WARTAMU.ID, Humaniora – Menginginkan sebuah negeri dengan penuh kebaikan dan berlimpahnya ampunan dari sang Khaliq merupakan cita-cita besar bagi seluruh pemimpin yang merindukan kedamaian hidup. Suatu negeri yang mendapatkan keberkahan dari Allah merupakan tujuan yang tidak mudah, bilamana kekuasaan yang digunakan hanya sekedar memenuhi hasrat nafsu duniawi semata. Belum lagi bila terjadinya pengaruh dari berbagai pihak yang jauh dari kata agama, keislaman dan syariat dalam menjalankan roda pemerintahan yang membuat tarik menarik kepentingan di dalam struktur hirarki tersebut. Sebuah gambaran bahwa tak semua penguasa negeri itu mutlak mampu menggunakan wewenangnya bila terhimpit, tersandra dan terbelenggu oleh para pihak yang berkepentingan baik di dalam secara langsung maupun pihak yang berada diluar secara invisible hand. Tantangan seoarang pemimpin baik pemimpin negara, pemimpin pemerintahan, pemimpin organisasi, pemimpin masyarakat, bahkan pemimpin keluarga itu memiliki tingkat kesulitan yang dinamika suka dukanya sesuai dengan persoalan masing-masing. Sehingga menginginkan negeri yang ideal seperti halnya di dalam sejarah kejayaan Islam untuk terulang kembali merupakan nikmat yang besar di setiap zamannya.
Muhammadiyah sendiri memiliki banyak peran nyata bersejarah dalam menata sebuah negeri dengan kemampuan para tokoh terdahulunya dengan pondasi idealisme, ideologi dan iman yang kuat. Bahkan dalam beberapa hal banyak Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang turut serta menciptakan sebuah sistem kebaikan dalam kehidupan yang menyatukan antara agama dengan negara, antara agama dengan sains, antara agama dengan kemanusiaan, antara agama dengan kesehatan, antara agama dengan pendidikan dan antara agama dengan budaya. Muhammadiyah tidak obral janji, tidak lupa jumawa sendiri, tidak mendoktrin kebencian, tidak bersikap diskriminasi, maupun tidak mereasa menang sendiri, bahkan yang ada Muhammadiyah dalam beberapa justru jadi objek yang tersudutkan, terpojokkan dan terisolasi oleh pihak-pihak lain yang berusaha mengkerdilkan gerak langkah Muhammadiyah di sektor negara maupun pemerintahan tanpa harus melawan balik atau melakukan hal yang sama. Itulah bukti bahwa Muhammadiyah yang juga senior ormas Islam tertua ini terkadang jadi bahan celaan oleh sekelompok ingusan yang baru menikmati mainan kekuasaan berdasarkan pada doktrin diskriminasi oleh para sesepuh terdahulunya. Itu jua yang dapat membuat cita-cita menuju negeri dengan penuh kebaikan jadi terhalang yang dikarenakan para gerombolan bancakan negeri yang semakin tidak tahu diri.
Baldah thoyyibahnya Muhammadiyah adalah konsep gagasan yang merujuk pada kitabullah Al Quran yang kemudian mulai ditancapkan kembali sebagai pondasi dasar bangunan negeri ini akan semakin berkah dari masa ke masa. Konsep baldah thoyyibah atau negeri yang baik, negeri yang berintegritas, negeri yang berkualitas menjadi kenyataan yang harus terus diupayakan melalui para kader-kader nya ketika memiliki jabatan, wewenang, kekuasaan, amanah, dan segala unsur kepemimpinan dalam institusi apapun baik negeri, swasta termasuk persyarikatan itu sendiri. Memahami baldah thoyyibahnya Muhammadiyah tidak seperti kacamata kuda, kacamata infra red atau kacamata kejumudan, melainkan dengan kacamata sejarah kejayaan Islam berdasarkan pada Al Quran dan As sunnah Maqbullah dengan ijtihad jama’I yang menggerakkan segala unsur dengan nilai-nilai iman, taqwa, ikhlas, sabar, syukur dan tawakal ilallah. Blue print baldah thoyyibah berangkat dari kalam ilahi tidak dari ideologi, sehingga menjadi sebuah core values yang bernilai tinggi karena dibalik nya ada unsur kerobbian, keilahian dan kenabian. Sehingga Muhammadiyah juga memiliki peran penting dalam mengusung startegis baldah thoyyibah agar juga sampai pada tujuan warabbun Ghafur dari Allah azza wa jalla.
Secara garis besar ada 5 intisari baldah thoyyibahnya Muhammadiyah yakni 1. ) Religius State atau negara yang beragama sesuai dengan falsafah sila pertama Pancasila dengan ketuhanan yang Maha Esa. Warga negara yang baik yang harus taat agama dan jangan merusak agama itu sendiri dengan dalih nafsu kuasa iblisnya terhadap wewenang apapun. 2.) Blessing State atau negara yang berkah juga menjadi poin penting untuk mewujudkan negeri yang penuh dengan ampunan Allah terhadap para hambanya yang lalai serta merusak alam semesta. Penting nya mewujudkan negeri yang berkah tidak hanya sekedar maju modern berlimpah anggarannya, akan tetapi harus ada keberkahan di dalamnya karena orientasi bukan hanya dunia melainkan akhirat nantinya. 3.) Fair State atau negeri yang adil perlu ditegakkan untuk menjadi negeri yang baldah thoyyibah, sebab keadilan atau al adlah ini harus jadi prinsip dalam mengatur segala persoalan kehidupan dengan bersumber ada wahyu ilahi. Negeri yang adil tentu akan membuat sebuah bangsa menjadi lebih damai tanpa adanya kerusakan yang besar. 4.) Welfare state atau negri yang sejahtera dirasakan oleh seluruh rakyatnya karena sistem berjalan dengan adil sesuai amanat undang-undang tentunya. Kesejahteraan masyarakat merupakan bentuk keberhasilan suatu bangsa bilamana terciptanya keadaan sejahtera membuat hidup lebih tenang dan bahagia. 5.) Humanitarian State atau negeri yang berkemanusiaan dengan menghargai serta menjunjung tinggal sikap manusiawi sesama manusia. Tidak dengan kezoliman, keangkuhan dan segala bentuk sikap merendahkan apalagi diskriminasi manusia, sehingga negeri yang berkemanusiaan tentu akan menjaga harkat martabat sesama manusia. Itulah 5 poin konsep baldah thoyyibah yang harus ditegakkan dan menjadi komponen dasar dalam bernegara sesuai pula dengan pandangan Muhammadiyah.
Gagasan konkret baldah thoyyibahnya Muhammadiyah ini harus didukung oleh seluruh komponen persyarikatan, ortom, amal usaha dan semua afiliasinya sebagai upaya untuk menciptakan negeri yang baik dan negeri yang penuh ampunan dari Yang Maha Kuasa. Semua manusia pada dasarnya menginginkan kedamaian, ketenangan dan kebaikan sekalipun masih banyak kesalahan, keburukan maupun kejahatan yang ada. Merawat Negeri ini dengan nilai keagamaan juga merupakan tugas Muhammadiyah serta ormas islam lain juga turut andil tentunya. Baldah thoyyibahnya Muhammadiyah merupakan penyeimbang kehidupan agar tetap berada dalam koridor kebangsaan dengan penuh kebaikan. Mari seluruh warga persyarikatan Muhammadiyah untuk mengupayakan baldah thoyyibah pada bangsa ini agar kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan dapat dirasakan oleh seluruh warga masyarakat dengan penuh kebahagiaan serta kedamaian yang abadi terhadap negeri yang baik ini.
Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Kajian Dinamika Kehidupan Muhammadiyah)












