Pernahkah kita merasa, semakin baik kita memperlakukan seseorang, semakin berani pula ia memperlakukan kita sesuka hati?
Semakin sering mengalah, semakin dianggap lemah. Semakin banyak memaafkan,semakin mudah kesalahan diulangi.Semakin sering membantu, semakin bantuan dianggap sebagai kewajiban.
Inilah kenyataan pahit: kebaikan tanpa batas sering kali disalahartikan sebagai kelemahan.
Menjadi baik bukan berarti harus selalu mengalah. Memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan terus diulang. Membantu bukan berarti rela dimanfaatkan. Dan diam bukan berarti tidak mampu melawan.
Kita tidak perlu menjadi jahat untuk menunjukkan bahwa kita punya harga diri. Kita hanya perlu belajar menjadi tegas. “Beracun” bukan berarti menyakiti orang lain. “Beracun” adalah memiliki batas.
Tetap lembut,tetapi tidak mudah ditindas.Tetap menolong,tetapi tidak membiarkan diri dimanfaatkan. Tetap memaafkan, tetapi tidak memberikan kesempatan tanpa batas kepada orang yang terus mengulangi kesalahan.
Seperti bunga yang indah dan harum, tetapi memiliki duri. Duri bukan tanda kebencian. Ia adalah perlindungan.
Begitu pula manusia. Kita boleh ramah, rendah hati, dan suka menolong. Tetapi kita juga berhak berkata “tidak” ketika sesuatu sudah melewati batas.
Jangan takut disebut berubah hanya karena kita mulai berani menjaga diri. Bisa jadi, mereka menyebut kita berubah karena mereka tidak lagi bisa memperlakukan kita seperti sebelumnya.
Menjaga diri bukan egoisme. Menetapkan batas bukan kesombongan. Menjauh dari orang yang terus menyakiti bukan berarti dendam.
Kita bisa memaafkan seseorang tanpa kembali mempercayainya sepenuhnya. Kita bisa tidak membenci tanpa harus kembali dekat. Kita bisa mendoakan seseorang tanpa harus terus berjalan bersamanya.Sebab memaafkan adalah tentang membebaskan hati, bukan menghapus batas.
Pada akhirnya,hidup bukan tentang bagaimana membuat semua orang menyukai kita.Hidup adalah tentang bagaimana tetap menjadi orang baik tanpa kehilangan harga diri.
Jangan biarkan keburukan orang lain mengubah kita menjadi jahat. Tetapi jangan pula membiarkan kebaikan kita menjadi alasan bagi orang lain untuk terus menginjak kita.
Tetaplah menjadi bunga yang harum, tetapi milikilah duri. Tetaplah baik,tetapi punya prinsip. Tetaplah pemaaf,tetapi jangan mudah diperdaya.Tetaplah rendah hati,tetapi jangan merendahkan diri sendiri.
Karena kebaikan tanpa ketegasan adalah kerentanan. Sementara kebaikan yang dibarengi prinsip adalah kekuatan. Jadilah baik. Tetapi jadilah baik yang tidak bisa diinjak. Dan jika ketegasanmu dianggap “racun”,biarlah.
Sebab tidak semua “racun” diciptakan untuk menyakiti. Ada yang menjadi peringatan bahwa tidak semua orang boleh menyentuh hidup kita dengan sembarangan.










