Kiyai Ahmad Dahlan Sang Mujaddid Islam

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Hampir semua masyarakat Indonesia kenal dengan nama Kiyai Ahmad Dahlan walaupun hanya secara umum dan sekilas tentang sejarahnya. Kiyai yang sangat visioner ini merupakan model Kiyai yang kalem, karismatik, bijaksana, bersahaja, cerdas, cekatan, rajin, reformis, soleh, santun, pintar, pembaharu, tekun, teliti, konsisten, koperatif, ikhlas dan istiqomah. Kiyai Ahmad Dahlan bukan dari keluarga menengah ke bawah, bukan pula dari kelas awam, bukan orang yang dari zero, melainkan terhormat, terpandang, bernasab, bersanad, dan saudagar besar. Kiyai Ahmad Dahlan peduli kepada ummatnya yang terbelakang dan tertinggal, sehingga kiyai ini bukan seperti karakter ulama yang hanya duduk manis di singgasana istana rumah atau pesantren nya saja layaknya bagaikan Raja yang gila hormat, fasilitas, penjagaan, dan haus popularitas lainnya tentu Kiyai Ahmad Dahlan jauh dari corak ulama seperti itu di zamannya bahan di zaman sekarang. Memahami Kiyai Ahmad Dahlan tidak bisa hanya tekstualis, tidak bisa hanya menelan mentah-mentan berbagai buku yang ditulis sesuai ideologi yang beragam bahakn tidak bisa dimaknai secara pandangan bebas individu jika tak mampu memahami dengan kosmopolitan. Sebab, kisah Kiyai Ahmad Dahlan pun dipakai banyak para penulis untuk membenarkan pesan dan narasi ideologi paham keagamaan yang sebenarnya jauh dari pemikiran Kiyai Ahmad Dahlan apalagi Muhammadiyah, sebab mereka hanya mencari keuntungan dalam tulisannya.

Sejarah Kiyai Ahmad Dahlan memang cenderung singkat, Allah mengambil beliau karena Ulama soleh yang membumi dan melangit bahkan usia nya lebih singkat daripada Nabi Muhammad yang mana Muhammadiyah yang didirikan Kiyai Ahmad Dahlan merupakan nisbat kepada Nabi Muhammad karena kembali kepada Sunnah Rasulullah Maqbullah. Banyak yang menarasikan Kiyai Ahmad Dahlan dari berbagai macam penulis sehingga ada yang menyamakan bahwa Kiyai Ahmad Dahlan itu seorang komunis, seorang liberal, seorang tokoh kiri, seorang yang dimiripkan dengan ideologi umum lain diluaran sana bahkan tidak ada kaitannya dengan syariat Islam. Tentu itu narasi yang tidak tepat lagi benar, sekalipun menganut kebebasan menulis dan merangkai dan memframing sosok Kiyai Ahmad Dahlan, akan tetapi kehati-hatian dan kebenaran haq terhadap historis Kiyai Ahmad Dahlan jauh lebih baik dijaga dan dirawat serta bukan untuk merusak marwahnya. Kiyai Ahmad Dahlan itu soso yang santun, lemah, lembut dan mampu berinterksi dengan siapa saja tapi bukan berarti menjadi tidak jelas, melainkan itu merupakan sikap dan ajaran Islam dalam ramah sosial bermasyarakat sebagai seorang muslim yang mukmin sekali pun dengan musuh, pembenci, lawan yang tak sepemahaman, ataupun bukan bagian dari perkumpulan. Sebab dakwah Muhammadiyah yang dilakukan Kiyai Ahmad Dahlan itu untuk mencerahkan, mencerdaskan, dan memajukan umat muslim dari kejumudan, ketertinggalan dan kemunduran. Itulah pentingnya ajaran Islam itu lebih banyak porsi nya diamalkan, dikerjakan, diaksinyatakan dan diimplementasikan dengan baik lagi benar.

Kiyai Ahmad Dahlan sang mujaddid islam dari tanah asean Indonesia yang kini Muhammadiyah pun mendunia dengan konsep internasionalisasi Muhammadiyah kepada semesta. Sebagai Kiyai Pembaharu khususnya di Kauman Jogjakarat wilayah elit keraton, Kiyai Ahmad Dahlan tetap mampu menjalankan dengan sabar sekali pun beratnya perjuangan dakwah yang penuh tantangan penolakan, kebencian dan takfiri di lingkungan nya. Dengan modal keikhlasan, keteguhan, dan kesabaran bersama santrinya yang setia yang memilih jalan berbeda dengan santri dan anak-anak lainnya akhirnya membuahkan hasil besar, meskipun sedikit ada generasi penerusnya yang kini orientasi materialistis, oportunis dan status quo feodalis jauh dari nilai ajaran Kiyai Ahmad Dahlan tentunya. Ajaran Kiyai Ahmad Dahlan sebagai sang pembaharu yang dikenal sampai hari ini walaupun tak lagi ditanamkan oleh sebagian penerus nya yakni Teologi Al Maun dan Teologi Wal Asri yang sebenarnya juga masih banyak ajaran Keislaman lainnya hasil ijtihad Pembaharuan Kiyai Ahmad Dahlan. Jika pun ada kader Muhammadiyah saat ini dijadikan karakternya seperti Kiyai Ahmad Dahlan, pasti sudah tidak ada lagi yang sanggup jadi kader Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah karena begitu sulit, berat, dan sedihnya hinaan, cacian, dan cobaan yang padahal Kiyai Ahmad Dahlan adalah sosok Kiyai Elit, Habib, bersanad agama, bernasab terhormat saja begitu rendahnya ketika berdakwah untuk Muhammadiyah. Penderitaan generasi salaf awal Muhammadiyah itu tidak akan ada kader Muhammadiyah sekali pun pimpinan pusat mampu dan sanggup mencoba merasakannya perjuangan Kiyai Ahmad Dahlan dan santri generasi awalnya. Itulah namanya level maqam Sang Mujaddid Islam sejati yang wajar jika mendapat gelar pahlawan dan bahkan seharusnya masuk dalam barisan tokoh Islam dunia walaupun posis kelima atau kalau perlu kedua setelah Nabi Muhammad Saw tapi tidak dengan niat ghuluw atau kultus berlebihan.

BACA JUGA :  Kelompok 83 Mahasiswa PMM UMM Ingatkan Pentingnya Cegah Bullying di Kalangan Siswa

Sebagai santri Kiyai Ahmad Dahlan zaman now, generasi khalaf sekarang dan generasi kontemporer saat ini harus bisa mendalami ajaran Islam yang dibawakan Kiyai Ahmad Dahlan, sehingga bukan hanya simbolis, casing, iklan, klaim, atau dalih semata saja. Kiyai Ahmad Dahlan Sang Mujaddid Islam ini saja belum tentu ada generasi Muhammadiyah lagi yang muncul sama setara dengan Kiyai Ahmad Dahlan sang pembaruan ini baik di masa kini dan kelak di masa yang akan datang. Memang benar bahwa Muhammadiyah itu bukan Dahlaniyyah atau Darwisiyyah, akan tetapi Muhammadiyah lahir dari sosok Kiyai Pembaharu yang tak mungkin lepas dari kisah, sejarah dan ajaran Kiyai Ahmad Dahlan. Betapa pun adanya potret perubahan Muhammadiyah hari ini yang tak lagi seperi generasi awal, bukan berarti menghapus, memotong dan dikotomi antara Muhammadiyah dengan Kiyai Ahmad Dahlan. Melainkan untuk terus ditanamkan, diamalkan dan dilanjutkan pemikirannya, pembaharuannya dan juga perjuangannya bukan justru sebaliknya berkemunduran. Semoga yang menajani dakwah bersama Muhammadiyah senantiasa diberikan kekuatan layaknya perjuangan Kiyai Ahmad Dahlan sang Mujaddid Islam yang tak pernah lelah walau sakit, yang tak pernah marah walaupun dibenci, yang tak pernah membalas kejahatan walaupun dihina, yang tak pernah singkat walaupun di lingkungan elit, yang tak pernah pudar walaupun musuh semakin membesar, yang tak pernah takut walaupun ancaman nyawa hilang, yang tak pernah reaksional walaupun situasi mencekam, yang tak pernah lelah walaupun telah lemah fisiknya, yang tak pernah emosional sekalipun dipancing dalam amarah, yang tak pernah baperan walaupun lingkungan menertawakan, dan tentunya kuat, ikhlas dan istiqomah dalam bermuhammadiyah untuk kemajuan umat sebagai sang pembaharu pelita umat islam indonesia khususnya.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Kader Kokam Diklatsar Sleman-DIY)