Abdul Mu’ti : Bangga Pernah Jadi Kader IMM

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Abdul Mu'ti mengaku bangga pernah berproses menjadi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

WARTAMU.ID, Jawa Timur – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti mengaku bangga pernah berproses menjadi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Meski, dirinya hanya aktif berproses menjadi kader unggul IMM sampai tingkatan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM.

“Saya sekarang memang diamanahi jadi Sekum PP Muhammadiyah. Tapi saya juga mau disebut alumni IMM. Saya pernah dikader di IMM. Meski hanya sampai tingkat DPD IMM saja, dan itu pun tidak sampai selesai karena harus melanjutkan kuliah ke luar negeri. Tapi aaya bangga pernah dikader dan kini menjadi alumni IMM,” ujarnya dalam pembukaan acara Resepsi Milad IMM ke-58 yang diselenggarakan oleh Forum Keluarga Alumni (Fokal) IMM Jawa Timur.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti

Resepsi Milad ke-58 ini diadakan di Aula Mas Mansyur Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, Jl Kertomenanggal VI/1 Surabaya, Senin (14/3/2022). Adapun agenda acara diisi dengan pengukuhan 20 Koordinator Daerah (Korda) Fokal IMM se-Jatim, dan Launching Graha Fokal IMM Jatim. Juga ada acara sarasehan dan seminar kebangsan.

Prof Mu’ti kemudian menceritakan perjalanannya ketika aktif berproses menjadi kader IMM di IAIN Walisongo, Semarang, Jawa tengah. Waktu itu, ceritanya, IMM menjadi Kelompok minoritas di Kampus IAIN Walisongo. Meski begitu, IMM di IAIN Walisongo bisa menjadi kelompok minoritas yang kreatif.

“Waktu itu, kita memang memang minoritas. Tapi kalau urusan ada beasiswa, misalnya, anak IMM selalu dapat. Kita di sana memang minoritas tapi printer-pinter. Mentes-mentes kadernya. Sehingga IMM tidak mudah dipetes. Kita membangun kemandirian IMM di sana dengan militansi dan kualitas. Itu kelebihan kami selama menjadi IMM,” ceritanya.

Prof Mu’ti mengungkapkan, karirnya saat ini, baik itu karir di Persyarikatan Muhammadiyah maupun dalam dunia ademik, memang tidak bisa dilepaskan dari kontribusi dan peran serta dari proses perkaderan di IMM. Pun demikian secara kekaderan di Muhammadiyah, terutama penguatan secara ideologi dan militansinya, diakuinya terbentuk ketika dirinya aktif dikaderisasi IMM.

“Sembagai mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PP PM), saya itu tidak pernah ikut perkaderan di Pemuda Muhammadiyah. Maka bisa dikata, Pemuda Muhammadiyah yang memanen hasil saya di IMM. Karena saya sudah dikader di IMM,” jelasnya.

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan, adapun kekuatan terbesar dari IMM adalah diranah intelektual. “Keunggulan itu yang membuat kita bisa berfastabikhul khairat dengan organisasi lain. Juga dengan kader kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus,”

Prof Mu’ti meminta supaya kader IMM bangga dengan sebutan Immawan (laki-laki) maupun Immawati (kader perempuan). “Jangan memangil kawan-kawan, atau teman-teman ke sesama kader. Panggilan itu tidak menunjukkan adanya semangat perjuangan dan identitas organisasi,” pungkasnya.(Aan Hariyanto)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *