Memahami Makna Negara Muhammadiyah

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Kontribusi Muhammadiyah terhadap Indonesia sebenarnya begitu besar dan tercatat dalam tinta sejarah, akan tetapi di era kontemporer ini banyak yang memandang Muhammadiyah kini hanya sebatas ormas yang mulai menua, sepuh, lansia bagaikan tak berdaya penuh tengah walau dulu jasanya banyak lagi besar. Muhammadiyah membangun bangsa ini juga melalui tangan-tangan para kader Muhammadiyah terdahulu yang revolusioner dan visioner. Telah merasakan dari zaman hindia Belanda era lahirnya organisasi Muhammadiyah, termasuk era revolusi pendirian Republik Indonesia pada orde lama, kemudian era Orde baru sampai pada era reformasi saat ini. Semua dinamika persyarikatan, dinamika organisasi dan dinamika politik telah dilalui.

Dalam buku yang berjudul, Negara Muhammadiyah ditulis oleh Syarifuddin Jufri pada sinopsis bukunya. Apakah Muhammadiyah punya skenario sendiri yang mesti dimainkan dalam drama politik kontemporer, saat negara ini dilanda begitu banyak krisis ?. Berkaca pada masa lalu, melihat sumber jatidiri Muhammadiyah, ketemu dua kata yang mesti dipegang dalam peran apa pun yakni pemberdayaan umat. Meninjau jarak ke masa depan, umat akan menghadapi tantangan besar, yakni globalisasi kebudayaan yang mengharuskan tiap orang tak lagi menutup diri sambil membusungkan dada menyatakan dialah yang paling benar. Titik temunya melahirkan langkah-langkah pembenahan berbagai soal semrawut di masa kini, dan buku ini mengurai hal-hal tersebut panjang lebar. Negara Muhammadiyah menjadi istilah yang tepat, jikalau negara ini runtuh tinggal sejarah.

Memahami makna negara Muhammadiyah ini menggunakan analisis layaknya dua mata koin yakni pertama bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi islam yang berjasa membangun negara dengan segala bukti nyata, amal, usah, Pembangunan, kontribusi dan lainnya. Kedua bahwa Muhammadiyah bisa saja dimaknai seperti sebuah negara yang kalaupun negara itu sendiri kacau, rusuh, bubar, pecah, hancur maka istilah negara Muhammadiyah menjadi lebih logis dikarenakan bukti nyatanya yang telah membangun bangsanya dan memberi untuk negerinya. Terlepas dari sebuah judul buku yang telah ditulis lama pada konteks lampau, Memahami makna negara Muhammadiyah ini tentu menjadi polemik dan probelmatik. Apalagi jika pakai paradigma poltik praktis, politik partai dan politik kekuasaan. Sebab, untuk Memahami makna negara Muhammadiyah ini bukan sebagai bentuk politik praktis, melainkan sebagai bentuk politik kebangsaan yang dimaknai secara sosiologis terhadap masyarakat dan ummat dalam binaaan serta pemberdayaan Muhammadiyah sebagai anggotanya, warganya, simpatisannya yang dimaknai pula rakyatnya Muhammadiyah. Karena pada sistemnya, Muhammadiyah merupakan persyarikatan yang juga bagikan miniatur negara versi ormas islam.

BACA JUGA :  Jangan Hanya Sekedar Muhammadiyah Formalitas

Sejarah Republik Indonesia pasti tidak akan lepas dari sejarah Muhammadiyah atau kader Muhammadiyah yang juga sekaligus tokoh bangsa, bahkan hampir semua tokoh pendahulu Muhammadiyah menjadi tokoh pahlawan Republik Indonesia yang didapatkan tanpa harus jalan pintas apalagi intrik politik penuh sisaat yang sarat dengan jalan amoralitas, sebab kemurnian dan otentikannya akan terus terjaga dengan baik. Muhammadiyah bisa dimaknai sebagai sebuah negara, sebuah bangsa, sebuah sosial masyarakat, sebuah bangunan, dan sebuah kerajaan besar dalam perspektif poltik kepentingan dijalur prosedural formalistik yang benar dan dapat diakui. Hanya saja tentu Muhammadiyah memiliki peran besar, sehingga dengan kerendahan hati dan hati yang besar tak perlu sampai merasa bahwa negara ini menjadi klaim atau milik yang diakuisisi sebagai negara Muhammadiyah. Cukup dengan membangun bangsa untuk semua, Muhammadiyah bagain dari sayap bangsa Indonesia yang tak akan pernah lepas dan patah sekalipun adanya hambatan yang akan datang melalui tangan-tangan intimidatif.

Sebagai warga Muhammadiyah yang taat organisasi dan taat kepada Nusa, bangsa, negara dan agama, maka menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa merupakan bagain dari rasa cinta tanah air. Terlepas dari pandangan negara Muhammadiyah sebagai sebuah diskursus yang memberikan khazanah pemikiran kebangsaan. Sehingga untuk memahami makna negara Muhammadiyah ini bukan hanya sekedar tekstualiitas dan kontekstulitas semata, melainkan juga historitas dan nomatifivitas yang ada di dalamnya. Ini merupakan pandangan yang harus dimaknai dengan mindset terbuka secara inklusif-progresif dan bukan sebagai polemik-probelmatik. Sebab sampai kapan pun Muhammadiyah akan terus membangun bangsa, memberi negeri, mencerdaskan manusia, memajukan negara dan mencerahkan agama. Muhammadiyah tak bisa hanya dimaknai sekilas dan sepintas apalagi sebelah mata, karena Muhammadiyah tak akan lekang oleh Sejarah negara kesatuan Republik Indonesia tentunya.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Kader Kokam Diklatsar Sleman-DIY)