WARTAMU.ID, Humaniora – Jika melihat kemajuan Muhammadiyah dalam amal usaha Muhammadiyah, itu merupakan hal yang sudah biasa karena telah terbukti membangun negeri. Melihat Muhammadiyah secara umum tak lepas dari penilaian tentang keberhasilan, perkembangan dan kesuksesan Muhammadiyah dalam melakukan dakwah islam. Persyarikatan Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi yang terstruktur, terencana dan terukur setiap gerak langkahnya dalam melakukan program kerja dakwahnya. Dikenal sebagai ormas islam yang sangat rapi manajemen, administrasi, dan tata kelola setiap tupoksi yang ada. Hal inilah yang membuat Muhammadiyah itu merupakan organisasi islam yang sudah kuat mengakar secara infrastruktur kekuatan amal usahanya. Itu semua merupakan proses yang sangat panjang, berkelanjutan dan sangat efektif untuk menjalankan setiap program kerjanya. Sehingga tak perlu diragukan lagi bilamana ada yang mewakafkan untuk Muhammadiyah, maka dapat menjadi lahan yang sangat produktif serta bermanfaat bagi khalayak.
Hanya saja tidak semua potret kemajuan Muhammadiyah itu terserap dan mengalir sampai pada tingkat bawahnya secara keseluruhan, sebab masih ada sebagian juga yang tertinggal, pasif, zero dan masih merintis bersusah payah lagi berdarah-darah. Secara general kemajuan Muhammadiyah sangat disarankan pada ringkas pimpinan pusat Muhammadiyah dan pimpinan wilayah Muhammadiyah. Sedangkan secara spesifik pada tingkat pimpinan daerah Muhammadiyah cenderung pertengahan dan yang paling menyedihkan berada di pimpinan cabang Muhammadiyah dan pimpinan ranting Muhammadiyah. Memang benar secara garis besarnya Muhammadiyah cukup sukses dalam menjaga eksistensi nya di tengah keberagaman yang sangat kompleks. Muhammadiyah memiliki banyak amal usaha baik dari TK, Paud, Sekolah, Madrasah, Pesantren, Perguruan tinggi, Rumah sakit, Koperasi, Mini market, Klinik, apotek, hotel, panti asuhan, dan lain sebagainya yang itu tergantung pada kemajuan Muhammadiyah di tempat nya masing-masing. Semua memiliki tantangan suka duka masing-masing yang setiap nya memiliki perbedaan yang cukup beragam. Itu juga yang membuat antar pimpinan satu dengan yang lainnya saling mengunjungi, saling belajar dan saling melakukan studi perbandingan.
Menyedihkannya Muhammadiyah Minoritas ini merupakan gambaran wajah pimpinan yang berada di daerah, cabang dan ranting yang mana masih sangat sedikit atau minoritas baik AUM, kader, anggota, masjid, ortom dan lainnya. Hal tersebut dikarenakan biasanya, tempat itu dulunya belum mengenal Muhammadiyah atau justru yang menolak gerakan dakwah Muhammadiyah. Sehingga, Muhammadiyah masih sangat minoritas dan baru memulai dari nol, baru merintis serta baru bergerak mengumpulkan puzzle kepingan yang masih terpisah berserakan. Umumnya jika melihat Muhammadiyah di pulau jawa tentulah bisa dapat disimpulkan jauh lebih maju, berkembang dan sukses merata yang tersebar sampai pada cabang dan ranting Muhammadiyah. Akan tetapi berbeda halnya dengan Muhammadiyah di luar pulau jawa baik Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Di beberapa pimpinan daerah Muhammadiyah saja masih sangat minim AUM sekolah, masjid dan panti asuhan nya apalagi yang berada di bawah nya sepri di pimpinan cabang Muhammadiyah dan pimpinan ranting Muhammadiyah yang malah masih lahan kosong alias zonk belum memiliki satu pun. Itulah yang membuat gambaran Menyedihkannya Muhammadiyah minoritas di daerah tertentu.
Dinamika Muhammadiyah di tempat yang masih sangat sedikit, minim dan minoritas cenderung kecil dikarenakan belum teruji serta belum adanya lahan garapan yang besar. Namun, terkadang Muhammadiyah dengan AUM minoritas pun justru memiliki corak kultur dan lingkungan bermuhammadiyah yang sangat feodal atau kaku atau serba problmatik, padahal Muhammadiyah nya sendiri masih dalam kategori minoritas. Ironi kehidupan bermuhammadiyah yang masih sangat minoritas itu tentu berbeda semangat dan ghiroh nya dengan Muhammadiyah yang lingkungan nya serba sukses, besar, banyak dan hampir mayoritas lingkungan bermuhammadiyah. Itulah kenapa di Muhammadiyah ketika muktamar tidak hanya terpaku di satu tempat saja, melainkan bergantian di setiap PWM yang salah satu tujuannya adalah agar dapat melihat kondisi Muhammadiyah lain yang berbeda secara geografis, antropologis, sosiologis dan etnografis. Hal itu untuk mendapat suatu wawasan pengetahuan yang luas agar nantinya dapat dijadikan sebagai pertimbangan Dalam bermuhammadiyah.
Meskipun masih sangat Menyedihkannya Muhammadiyah minoritas yang dirasakan oleh sebagian kader di tempatnya, tak perlu berkecil hati, bersedih hati dan patah hati. Melainkan terus berjuang memulai, membangun, sampai pada membesarkan dan mengembangkan bahkan menyukseskan Muhammadiyah seperti di wilayah dan daerah atau cabang yang sudah mampu menghasilkan nilai aset AUM miliyaran atau bajak triliunan rupiah. Semua tentu ada jalannya, ada alurnya dan ada langkahnya yang secara perlahan step by step akan menuju kejayaan Muhammadiyah menjadi mayoritas. Betapapun masih susahnya dan sulitnya agar Muhammadiyah menjadi mayoritas di lingkungan nya, tetap harus dimulai dari sesuatu yang kecil dari bawah sambil mencapai ke atas nantinya. Sehingga tak ada lagi kata Menyedihkannya Muhammadiyah minoritas, tapi menjadi membahagiakannya Muhammadiyah mayoritas karena kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja totalitas serta kerja moralitas yang telah dibangun selama ini. Pelan tapi pasti, meski lama tapi selesai, walau lelah tapi terus berjuang, dan kalaupun berat namun kerjakan terus sampai menjadi Muhammadiyah mayoritas agar menjadi bahagia bersama. Semoga gerak langkah dan semangat bermuhammadiyah akan terus membara demi terwujudnya syiar dakwah islam berkemajuan dalam pembaharuan.
Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan)












