Dari radio transistor bermerek TJAWANG yang lahir pada 1954 hingga menghadapi era transformasi digital, perjalanan Gobel Group mencerminkan upaya panjang membangun industri nasional. Di balik perkembangan teknologi itu, tersimpan warisan pemikiran Thayeb Mohammad Gobel bahwa industri harus tumbuh bersama kemajuan manusia dan kebutuhan bangsa.
SUARA DARI SEBUAH NEGERI MUDA
“Untuk apa kamu membuat radio?”
Pertanyaan itu dilontarkan Presiden Soekarno kepada Thayeb Mohammad Gobel pada suatu masa ketika Indonesia masih berjuang membangun dirinya sebagai bangsa yang baru merdeka. Infrastruktur terbatas, industri nasional masih merangkak, dan akses informasi belum menjangkau seluruh pelosok negeri.
Thayeb tidak menjawab tentang keuntungan, pangsa pasar, atau peluang bisnis.
Ia menjawab dengan sederhana.
“Agar semua rakyat Indonesia bisa mendengar pidato Anda.”
Jawaban tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan sebuah gagasan besar yaitu teknologi bukan semata-mata alat produksi, melainkan jembatan yang menghubungkan negara dengan rakyatnya.
Pada masa itu, radio bukan sekadar barang elektronik. Radio adalah medium yang menyatukan bangsa yang baru lahir. Melalui gelombang suara, masyarakat di berbagai daerah dapat mendengar pesan yang sama, merasakan semangat yang sama, dan menjadi bagian dari perjalanan Indonesia sebagai sebuah negara.
Tujuh puluh tahun kemudian, ketika Indonesia memasuki era kecerdasan buatan, internet berkecepatan tinggi, dan transformasi digital, gagasan itu tetap relevan. Perjalanan Gobel Group selama tujuh dekade pada dasarnya bukan hanya kisah tentang sebuah perusahaan elektronik, melainkan tentang bagaimana teknologi, industri, dan sumber daya manusia dipadukan untuk menjawab kebutuhan bangsa yang terus berubah.
MEMBANGUN INDUSTRI DARI KEBUTUHAN BANGSA
Jejak perjalanan itu dimulai pada tahun 1954 ketika Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing di Cawang, Jakarta. Perusahaan tersebut menjadi pelopor manufaktur radio transistor di Indonesia dengan merek dagang TJAWANG. Di tengah keterbatasan industri nasional pada masa awal kemerdekaan, langkah itu menjadi simbol keberanian membangun kemampuan teknologi bangsa dari dalam negeri.
Pada dekade awal kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun kemandirian ekonomi. Sebagian besar teknologi masih bergantung pada produk impor. Industri manufaktur nasional belum berkembang seperti sekarang. Dalam situasi itulah Thayeb Mohammad Gobel melihat peluang sekaligus tanggung jawab.
Baginya, membangun industri bukan sekadar mendirikan pabrik. Industri adalah sarana untuk menciptakan lapangan kerja, mengembangkan keterampilan manusia Indonesia, dan memperkuat kemampuan bangsa dalam menguasai teknologi.
Pandangan tersebut tercermin dalam prinsip yang dipegang Thayeb Mohammad Gobel. Ia menempatkan kebutuhan masyarakat Indonesia sebagai titik tolak pengembangan usaha.
“Berorientasi pada pasar lokal, untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.”
Prinsip tersebut menjadi fondasi perjalanan bisnis yang dirintisnya sejak masa awal.
BELAJAR DARI NEGERI SAKURA
Kesadaran bahwa industri tidak dapat berkembang tanpa sumber daya manusia mendorong Thayeb untuk terus belajar. Kesempatan mengikuti program Colombo Plan membawanya ke Jepang, negara yang saat itu sedang bangkit dari kehancuran pasca-Perang Dunia II.
Di sana ia menyaksikan bagaimana disiplin, inovasi, dan pengembangan manusia menjadi fondasi kebangkitan ekonomi.
Pengalaman itu mempertemukannya dengan Konosuke Matsushita, pendiri Panasonic. Pertemuan dua tokoh dari latar belakang berbeda tersebut kemudian melahirkan salah satu kemitraan bisnis paling panjang dalam sejarah industri Indonesia.
Hubungan tersebut berkembang menjadi kerja sama teknis pada tahun 1960 antara PT Transistor Radio Manufacturing dan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. Kerja sama ini membuka jalan bagi transfer teknologi, peningkatan kualitas produksi, dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia di bidang elektronika.
Namun yang diwariskan bukan hanya kerja sama bisnis.
Yang lebih penting adalah cara pandang bahwa kemajuan industri harus berjalan seiring dengan kemajuan manusia.
TELEVISI DAN MIMPI INDONESIA MODERN
Semangat itu menemukan momentumnya ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV Jakarta tahun 1962. Pada masa tersebut, televisi mulai hadir sebagai simbol modernisasi dan kemajuan teknologi.
Momentum itu semakin penting ketika perusahaan mendapat pesanan memproduksi sekitar 10.000 unit televisi untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games. Kehadiran televisi memungkinkan masyarakat Indonesia mengikuti perhelatan olahraga internasional tersebut dan menjadi salah satu tonggak awal perkembangan industri televisi nasional.
Keterlibatan Gobel dalam pengembangan industri elektronika nasional menjadi bagian dari perjalanan Indonesia memasuki era baru komunikasi massa.
Televisi memungkinkan masyarakat menyaksikan peristiwa penting tanpa harus berada di lokasi kejadian. Teknologi perlahan mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, memahami dunia, dan membangun koneksi dengan sesamanya.
Bagi Indonesia yang sedang membangun identitas sebagai bangsa modern, perkembangan teknologi komunikasi menjadi bagian penting dari proses tersebut.
FILOSOFI POHON PISANG
Di balik perjalanan industri itu terdapat sebuah nilai yang kemudian dikenal luas sebagai Filosofi Pohon Pisang.
Filosofi tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan tidak berhenti pada diri sendiri. Sebagaimana pohon pisang yang melahirkan tunas-tunas baru sebelum menyelesaikan siklus hidupnya, setiap generasi memiliki tanggung jawab menyiapkan generasi berikutnya.
Gagasan itu tampak sederhana, tetapi mengandung makna yang mendalam.
Dalam dunia usaha yang sering berfokus pada keuntungan jangka pendek, Filosofi Pohon Pisang menawarkan perspektif berbeda yaitu keberhasilan sejati diukur dari kemampuan menciptakan manfaat yang terus berlanjut.
Nilai inilah yang membantu menjaga kesinambungan perjalanan organisasi melewati berbagai generasi dan berbagai perubahan zaman.
BERTAHAN DI TENGAH GELOMBANG PERUBAHAN
Perjalanan selama tujuh dekade tentu tidak berlangsung tanpa tantangan.
Indonesia mengalami berbagai perubahan besar, mulai dari pergantian kepemimpinan nasional, transformasi ekonomi, hingga krisis finansial Asia 1998 yang mengguncang dunia usaha.
Banyak perusahaan tidak mampu bertahan menghadapi tekanan tersebut.
Namun pengalaman panjang, kemampuan beradaptasi, dan komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan.
Setiap krisis menghadirkan pelajaran bahwa keberlangsungan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh produk yang dihasilkan, tetapi juga oleh nilai yang dipegang dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Dari era radio, televisi, elektronik rumah tangga, hingga transformasi digital, perjalanan Gobel menunjukkan bahwa inovasi tidak pernah berhenti. Setiap zaman menghadirkan tantangan baru, dan setiap tantangan menuntut keberanian untuk berubah tanpa kehilangan jati diri.
MENYALAKAN INDONESIA DI SETIAP ZAMAN
Dalam sebuah kesempatan, Direktur Gobel Group Mohammad Arif Rachmat Gobel menegaskan bahwa fondasi transformasi perusahaan tetap kembali pada niat awal pendirinya.
“Kami akan terus kembali kepada niatan pendiri perusahaan, yaitu bagaimana berkontribusi untuk negara melalui industri.”
Bagi Rachmat Gobel, nilai tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perusahaan, tetapi juga pedoman dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Pola berpikir saya sangat sederhana yaitu bagaimana berbuat sesuatu agar bermanfaat atau yang bisa memberikan nilai tambah kepada orang banyak.”
Pernyataan itu menggambarkan benang merah yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Teknologi boleh berubah, model bisnis boleh berkembang, tetapi tujuan dasarnya tetap sama yakni memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia.
Hari ini Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dibanding tujuh dekade lalu. Persaingan global semakin ketat. Digitalisasi mengubah hampir seluruh sektor kehidupan. Kecerdasan buatan mulai mendefinisikan ulang cara manusia bekerja dan berproduksi.
Di tengah perubahan tersebut, pertanyaan yang dahulu diajukan Soekarno kepada Thayeb Gobel kembali menemukan relevansinya.
Untuk apa teknologi dibangun?
Jika tujuh puluh tahun lalu jawabannya adalah agar rakyat Indonesia dapat mendengar suara pemimpinnya, maka hari ini jawabannya mungkin lebih luas: agar teknologi dapat memperkuat kualitas hidup masyarakat, memperluas kesempatan, dan mendorong kemajuan bangsa menuju Indonesia Emas.
Itulah makna warisan yang sesungguhnya.
Warisan bukan sekadar bangunan, pabrik, atau merek dagang yang bertahan puluhan tahun. Warisan adalah nilai yang tetap hidup ketika zaman berubah.
Dari radio TJAWANG yang lahir pada awal kemerdekaan, kerja sama teknologi dengan Jepang, televisi yang membawa Asian Games ke ruang keluarga Indonesia, hingga transformasi menghadapi era digital, perjalanan Gobel menunjukkan bahwa masa depan tidak dibangun hanya oleh teknologi yang diciptakan, tetapi oleh tujuan yang melandasi penciptaannya.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, warisan terbesar yang ditinggalkan Thayeb Mohammad Gobel bukanlah perangkat elektronik, pabrik, atau jaringan usaha yang berkembang selama puluhan tahun. Warisan itu adalah keyakinan bahwa industri harus memberi manfaat bagi masyarakat dan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan manusia.
Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mesin-mesin yang bekerja di pabrik, melainkan oleh gagasan, keberanian, dan nilai-nilai yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan dari sanalah perjalanan menuju masa depan selalu dimulai.












