Wartamu.id Sumenep Menjelang puncak keberangkatan ibadah haji,fakta mencolok muncul dari data terbaru Calon Jamaah Haji (CJH) Kabupaten Sumenep. Dari total 1.355 jamaah yang akan diberangkatkan, sebanyak 805 orang atau lebih dari separuhnya masuk kategori berisiko tinggi.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras bagi seluruh pihak terkait. Tingginya jumlah jamaah rentan memperlihatkan bahwa tantangan penyelenggaraan haji tahun ini tidak hanya soal teknis keberangkatan, tetapi juga menyangkut kesiapan fisik jamaah yang berada dalam kondisi tidak ideal.
Data tersebut terungkap dalam rapat koordinasi antara Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Sumenep,Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Sumenp,serta Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, H. Achmad Syamsuri, mengakui bahwa kondisi ini menjadi perhatian serius lintas sektor.
“Sebanyak 805 calon haji masuk kategori berisiko tinggi. Ini bukan angka kecil, dan tentu menjadi fokus utama kami dalam memastikan kesiapan mereka,” ujarnya,
Mayoritas jamaah berisiko tinggi didominasi kelompok lanjut usia dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, hingga gangguan jantung kombinasi kondisi yang berpotensi memicu komplikasi serius di tengah padat dan ekstremnya aktivitas ibadah haji.
Situasi ini menuntut lebih dari sekadar pelayanan standar. Pengawasan ketat dan pendampingan intensif menjadi keharusan, bukan pilihan.
“Kebanyakan adalah jamaah lansia dengan komorbid. Karena itu, pengawasan harus ekstra, tidak bisa disamakan dengan jamaah reguler,” tegasnya.
Sebagai respons, Dinkes bersama panitia haji memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan jamaah berisiko tinggi mendapat prioritas layanan. Namun, efektivitas langkah ini akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan.
Upaya mitigasi juga dilakukan melalui skrining berlapis, termasuk pemeriksaan akhir H-7 sebelum keberangkatan di masing-masing puskesmas. Tahap ini menjadi penentu krusial apakah jamaah benar-benar layak terbang atau justru harus ditunda demi keselamatan.
“H-7 akan dilakukan skrining terakhir. Ini penting untuk memastikan kondisi jamaah benar-benar siap,” jelasnya.
Dengan komposisi jamaah yang didominasi kelompok rentan, penyelenggaraan haji tahun ini menjadi ujian nyata bagi kesiapan sistem layanan kesehatan daerah. Kelalaian sekecil apa pun berpotensi berujung pada risiko besar di Tanah Suci.
Di tengah situasi ini, sinergi antara pemerintah daerah, tenaga medis, dan panitia haji bukan lagi sekadar formalitas koordinasi, melainkan garis pertahanan utama demi memastikan seluruh jamaah dapat berangkat, beribadah, dan kembali dalam kondisi selamat.
*****












