Peran Radio dari Masa ke Masa

  • Bagikan
Ilustrasi Radio (Foto : Pixabay)

WARTAMU.ID – Meski tidak memenuhi kebutuhan masyarakat akan visual, namun radio tetap menjadi media yang tak lekang oleh zaman. Alat komunikasi ini menjadi salah satu media yang bisa dinikmati penuh sembari beraktivitas, dikutip dari kemenparekraf.go.id

Walaupun awalnya kemajuan teknologi membuat banyak orang pesimis radio mampu bertahan hingga abad 21, data berkata sebaliknya. Radio masih eksis dan digemari masyarakat hingga saat ini.

Menurut data Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia 2020/2021, televisi dan radio mengalami pertumbuhan sebesar 10,42% pada 2020. Meski akhirnya subsektor ini mengalami pukulan telak akibat pandemi COVID-19, namun angka tersebut cukup memberikan harapan akan masa depan radio di Indonesia.

 Tak Lekang Oleh Zaman

Industri radio di Indonesia mengalami masa keemasan pada era 1980-1990. Pada periode ini radio memiliki beragam program favorit yang sangat eksis di telinga pendengar. Di tahun-tahun tersebut drama radio merupakan salah satu program yang paling ditunggu-tunggu.

Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai beralih ke siaran visual melalui televisi. Ditambah hadirnya internet, diprediksi semakin membuat radio tertinggal jauh. Kendati demikian prediksi ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Pengguna radio memang perlahan menurun, namun data Nielsen Radio Audience Measurement kuartal ketiga 2016 menunjukkan waktu mendengarkan radio per minggu bertumbuh dari tahun ke tahun.

Menurut survei tersebut diketahui jika pada 2014 pendengar radio menghabiskan waktu untuk mendengarkan radio selama 16 jam per minggu. Sedangkan pada 2015 mengalami kenaikan, yakni 16 jam 14 menit, dan pada 2016 kembali naik menjadi 16 jam 18 menit per minggu.

Hasil temuan Nielsen juga menunjukkan hingga kuartal ketiga 2016 terlihat bahwa 57% dari total pendengar radio berasal dari Generasi Z dan Milenial. Banyaknya pendengar dari dua kalangan ini memberikan harapan besar bagi radio di Indonesia. Pasalnya, kedua kelompok usia ini disebut sebagai masa depan yang akan membuat radio tetap eksis.

Ya, prediksi tersebut belakangan terbukti terbukti. Data terbaru temuan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel), yang dirilis Nielsen Media Indonesia pada 2019 menunjukkan, total belanja iklan radio mencapai Rp1,7 Triliun.

Malah selama pandemi ini, pendengar radio konvensional justru meningkat tajam sebanyak 4 juta pendengar. Bagi Viliny Lesmana, Vice Director untuk KG Radio Network, peningkatan ini terjadi karena adanya perubahan perilaku manusia selama pandemi.

“Berdasarkan data dari Nielsen memang menunjukkan adanya peningkatan pendengar radio konvensional dari 13 juta menjadi 17 juta orang di wilayah Jakarta Raya. Mungkin ini karena kondisi yang di rumah saja, jadi bosan di rumah dan mereka bosan yang sudah ada, seperti TV dan YouTube. Terjadi perubahan pola konsumsi radio saat ini,” kata Viliny Lesmana yang akrab disapa Vivi.

Dalam survei ini disimpulkan jika radio masih menjadi media pilihan pemerintah dan partai politik untuk beriklan. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi kunci utama industri kreatif radio bertahan hingga era internet saat ini.

Tidak berhenti di sana, radio juga memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi kreatif di masa pandemi COVID-19. Radio dapat memenuhi upaya edukasi bagi masyarakat melalui sajian konten yang mencerahkan.

Radio juga masih relevan untuk dijadikan media iklan berbiaya terjangkau bagi industri kreatif. Bahkan, selama pandemi konten-konten layanan masyarakat terkait edukasi protokol kesehatan COVID-19 juga disampaikan melalui radio. Wajar, karena radio bisa kita dengarkan dengan mudah di mana saja dan kapan saja.

Ilustrasi Foto : Pixabay

Vivi menambahkan, fleksibilitas pada radio juga sangat bisa dimanfaatkan untuk membantu industri kreatif di Indonesia. Radio masih sangat menjanjikan sebagai media promosi bagi para pelaku industri ekonomi kreatif. Apalagi sekarang radio juga mulai melebur dengan streaming platform musik digital sehingga bisa menjangkau audiens lebih luas lagi.  Vivi berharap radio bisa terus berperan serta memberikan kontribusi sebesar-besarnya untuk membantu komunitas di industri ekonomi kreatif yang bisa mendorong pemulihan ekonomi negara ini.

“Saat ini ada ratusan radio di Jakarta dan ada ribuan totalnya di Indonesia. Bayangkan jika semua radio bisa mengoptimalkan fleksibilitasnya sebagai media promosi, berapa banyak teman-teman UMKM yang akan terbantu. Radio juga bisa menyebarkan semangat yang bagus untuk menyebarkan rasa optimisme ke seluruh pendengar di berbagai daerah,” ungkap Vivi.

 Radio dari Masa Ke Masa

Radio punya peran besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Sejarah awal mula radio di Indonesia dimulai pada 1925 di Batavia (kini Jakarta). Hal ini ditandai dengan berdirinya _Batavia Radio Vereeniging (_BRV). Meski tidak terlalu besar, namun BRV lantas mendorong pendirian sejumlah radio.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, muncul Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NROM). Radio milik Pemerintah Hindia Belanda yang kini berubah nama menjadi Radio Republik Indonesia (RRI). Radio memegang peranan penting dalam upaya pertahanan kemerdekaan Indonesia. Berkat radio, pidato-pidato heroik dari Bung Tomo menggelorakan semangat juang melawan sekutu kala itu.

Hingga Indonesia merdeka, radio terus menemani perjalanan masyarakat dalam mendapatkan informasi yang faktual dan terpercaya. Radio dijadikan pemerintah untuk menyampaikan informasi-informasi penting pada era orde lama dan orde baru.

“Masa kejayaan radio itu terjadi pada tahun 70-an yang saat itu menjadi satu-satunya media iklan. Kenapa? Karena radio konsepnya adalah menemami. Sehingga, ketika radio hadir, pendengar merasa ditemani. Radio juga termasuk media yang ‘murah’ karena tidak perlu banyak peralatan atau perangkat khusus,” papar Vivi

“Dan radio juga bisa dikonsumsi di manapun dan kapanpun. Sekarang ini, kondisi digital sedikit banyak mengubah “budaya” radio. Dulu, penyiar tidak perlu memusingkan penampilan fisik. Nah, sekarang semua itu berubah dengan masuknya model tayangan radio streaming di YouTube atau IG Live. Kini penyiar radio tidak hanya bermodal mikrofonis atau suara yang enak didengar saja, tapi juga dari segi penampilan. Apalagi kalau ada talk show offline yang juga memerlukan penampilan yang baik karena akan ditayangkan,” tambahnya.

 Revolusi Siaran Radio dari Analog ke Digital

Pada awal 80an dan 90an, penggunaan radio analog ini sangat masif. Pada dasarnya teknologi analog memanfaatkan gelombang elektromagnetik dalam mengirimkan sinyal. Namun semakin pesatnya perkembangan teknologi, radio turut melakukan inovasi. Sistem radio kini beralih ke siaran radio digital. Teknologi ini menyalurkan informasi melalui sinyal digital.

“Kalau dari data di KG Radio Network, pendengar radio secara streaming naik sampai 70% dan ini karena pandemi. Lewat kondisi ini, radio bisa menyambut era digital dan sangat memberikan dampak positif. Karena kalau hanya secara konvensional, radio memiliki batasan jangkauan, yaitu 20 Km. Dengan adanya streaming, radio sangat terbantu untuk lebih mudah diakses dari mana saja,” pungkas Vivi.

Vivi berbagi cerita dari salah satu pendengar di Ukraina yang sangat terbantu dengan adanya radio streaming ini. Pendengar itu sangat menyambut baik kehadiran radio streaming karena dia bisa mengetahui situasi terbaru di Indonesia. “Radio streaming jadi bisa menembus ruang dan waktu. Tidak ada batasan lagi. Radio bisa menemani mereka, pendengar di luar Indonesia sekalipun, dalam berbagai keadaan,” kata Vivi.

Revolusi siaran radio dari analog ke digital memberikan keuntungan tersendiri bagi pendengar. Pasalnya, dari segi kualitas radio digital tentu lebih baik dibandingkan radio analog. Suara yang dihasilkan radio digital juga tahan dari gangguan (noise) gelombang radio lainnya. Karena itu, pendengar mendapatkan suara siaran yang lebih jernih dan lebih hemat biaya.

Selain itu, radio digital juga biasanya lebih mudah untuk disesuaikan. Pengguna tidak perlu mengutak-atik radio analog. Radio digital memudahkan pengguna untuk menjeda, mempercepat, atau justru menyimpan suatu siaran radio. Bahkan, kini radio juga bisa didengarkan melalui smartphone yang selalu ada di genggaman.

Di sisi lain, sekarang ini banyak sekali platform musik digital atau music on demand yang sedang naik daun. Namun menurut Vivi hal ini bukanlah saingan bagi radio karena keduanya memiliki konsep yang berbeda sejak awal. Ketika mendengarkan podcast, pendengar hanya ingin mencari informasi yang ingin dia dengar. Sementara ketika mendengarkan radio, ada interaksi yang terjadi dan tidak monoton.

“Setiap platform memiliki nature yang berbeda-beda. Podcast menyentuh hal yang tidak bisa disentuh melalui siaran radio. Sementara, radio memberikan interaksi melalui obrolan antara penyiar dan pendengarnya dan yang disajikan juga beragam, ada musik ada obrolan, ada informasi berita dan lainnya,” ungkap Vivi.

Vivi mengaku optimis bahwa radio akan tetap eksis karena masih dibutuhkan oleh pendengarnya. Sebenarnya Indonesia bisa dibilang sebagai pendengar radio yang cukup banyak. Jumlah radio di Eropa, Amerika dan ASEAN bahkan tidak sebanyak jumlah radio di Jakarta sendiri. Tinggal bagaimana industri radio harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi jika ingin bertahan dan tetap eksis.

“Radio kini tidak hanya audio, tapi juga visual. Bagaimana radio harus bisa memanfaatkan berbagai media sosial adalah kunci untuk mempertahankan eksistensi. Jangan menolak teknologi, tapi jadikan teknologi dan digital justru sebagai teman dan sebagai cara untuk terus berkembang” tutup Vivi di akhir wawancaranya.

 642 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.