WARTAMU.ID, Bima (NTB) – Maraknya pelecahan seksual terhadap perempuan dan anak-anak serta remaja di bawah Umur yang terjadi di Kecematan Langgudu Kab Bima NTB. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Langgudu (HIMLA), serta di dukung masyarakat dan jajaran Pemerintah Kecematan Langgudu, melaksanakan Seminar keperempuanan dengan Tema”Peran Perempuan Dalam Menghadapi Tantangan Global” Di Desa Karumbu Kecematan Langgudu Kab Bima Nusa Tenggara Barat, pada Kamis,3/2/2022.

Dukungan Kades Karumbu Murtalib M.Said. mengatakan bahwa saat di wawancara di aula kantor desanya usai menghadiri seminar di halaman kantor desa Karumbu. “Kegiatan seminar Himpunan Mahasiswa Langgudu (HIMLA) sangat bernilai, kepedulian dan kemampuan khusus di kalangan perempuan, dengan adanya kegiatan ini saya sangat terharu, dan mendukung kegiatan ini” ujar Kades Karumbu.
Kades Karumbu Murtalib sangat bangga terhadap kegiatan ini bahkan bertanggung terhadap kegiatan ini terkait maraknya kasus pelecehan “,inilah yang menarik bagi masyarakat Karumbu dan Langgudu .Kades Sangat mendukung kegiatan seminar yang di lakukan mahasiswa Langgudu yang ingin mencerdaskan Anak anak Bangsa kedepannya. Ujar Kades Karumbu Murtalib.

Syamsuddin,S.Ip Camat Langgudu , mengatakan bahwa ucapan berterima kasih kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat maupun pemuda Langgudu, yang antusias terhadap kegiatan ini. “Perlunya peran perempuan dalam menghadapi globalisasi yang terjadi ditengah tengah masyarakat Langgudu Kab Bima NTB. kekerasan seksual terhadap perempuan menjadi permasalahan yang masih terus terjadi, bahkan meningkat. Kata Camat Langgudu.
Sur’A ,AMD.Keb selaku Ketua Perlindungan Anak Kab Bima mengatakan bahwa, “Maraknya Kekerasan Terhadap Perempuan bahwa dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, kasus kekerasan terhadap perempuan di Kecematan Langgudu naik hingga 50%.Data” Kata Ketua Perlindungan Perempuan dan Anak Kab.Bima

Sur’A, menjelaskan, dari pengalaman pendampingan terhadap korban, ada sejumlah faktor yang menyebabkan perempuan korban kekerasan seksual memilih untuk diam. Antara lain, mereka menganggap peristiwa yang dialami merupakan aib memalukan yang harus ditutupi, mereka takut tidak dipercaya dan disalahkan, khawatir akan konsekuensi negatif yang didapat jika melapor, dan meragukan proses hukum.“Kesemuanya itu berkorelasi dengan akar permasalahan kekerasan berbasis gender yaitu budaya patriarki, ketidaksetaraan gender, penyalahgunaan relasi kuasa, serta minimnya perspektif HAM dan perspektif gender,” ujarnya .
Sedangkan Ketua Umum HIMLA M.Raibav berharap bahwa, “Kita semua adalah tindakan kekerasan seksual bisa dihentikan dengan hadirnya payung hukum yang melindungi korban dan membuat pelaku jera. Namun selama ancaman masih ada, kita wajib waspada setiap saat” ujar Ketua Umum HIMLA.












