DAERAH  

Pelestarian Budaya Madura Lewat Film, Dosen UNIBA Madura Teliti Representasi Identitas Lokal dalam Media Populer

Foto Bersama Warek II,Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Bersama Per wakilan Dosen FIK dan Para Juri Serta Para Mahasiswa FIK UNIBA Madura(Doc.Wartamu.id)

WARTAMU.ID Sumenep – Upaya pelestarian budaya Madura melalui media audiovisual terus diperkuat kalangan akademisi. Salah satunya diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) bertajuk “Representasi Identitas Budaya Madura dalam Film dan Media Populer: Analisis Semiotika dan Konstruksi Makna Visual” yang digelar di Kabupaten Sumenep.

Kegiatan yang diinisiasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura tersebut menjadi ruang akademik untuk mengkaji bagaimana identitas budaya Madura direpresentasikan dalam film dan media populer, sekaligus menelaah berbagai makna visual yang dibangun melalui karya-karya sinematik lokal.

Penelitian ini diketuai Bondan Dewabrata dengan anggota tim Ridy Sulhana dan Supriadi. Melalui riset tersebut, tim peneliti berupaya mengidentifikasi simbol, tanda, serta konstruksi visual yang membentuk citra budaya Madura di ruang publik dan media massa.

FGD melibatkan mahasiswa dan Komunitas Film Ginok yang selama ini aktif memproduksi film bertema lokal. Sebanyak 15 karya film hasil produksi mahasiswa dan kolaborasi komunitas menjadi objek kajian awal penelitian.

Berbagai film yang dipresentasikan mengangkat beragam wajah kehidupan masyarakat Madura, mulai dari tradisi, nilai sosial, kearifan lokal, hingga dinamika budaya yang dikemas melalui pendekatan sinematografi modern.

Untuk menjaga objektivitas penilaian, seluruh karya terlebih dahulu diseleksi oleh dewan juri yang memiliki kompetensi di bidang budaya, komunikasi visual, dan akademik. Dari 15 film yang masuk, dipilih 10 karya terbaik untuk dibahas secara mendalam dalam forum diskusi.

Selanjutnya, tujuh film terbaik akan ditetapkan sebagai sampel utama penelitian. Film-film tersebut akan dianalisis menggunakan pendekatan semiotika guna mengungkap representasi budaya Madura serta konstruksi makna visual yang hadir dalam setiap adegan, simbol, maupun narasi yang ditampilkan.

FGD menghadirkan sejumlah narasumber dan juri berpengalaman, di antaranya Farhan dari Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sumenep, R. Khaeru Ahmadi selaku Wakil Rektor II UNIBA Madura sekaligus dosen pengampu mata kuliah Madura Culture dan Philosophy of Science, serta Deny Feri Suharyanto, dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Wiraraja.

Melalui forum tersebut, para peserta tidak hanya menilai kualitas teknis film, tetapi juga mendiskusikan sejauh mana karya-karya tersebut mampu merepresentasikan identitas budaya Madura secara autentik, kritis, dan relevan dengan perkembangan media populer saat ini.

BACA JUGA :  IMM Malang Raya Gelar Dialog Hijau: Angkat Isu Sampah Plastik dan Tanam Komitmen untuk Lingkungan

Tim peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memperkaya khazanah kajian budaya Madura sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak karya film lokal yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga berfungsi sebagai media pelestarian dan penguatan identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi.

Sementara itu, Wakil Rektor I UNIBA Madura, Budi Suswanto, memberikan apresiasi atas terselenggaranya FGD yang merupakan bagian dari program Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP).

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang tetap berpijak pada akar budaya lokal.

“Fakultas Ilmu Komunikasi harus terus berkarya dan menghasilkan berbagai produk audiovisual yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga mampu menjadi media pelestarian budaya Madura,” ujar Budi Suswanto.

Ia menilai penelitian mengenai representasi identitas budaya Madura dalam film dan media populer memiliki nilai penting karena mampu mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.

Lebih jauh, Budi menegaskan bahwa pengembangan karya audiovisual berbasis budaya lokal sejalan dengan semangat Kampus Berdampak yang saat ini menjadi arah pengembangan perguruan tinggi.

Menurutnya, melalui penelitian, produksi film, dan kolaborasi dengan komunitas kreatif, kampus dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.

“Melalui karya-karya audiovisual, mahasiswa dan dosen tidak hanya belajar dan meneliti, tetapi juga dapat memberikan dampak nyata dalam menjaga, mengenalkan, dan mengembangkan budaya Madura di tengah perkembangan zaman,” tambahnya.

Ia berharap kegiatan serupa terus dikembangkan sebagai ruang kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas kreatif sehingga mampu melahirkan berbagai inovasi yang memperkuat identitas budaya Madura serta memperluas promosi budaya daerah melalui media visual yang edukatif, inspiratif, dan berdaya saing.