Aktivis Pragmatis ataukah Ideologis

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Kehidupan aktivis itu selalu penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang besar lagi berat serta menjadi beban berat dipundaknya. Aktivis selalu memperjuangkan kehidupan rakyat kecil dan rakyat miskin atas kebijakan pejabat atau penguasanya. Sebagai aktivis tentu akan banyak menanggung resiko baik dari harta, nyawa, keluarga, kehidupan dan sebagianya. Aktivis itu bersuara secara lantang dan vokal bukan untuk mendapatkan jabatan dan tahta, melainkan untuk keadilan serta kesejahteraan yang merata. Sehingga aktivis benar-benar teruji hati, pikiran dan tenaganya untuk panggilan kemanusiaan, keadilan dan kebangsaan. Aktivis bisa terlahir dari jenjang mana saja dari level terbawah yakni sekolah, perguruan tinggi, organisasi, sosial masyarakat dan gerakan-gerakan lainnya yang tujuannya tentu sangat mulia demi tegaknya arti kebenaran dan keadilan. Tidak ada aktivis yang mentalnya seperti anjing menggonggong saja sehingga akan diam bila diberi tulang, tidak pula seperti tikus yang hanya mencuri makan ketika sunyi senyap, tidak pula seperti keledai yang geraknya lamban dan sangat malas. Hanya saja sepak terjang aktivis akan teruji bila kepalanya terbidik senjata, tangannya tersentuh borgol, suaranya tertembak gas air mata, kakinya terinjak perlakuan represif dan segala kehidupannya selalu dalam suasana intervensi dan persekusi.

Situasi demokrasi dari rezim orde lama, orde baru dan reformasi bahkan bisa dikatakan saat ini ialah masa transisi neo reformasi memiliki tren, tipologi, dan metode perjuangan dalam menyuarakan kebenaran. Sebab disesuaikan dengan pemimpin serta pejabat publik itu sesuai dengan masanya yang tergantung dari agendanya, Kebijakannya, programnya, kinerjanya dan pencapaiannya. Sebab yang namanya aktivis itu ialah orang yang berjuang untuk mengawasi, memperhatikan dan memperjuangkan hak serta keadilan atas penindasan penguasa yang diberikan mandat untuk diamanhi menjalankan roda pemerintahan yang memiliki hak menggunakan anggaran baik level daerah maupun nasional. Metodenya sangat beragam mulai dari aksi demonstrasi, aksi damai, aksi diam, aksi boikot, aksi literasi, aksi opini, aksi diskusi dan aksi-aksi lainnya yang secara garis besar tujuannya ialah menegakkan kebenaran dan keadilan atas nama rakyat tertindas. Yang pasti aktivis bergerak karena hati nurani, naluri, nilai kemanusiaan serta keadilan. Meski lapar tetap berjuang, meski terancam tetap bersuara, meski dipersekusi tetap tahan baja, meski ditindas tetap bergerak keras, meski dipenjara tetap semangat berjuang, meski diancam tetap tahan banting, meski dihina tetap tegar, meski difitnah tetap selalu bangkit dan meski jadi korban tetap selalu merasa menang.

Hanya saja, akhir-akhir perjalanan aktivis era kontemporer dan era milenial bergeser nilai, kultur, gerakan, dan pandangan terhadap kehidupan aktivis. Antara aktivis pragmatis dan aktivis ideologis sangat jelas serta terang. Tentu mental aktivis pragmatis ialah kutu loncat, oportunis, pindah sana pindah sini, dulu vokal berbaik menjadi diam, dulu rakyat yang diperjuangkan berbalik penguasa yang dipertahankan. Bahkan aktivis pragmatis mulai bergerak menjadi aktivis baper, narsis, eksis namun sangat manja, tong kosong, cengeng, gaya-gayaan dan terlalu agresif yang sifatnya hanya menjadi popularitas dengan jalan-jalan viralisasi diri sebagai bentuk citra diri. Aktivis pragmatis ini tidak hanya pada kaum intelektual mahasiswa, melainkan juga pada kaum intelektual ilmuan, pengamat, pejabat, pemimpin, dan para elit baik ormas, partai-partai, dan LSM serta sebagianya. Aktivis pragmaris dikepalanya hanya ada pikiran untung rugi, buat apa dapat apa, orientasi materialistis, jabatan, karir, bahkan untuk mendapatkan pengakuan ataupun kedudukannya agar semakin tinggi meningkat lagi memuncak. Aktivis pragamtis selalu berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang menguntungkan dirinya. Bila pagi sangar, siang vokal, sore guyon, malam pesta begitulah seterusnya sampai berubah-ubah. Selalu mudah masuk keluar barisan entah mana arah dan tujuannya. Karena aktivis itu tidak melihat subjektivitas melainkan objektivitas yang terpenting.

BACA JUGA :  Mengingatkan Pada Masa Kecil, Egrang Kini Menjadi Permainan Yang Jarang Ditemui

Lantas bagaimana dengan aktivis ideologis, mereka tentu punya tujuan yang ikhlas dan mulia. Antara tuntutan, tujuan harapan, gerakan konsisten dengan penuh konsekuensi serta memiliki komitmen yang tinggi. Harga dirinya tidak akan mudah tergadai hanya dengan pemberian apapun sehingga dapat membungkan mulutnya, suaranya dan vokalitasnya. Meski lapar tetap tegar dan tahan pada perjuangan. Aktivis ideologis berakat dari pemikiran perjuangan dan pengorbanan yang mendasar, bernilai, berkualitas serta jelas arah maupun tujuannya. Tidak mencla-mencle, plonga-plongo, lucu-lucuan, gaya-gayaan, guyon-guyonan. Sebab mereka sadar apa yang diperjuangkan ialah untuk menegakkan demokrasi agar tidak dikebiri oleh penguasa, elit, para tokoh dan yang lainnya. Aktivitas para aktivis ideologis selalu sistematis sehingga sangat terencana, terukur daan terarah. Antara yang diperjuangkan dan yang dikobarkan adalah semangat membela kaum tertindas, rakyat kecil dan ketidakadikan. Naluri kemanusiaan dan naluri keadilan dalam dirinya akan terus menggelora demi tegaknya kebenaran atas nama rakyat yang tertindas.

Aktivis pragmatis ataukaj aktivis ideologis itu jelas sangat jauh perbedaannya. Perbedaan sangat jelas yang setidak ada 5 faktor yakni agenda, tujuan, ouput, nilai dan metode. Karena bagi aktivis ideologis memperjuangkan keadilan adalah tugas utama dengan mengawasi sekaligus mengontrol pemerintahan para penguasa, pejabat dan elit partai politik ataupun tokoh bangsa yang kemungkinan dapat terindikasi degradasi moral, degradasi keadilan dan degradasi demokrasi. Aktivis ideologis itu mampu membaca literasi, membaca kebangsaan, membaca isu, membaca global, membaca alam dan membaca keadaan-keadaan yang ada. Sehingga gerak, langkah, perjuangan, dan gerakannya memiliki dasar nilai, dasar pengetahuan, dasar kebudayaan, dasar akhlak, dasar moral, dasar etika, dasar prinsip dan dasar pemikiran. Gelar ataupun predikat keaktivisannya akan menghilang dengan sendirinya secara otomatis bila ia tak lagi bersuara memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Bila tidak lagi memiliki perhatian dan empati besar terhadap rakyat tertindas dan rakyat kecil maupun rakyat jelata. Bila tidak lagi peduli dengan isu kebijakan dan kebangsaan. Bila tidak lagi peduli dengan keadilan dan kebenaran. Bila tidak ada lagi semangat juang, mental baja, tahan banting dan pengorbanan. Karena menjadi aktivis siap menjadi bidikan aparat, menjadi mangsa penguasa, menjadi buronan demokrasi, menjadi manusia yang masuk jeruji serta keadaan-keadaan diluar zona nyaman kehidupan. Yang jelas aktivis harus memiliki kecerdasan baik intelektual, spritual, emosional, sosial, dan manajerial yang baik. Agar setiap gerak langkahnya adalah niat ikhlas perjuangan dan pengorbanan dalam membangun demokrasi berlandaskan keadilan serta kebenaran bagi seluruh rakyat Indonesia.

BACA JUGA :  Kiyai Ahmad Dahlan Sang Mujaddid Islam

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA.
(Analis Politik Independen)