WARTAMU.ID, Bandung – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) kembali menggelar Advokasik Camp #HappyTanpaBully Batch Bandung sebagai respons atas tingginya kasus perundungan di Indonesia. Data terbaru menunjukkan Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan angka perundungan tertinggi secara nasional.
Kegiatan yang berlangsung di BBPPMPV Bidang Teknik dan Mesin, Jumat (15/8/2025), diikuti 100 peserta perwakilan siswa dan guru dari sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Bandung Raya. Hadir dalam pembukaan kegiatan antara lain Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan, Staf Khusus Kemendikdasmen RI Muchlas Rowi, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Vokasi, Diskus, dan PLK Kemendikdasmen RI Muhammad Hasbi.
Staf Khusus Kemendikdasmen RI, Muchlas Rowi, menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara pencegahan perundungan merupakan tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat.
“AI tidak bisa menggantikan peran manusia sepenuhnya. Empati, kepedulian, dan kasih sayang tetap harus lahir dari hati kita sebagai pendidik, orang tua, dan teman sebaya,” ungkap Rowi.
Ia mengapresiasi model pelatihan IPM yang dinilai inovatif karena memadukan pendekatan teknologi, psikologis, dan pendidikan karakter. Menurutnya, inisiatif ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan Indonesia bergerak maju tanpa meninggalkan sisi kemanusiaan.
Senada, Sekretaris Direktorat Jenderal Vokasi, Diskus, dan PLK Kemendikdasmen RI, Muhammad Hasbi, menegaskan bahwa perundungan adalah masalah darurat.
“Setiap kali mendengar cerita anak-anak yang trauma hingga mogok sekolah, hati saya teriris. Ini bukan lagi masalah sepele, tapi darurat pendidikan yang butuh aksi nyata dari kita semua,” tegas Hasbi.
Sementara itu, Ketua Umum PP IPM, Riandy Prawita, menekankan peran strategis pelajar dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman.
“Kasus bullying di Indonesia paling tinggi di Jawa Barat. Melalui Advokasik Camp ini, semoga teman-teman bisa menjadi duta Happy Tanpa Bully di sekolah masing-masing,” ujarnya.
Riandy mengibaratkan kader IPM sebagai matahari yang konsisten memberi energi positif tanpa pilih kasih, sehingga pelajar Muhammadiyah harus menjadi teladan anti-perundungan di lingkungannya.
Ketua PWM Jawa Barat, Ahmad Dahlan, menambahkan pentingnya pendekatan berbasis nilai keislaman dalam melawan budaya perundungan.
“Islam mengajarkan kita untuk menjadi rahmat bagi semesta. Kasus perundungan bertentangan dengan nilai tersebut. Korban perundungan berisiko kehilangan dua tahun perkembangan kognitif. Ini darurat yang butuh solusi sistematis,” tegasnya.
Kepala BBPPMPV Bidang Teknik dan Mesin, Nana Halim, menyatakan kesiapan lembaganya mendukung program ini tidak hanya dengan fasilitas, tetapi juga melalui keterlibatan aktif demi memastikan keberlanjutan kegiatan.
Ketua Umum PW IPM Jawa Barat, Sunanulhuda, mengungkapkan rasa bangga dapat menjadi tuan rumah kegiatan ini. Ia berharap gerakan “Happy Tanpa Bully” tidak berhenti di forum, tetapi menyebar ke sekolah-sekolah, komunitas pelajar, bahkan keluarga.
“Dengan dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah, organisasi, hingga masyarakat, kita yakin Happy Tanpa Bully bukan hanya slogan, melainkan budaya yang tumbuh di tengah pelajar Indonesia,” katanya.
Setelah terlaksana di sejumlah daerah, Advokasik Camp Batch Bandung diharapkan semakin memperkuat komitmen bersama antara pelajar, guru, dan pemerintah dalam menciptakan sekolah yang aman, ramah, serta bebas dari praktik perundungan. Melalui kehadiran para “Guardians”, IPM menegaskan tekad menjadikan Happy Tanpa Bully sebagai budaya baru yang mengakar kuat di generasi muda Indonesia.












