Pemerintah Apresiasi Peran MDMC Muhammadiyah sebagai Mitra Strategis Penanggulangan Bencana

Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-3 tahun ini kembali menjadi ruang kolaboratif yang memadukan pelatihan, apresiasi, dan refleksi bersama para aktor kemanusiaan yang konsisten dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas.

WARTAMU.ID, Jumat, 27 Juni 2025 — Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana di tanah air. Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), organisasi ini dinilai sebagai salah satu mitra terbaik pemerintah dalam merespons berbagai situasi darurat dan kebencanaan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Lilik Kurniawan, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), saat menyampaikan materi dalam sesi sharing Jambore Nasional ke-3 Relawan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di kawasan pelatihan relawan Muhammadiyah, Jumat (27/6).

MDMC luar biasa. Mereka menjadi salah satu mitra terbaik pemerintah di daerah bencana,” ungkap Lilik di hadapan ratusan relawan. Ia menekankan bahwa keberhasilan Muhammadiyah dalam banyak operasi kemanusiaan menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara masyarakat sipil dan negara dalam membangun sistem tanggap bencana yang efektif.

Dalam forum tersebut, Lilik menggarisbawahi pentingnya ketangguhan bangsa yang dibangun secara kolaboratif. Ia menyoroti kampanye #EWSforAll (Early Warning System for All), yang bertujuan agar setiap individu, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan informasi dini saat bencana mengancam.

“Peringatan dini harus inklusif. Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal, baik karena keterbatasan akses, disabilitas, maupun hambatan sosial lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lilik juga menegaskan dukungan pemerintah terhadap prinsip #GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dalam seluruh tahapan penanggulangan bencana. Menurutnya, keterlibatan aktif kelompok rentan adalah indikator utama sistem kebencanaan yang adil dan berkelanjutan.

“Filosofi tangguh bencana adalah memastikan setiap warga, khususnya yang tinggal di wilayah rawan, memiliki pengetahuan dan kemampuan mitigasi. Ini bukan hanya tugas lembaga besar seperti BNPB atau Basarnas, tapi juga tanggung jawab komunitas lokal,” terang Lilik.

Ia menekankan bahwa dalam situasi darurat, penolong pertama sering kali adalah orang terdekat, bukan aparat pemerintah. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat lokal menjadi prioritas utama dalam strategi pengurangan risiko bencana.

Dalam konteks ini, Lilik juga menyerukan kepada para pemimpin daerah dan pembuat kebijakan untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam merumuskan keputusan yang berdampak pada lingkungan dan keselamatan masyarakat. “Kebijakan yang tidak peka terhadap risiko bencana bisa menciptakan bencana baru, bukan solusi,” tegasnya.

BACA JUGA :  MCCC Dan PDM Purbalingga Siapkan 5000 Dosis Vaksin Covid-19

Sebagai penutup, Lilik Kurniawan menyampaikan harapan agar Muhammadiyah terus menjadi pelopor dalam membangun #BudayaTangguhBencana di seluruh pelosok Indonesia. Ia menyebut kekuatan jaringan Muhammadiyah yang menjangkau hingga ke level akar rumput sebagai modal sosial penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih siap dan resilien terhadap ancaman bencana.

Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-3 tahun ini kembali menjadi ruang kolaboratif yang memadukan pelatihan, apresiasi, dan refleksi bersama para aktor kemanusiaan yang konsisten dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas. Dukungan pemerintah terhadap gerakan ini menjadi sinyal kuat pentingnya kemitraan lintas sektor dalam menjawab tantangan kemanusiaan masa kini dan mendatang.