Kasus Penebangan Pisang Viral di Lampung Masuki Babak Baru: Heri Chalilullah Burmelli Perkarakan Sertifikat Hak Milik Palsu

Sempat Viral Ditangkap Polda Lampung Karena Tebang Pisang, Heri CH Kini Gandeng Kantor Hukum Gindha Ansori Wayka Lakukan Perlawanan

WARTAMU.ID, Lampung – Kasus viral di Lampung beberapa waktu lalu terkait penebangan pohon pisang yang ditangani oleh Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Lampung kembali memasuki babak baru. Pemilik tanah, Heri Chalilullah Burmelli, kini mempermasalahkan status kepemilikan pihak lawan yang diduga menggunakan Sertifikat Hak Milik (SHM) palsu atau bodong.

Langkah ini diambil setelah Direktur Kantor Hukum Gindha Ansori Wayka (Law Office GAW) & Rekan, yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum Cinta Kasih (LBH-CIKA), Gindha Ansori Wayka, didampingi tim hukum lainnya yaitu Iskandar, Ronaldo, Ari Fitrah Anugrah, Ramadhani, Angga Andrianus, serta Mutia Rizki Yuslianti Ali Subing, melayangkan surat klarifikasi dan somasi ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bandar Lampung. Surat ini disampaikan pada Selasa, 9 Juli 2024, di Bandar Lampung.

“Hari ini, Tim Advokat Kantor Hukum GAW telah menyampaikan surat klarifikasi dan somasi kepada Kepala BPN Kota Bandar Lampung terkait dua hal berbeda,” ujar Gindha Ansori Wayka.

Menurut Gindha, dalam surat yang dikirim dengan nomor: 090/B/GAW-Law Office/VII/2024, Lampiran: satu berkas, Perihal: Klarifikasi dan Somasi, tanggal 9 Juli 2024, terdapat dua poin utama. Pertama, klarifikasi terhadap terbitnya SHM Nomor: 17/H.J An.FP di atas tanah kliennya seluas 5.811 m². Kedua, permintaan agar surat permohonan penerbitan SHM atas nama kliennya segera diproses sebagaimana surat permohonan tertanggal 7 November 2022.

“Oleh karena di atas tanah milik klien kami sebagian telah diterbitkan SHM atas nama orang lain dan pengajuan penerbitan SHM oleh klien kami masih tertunda, maka kami melayangkan surat tersebut kepada BPN untuk ditindaklanjuti,” tutur advokat muda viral Lampung ini.

Gindha menjelaskan bahwa tanah milik kliennya berdasarkan Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (SPORADIK) tanggal 1 November 2022 seluas 9.254 m² yang terletak di Jalan Endro Suratmin LK I RT 06 Kelurahan Korpri Jaya, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung dikuasai kliennya dan dibayar pajaknya.

“Sebagai bukti bahwa klien kami membayar pajak di atas tanah tersebut meskipun masih SPORADIK, ini menunjukkan bahwa klien kami taat asas dan taat hukum,” tambah tim hukum mantan Gubernur Lampung ini.

Ketika ditanya terkait SHM yang ada di atas tanah kliennya, Gindha menyatakan bahwa BPN Kota Bandar Lampung menerbitkan SHM Nomor: 17/H.J An.FP tahun 2003 yang diduga datanya tidak sinkron (diduga palsu/bodong). Meskipun jauh dengan tahun terbit SPORADIK milik kliennya, yaitu 2022, Gindha menyatakan bahwa SPORADIK ini merupakan perubahan terakhir dari pemilik-pemilik sebelumnya, sehingga tidak ada persoalan karena historis kepemilikan tanah dari pemilik sebelumnya cukup jelas.

“Ada beberapa indikator SHM tersebut bermasalah, seperti penulisan NIB di halaman depan SHM tersebut yang ditulis tangan, seharusnya diketik. Terdapat perbedaan NIB di halaman surat ukur, yakni yang ditulis tangan dengan NIB: 08.01.09.08.00017, sedangkan yang diketik NIB: 08.01.09.08.00019. Yang paling fatal adalah terdapat kejanggalan dalam proses penerbitan SHM tersebut, hal ini terbukti dari tanggal terbitnya SHM yakni 24 Maret 2003, sementara surat ukurnya tanggal 6 Desember 2003,” ungkap akademisi perguruan tinggi swasta terkenal di Lampung ini.

Lebih lanjut, advokat muda berdarah Negeri Besar Waykanan dan Gunung Terang Tulang Bawang Barat ini menjelaskan bahwa SHM Nomor: 17/H.J An.FA merupakan pemisahan/pemecahan bidang tanah M.11809/S.I dengan peta pendaftaran nomor 48.2.06.104.16.5 kotak: C/5, yang diduga tidak berlokasi di atas tanah klien kami, melainkan di kompleks tanah perumahan Permata Biru.

“Diduga objek dan luasannya berbeda, maka kami meminta agar BPN Kota Bandar Lampung segera menindaklanjuti ajuan penerbitan SHM yang telah disampaikan sejak November 2022 yang lalu,” pungkasnya.