MDMC Gelar Pelatihan Fasilitator Masjid–Mushola Tangguh Bencana: Mewujudkan Rumah Ibadah sebagai Pusat Ketangguhan Komunitas

Inisiatif ini menjadi bukti komitmen Muhammadiyah dalam merespons tantangan kebencanaan secara proaktif dan inklusif, mengintegrasikan nilai keagamaan dengan praktik-praktik kebencanaan yang berbasis komunitas.

WARTAMU.ID, Yogyakarta – Sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)–Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar kegiatan Pelatihan Fasilitator Masjid–Mushola Tangguh Bencana. Pelatihan ini berlangsung di Wisma Sargede, Yogyakarta, dengan melibatkan peserta dari enam provinsi di Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola rumah ibadah agar tidak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga mampu berperan sebagai pusat evakuasi dan edukasi kebencanaan di tengah masyarakat. Hal ini penting, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2024 terdapat 388 rumah ibadah yang terdampak bencana. Kondisi ini menunjukkan urgensi perlunya kesiapsiagaan di sektor keagamaan, terutama masjid dan mushola yang kerap menjadi tempat berlindung saat krisis terjadi.

Membangun Ketangguhan Fisik dan Sosial dari Masjid

Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa masjid dan mushola harus dirancang sebagai tempat yang aman dan siap dalam menghadapi bencana, baik dari aspek fisik bangunan maupun fungsi sosialnya.

“Masjid dan mushola tidak cukup hanya menjadi tempat beribadah. Keduanya harus bisa menjadi pusat evakuasi serta edukasi kebencanaan bagi warga sekitar,” tegas Budi.

Ia menambahkan bahwa pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan dasar mengenai mitigasi, penanggulangan, dan pemulihan pascabencana, sehingga mereka dapat menjadi fasilitator yang efektif di lingkungan masing-masing.

“Kami ingin masjid dan mushola Muhammadiyah menjadi pusat ketangguhan masyarakat, yang mampu merespons secara cepat dan tepat dalam menghadapi bencana,” tambahnya.

Pelatihan Kolaboratif Berbasis Praktik

Pelatihan selama tiga hari ini diikuti oleh 21 peserta dari enam provinsi, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Para peserta merupakan pengelola masjid dan mushola Muhammadiyah yang telah berperan aktif dalam pelayanan sosial dan keagamaan di wilayah masing-masing.

Materi pelatihan mencakup sesi teori dan praktik, mulai dari simulasi kebencanaan, penyusunan SOP tanggap darurat, pembentukan struktur tim siaga berbasis takmir masjid, hingga pemahaman fikih kebencanaan yang disampaikan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid.

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi lintas majelis dan lembaga di lingkungan Muhammadiyah, yakni Majelis Tabligh, Majelis Tarjih, LPCRPPM, dan LLHPB ‘Aisyiyah, serta didukung oleh Lazismu Pusat.

“Masjid Solusinya”

Wakil Ketua LPCRPPM PP Muhammadiyah, Muhammad Da’i, turut hadir dalam kegiatan ini dan menyampaikan apresiasinya. Ia menegaskan pentingnya pengelolaan masjid yang terorganisir dan kolaboratif sebagai bagian dari upaya membangun peradaban.

“Masjid harus dimakmurkan dan memakmurkan. Dari masjid kita bangkit, dan apa pun masalahnya, masjid solusinya,” ungkapnya.

Menuju Masjid Tangguh sebagai Pilar Masyarakat

MDMC berharap pelatihan ini akan melahirkan fasilitator-fasilitator yang mampu menjadikan masjid dan mushola Muhammadiyah sebagai titik pusat ketangguhan komunitas. Rumah ibadah diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpul secara spiritual, tetapi juga menjadi benteng pertama saat bencana datang.

Inisiatif ini menjadi bukti komitmen Muhammadiyah dalam merespons tantangan kebencanaan secara proaktif dan inklusif, mengintegrasikan nilai keagamaan dengan praktik-praktik kebencanaan yang berbasis komunitas.

BACA JUGA :  Mendikdasmen RI Prof. Dr. Abdul Mu'ti: Dakwah Komunitas Lebih Efektif dalam Menyampaikan Pesan Islam di Era Modern