WARTAMU.ID Sumenep – Kondisi petani tembakau di Pulau Madura kembali menjadi sorotan. Di tengah meningkatnya biaya produksi, mulai dari pupuk, pestisida, hingga ongkos operasional, harga jual tembakau di tingkat petani justru dilaporkan mengalami penurunan yang signifikan.
Situasi tersebut dinilai semakin membebani petani yang menggantungkan penghidupan dari komoditas tembakau. Banyak di antara mereka dikhawatirkan mengalami kerugian karena harga jual tidak lagi sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.
Khatim,Aktivis sekaligus mahasiswa pascasarjana di Universitas Annuqayah, yang mengaku mewakili aspirasi petani tembakau, mengatakan harga tembakau yang layak berada pada kisaran Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram agar petani masih memperoleh keuntungan yang dapat menutup biaya produksi.
“Faktanya, saat ini harga tembakau di tingkat petani hanya berkisar Rp50.000 per kilogram. Dengan kondisi biaya pertanian yang terus naik, harga tersebut sangat memberatkan petani,” ujarnya
Ia menilai rendahnya harga tembakau tidak sebanding dengan harga produk rokok di pasaran yang terus mengalami kenaikan setiap tahun.
“Harga jual rokok di pasaran terus melambung tinggi. Sangat tidak masuk akal jika daun tembakau hasil jerih payah petani hanya dihargai sekitar Rp50 ribu per kilogram. Modal bertani semakin besar, mulai dari pupuk, obat-obatan, hingga biaya operasional. Kalau kondisi ini terus terjadi, petani yang paling dirugikan,” tegasnya.
Melalui pernyataannya, Khatim mendesak anggota DPR serta pemerintah agar memberikan perhatian serius terhadap persoalan tata niaga tembakau dan berpihak kepada kepentingan petani.
“Kami meminta kepada anggota DPR dan seluruh instansi terkait untuk benar-benar berpihak kepada petani tembakau. Kami membutuhkan kehadiran negara melalui kebijakan yang mampu menciptakan harga yang adil sehingga petani tidak terus berada pada posisi yang dirugikan,”Pungkasnya
Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga tembakau serta menciptakan mekanisme tata niaga yang lebih berpihak kepada petani. Mereka khawatir, apabila kondisi tersebut terus berlanjut tanpa solusi yang jelas, kesejahteraan ribuan keluarga petani tembakau di Madura akan semakin terpuruk.












