Al-Bukhari: Diriwayatkan dari Alqamah, Abdullah mengatakan Allah melaknat orang yang menato dan orang yang meminta ditato (HR. Al-Bukhari).
  2. Hadis dalam Sahih Al-Bukhari dan Muslim: Rasulullah SAW bersabda: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut, perempuan yang meminta disambungkan rambutnya, dan perempuan yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
  3. Hadis Sunan at-Tirmidzi: Rasulullah SAW bersabda: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang meminta disambung rambutnya, perempuan yang menato dan yang meminta ditato (HR. at Tirmidzi).

Kesimpulan Fatwa Muhammadiyah

Menurut tim Divisi Fatwa Tarjih, kedua hadis di atas tidak hanya diperuntukkan bagi perempuan, tapi juga berlaku bagi laki-laki. Sehingga baik laki-laki maupun perempuan tidak diperkenankan membuat tato. Hal ini dipahami dari ungkapan “laana” yang artinya melaknat. Dalam kaidah disebutkan bahwa hukum asal dari larangan adalah haram.

Dengan mempertimbangkan dalil burhani dari penelitian kesehatan dan dalil-dalil yang membahas tentang tato, tim Fatwa Majelis Tarjih menyimpulkan bahwa membuat tato hukumnya haram atau tidak boleh.

Langkah Bagi Muslim yang Sudah Bertato

Apabila seorang muslim sudah terlanjur memakai tato, maka diperkenankan untuk:

  1. Banyak Istighfar: Memohon ampun kepada Allah.
  2. Ketaatan kepada Allah: Tetap senantiasa melakukan ketaatan tanpa harus terbebani dengan adanya tato di tubuh.
  3. Menghilangkan Tato: Jika dapat menghilangkan tato tanpa menimbulkan kemudaratan, maka boleh dilakukan.

Dengan demikian, penting bagi umat Muslim untuk memahami dan mematuhi fatwa ini agar tetap berada dalam jalur yang sesuai dengan syariat Islam dan menjaga kesehatan serta akhlak mereka.

Referensi

Majalah Suara Muhammadiyah edisi ke-15 awal Agustus 2023.