RAGAM  

Dinamika Psikologi Sosial Terhadap Pandemi Covid-19

Dinamika Psikologi Sosial Terhadap Pandemi Covid-19

WARTAMU.ID, Suara Pembaca – Tidak kita ketahui awalnya kedahsyatan dari COVID-19 yang muncul pertama kali dari kota Wuhan di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Sampai perhatian dunia saat ini fokus kepada pandemi COVID-19, dimana penyebaran Pandemi COVID-19 secara cepat dan luas mengakibat perubahan signifikan pada segala aspek kehidupan masyarakat. Pandemi COVID-19 telah menimbulkan keresahan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ada beberapa dinamika psikologi pandemi COVID-19 yang menjadi perhatian dalam perspektif psikologi sosial, yaitu pengolahan informasi dan bias kognisi, perubahan emosi dan perilaku, serta perngaruh sosial dan konformitas. Tulisan ini mencoba membahas dinamika psikologi sosial terhadap pandemi COVID-19 yang terdiri dari dinamika psikologi sosial dan apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi COVID-19. Dinamika psikologi sosial itu tidak lepas dari interaksi antara karakteristik personal (kepribadian, nilai, pengatahuan), situasi (budaya, norma, agama), dan kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19. Memahami dinamika psikologis sosial pandemi COVID-19 membantu kita untuk bagiamana berpikir, bersikap dan berperilaku, serta memberikan masukan bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam membuat kebijakan penanganan COVID-19 secara akurat, efektif, dan komprehensif. Penyakit pandemi mempengaruhi psikologis orang secara luas dan masif, mulai dari cara berpikir dalam memahami informasi tentang sehat dan sakit, perubahan emosi (takut, khawatir, cemas) dan perilaku sosial (menghindar, stigmasisasi, perilaku sehat). Selain itu, pandemi psikologi, menimbulkan prasangka, dan diskriminasi outgroup yang berpotensi menimbulkan kebencian dan konflik sosial.

PENDAHULUAN

World Health Organization (WHO) telah menyatakan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) sebagai global pandemi sejak Maret 2020. Indonesia sendiri menyatakan jenis penyakit ini yang menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat serta bencana non-alam yang menyebabkan kematian serta menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar (KEMENKES RI, 2020). Sementara kasus COVID-19 di Indonesia pertama kali diketahui pada tanggal 2 Maret 2020 dan sampai tanggal 16 Mei 2020 jumlah korban yang terinfeksi telah mencapai 16.496 orang dengan 3083 orang meninggal dan 1076 (https://www.covid19.go.id/).

Virus ini merupakan varian virus baru yang ditemukan pertama kali di Wuhan China tahun 2019. Kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrom Coronavirus Disease-2019 (COVID-19). Virus Corona memiliki gejala yang mirip dengan SARS. Jika dilihat dari persentase angka kematian, kasus kematian akibat COVID-19 lebih rendah dibanding SARS. Meskipun demikian jumlah kasus COVID-19 lebih banyak dibanding SARS. COVID-19 juga mempunyai penyebaran yang cepat dan luas dibanding SARS (Agung, 2020). Pembeda virus ini adalah mudah menular, transparansi informasi, kekuarangan pasokan bagi tenaga medis, masalah inkubasi virus tidak jelas, karantina bersakala besar, dan “infodemic” yang unik yaitu banyaknya informasi di media sosial yang menyebabkan pengaruh psikologis pada banyak orang (Dong & Bouey, 2020).

Penyebaran COVID-19 yang cukup luas membawa banyak dampak bagi masyarakat dan terkhusus pasien COVID-19 sendiri (Suaibatul, 2021). Kasus kematian akibat COVID-19 dan tindakan isolasi dapat mempengaruhi kesehatan mental masyarakat. Ditemukan bahwa tingginya angka kematian dan perpanjangan isolasi di suatu daerah memicu depresi, kecemasan, rasa takut berlebihan serta perubahan pola tidur masyarakat. Dimana hal ini tidak hanya memperburuk kondisi kesehatan mental namun juga fisik. COVID-19 secara signifikan telah merubah prilaku sosial masyarakat hanya dalam hitungan bulan. Bukan hanya prilaku individu tetapi juga kelompok. Stigma mengenai COVID-19 mulai bermunculan. Mulai dari penolakan sampai diskriminasi terhadap orang dengan COVID-19, seperti para tenaga kesehatan, pasien, kerabat pasien bahkan jenazah orang dengan COVID19.(Suaibatul Aslamiyah.2021).

Selain itu, dampak COVID-19 itu begitu dashyat. Dampaknya yang nyata adalah kehilangan nyawa atau kematian, penurunan dan pelambatan ekonomi (resesi), terganggu aktivitas pendidikan, ekonomi dan sosial, dan yang paling mengkhawatir dampak psikologis dan perubahan perilaku pada masyarakat. Tulisan ini coba membahas COVID-19 dari perspektif psikologi sosial, serta mencoba memberikan gambaran sosial psikologis bagaimana individu mempersepsikan COVID-19, apa implikasi pada perubahan kognitif, afektif dan perilaku manusia. Serta apa yang dapat kita lakukan dalam menghadapi masa pandemi COVID-19.

PEMBAHASAN

Taylor (2019) dalam bukunya “The Pandemic of Psychology” menjelaskan bagaimana penyakit pandemi mempengaruhi psikologis orang secara luas dan masif, mulai dari cara berpikir dalam memahami informasi tentang sehat dan sakit, perubahan emosi (takut, khawatir, cemas) dan perilaku sosial (menghindar, stigmasisasi, perilaku sehat). Selain itu, pandemic psikologi, menimbulkan prasangka, dan diskriminasi outgroup—yang berpotensi menimbulkan kebencian dan konflik sosial. Misalkan, penamaan virus corona dengan nama virus Wuhan atau Virus China di awal wabah, telah menimbulkan prasangka, kebencian dan diskriminasi terhadap warga china di beberapa negara, seperti di Autsralia dan Amerika. Pandemi COVID-19, telah mengubah manusia dalam berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.

Pandemi memberikan dampak psikologis yang signifikan pada manusia. Ada tiga elemen dalam pandemi, yaitu elemen yang menyebabkan infeksi (virus, bakteri), host (manusia) yang berkaiatan dengan faktor psikologis dalam mengatasi ancaman penyakit tersebut.Terakhir, lingkungan sosial dan fisik yang membantu manusia menghadapi pandemi (Taylor, 2019). Ketiga elemen tersebut saling berinteraksi saling mempengaruhi dalam situasi pandemi. Psikologi pandemi telah mengubah psikologis manusia dalam memahami diri dan relasi sosial. Peningkatan jumlah kasus semakin meningkat setiap hari mulai jumlah orang ternfeksi dan jumlah kematian, serta dampak pada sosial, dan ekonomi menjadikan kita cenderung lebih waspada dan khawatir. Namun informasi negatif tersebut tidak cukup membuat sebagian besar masyarakat patuh melindungi dirinya, dengan menggunakan masker ketika keluar rumah, karena bias kognisi seperti bias optimistik, yaitu kecenderungan menilai dirinya tidak mengalami risiko terkena penyakit dibandingkan orang lain.

Banyaknya jumlah yang terkena COVID-19, tidak menyebabkan individu lebih waspada dan protektif pada dirinya. Keyakinan tersebut, sangat beresiko dan berbahaya pada konteks wabah COVID-19 sekarang ini. Bias kognisi sosial mempengaruhi diri individu dalam berpikir dan berperilaku. Bias kognisi dapat disebabkan paparan informasi yang tersedia dalam individu. Paparan informasi yang masif mengenai COVID-19 menyebabkan jumlah ketersediaan informasi mengenai COVID-19 pada individu lebih banyak daripada yang lain.

Hasil survei tentang frekuensi mengakses informasi COVID-19 oleh Iskandarsyah & Yudiana (2020) terhadap 3686 partisipan dari berbagai wilayah Indonesia menunjukkan sebanyak 44,9% sebanyak < 3 kali, 37%, 4-5 kali, 9,9%, 6- 10 kali dan 8,2% > 10 kali. Ditambah lagi karakter manusia sebagai cognitive misers, yaitu keengganan untuk berpikir secara dalam dengan usaha yang lebih kuat (Pennington, 2000). Akibatnya, potensi terjadi bias heuristik sangat besar. Heuristik adalah proses berpikir (penilaian, pengambilan keputusan) dalam waktu cepat dan seakan tanpa usaha yang berarti (Baron & Byrne, 2003). Terkadang individu mengandalkan heuristik untuk menuntun mereka pada bahaya yang terungkap dalam situasi yang ambigu. Misalkan, individu dapat menafsirkan kecemasan mereka sendiri atau perilaku mencari keselamatan sebagai indikator ancaman (Blakeya & Deacon, 2015). Jadi, heuristik dapat mempengaruhi individu dalam berpikir dan berperilaku dalam kondisi pandemi COVID-19.

Hasil penelitian Wang, dkk (2020) yang melibatkan 1.210 responden dari 194 kota di Cina. Secara total, 53,8% responden menilai dampak psikologis dari wabah tersebut sedang atau berat; 16,5% melaporkan gejala depresi sedang hingga berat; 28,8% melaporkan gejala kecemasan sedang hingga berat; dan 8,1% melaporkan tingkat stres sedang hingga berat. Hasil penelitian tersebut juga menunjukan bahwa perempauan, lebih rentan terkena stress, cemas dan depresi. Hal senada dengan penelitian Li, dkk (2020) pada 17,865 pengguna aktif Weibo dengan model machine learning. menunjukkan bahwa terjadi peningkatan emosi negatif (cemas, stress) dan penilaian risiko, sementara emosi positif (kebahagiaan, kepuasan hidup) mengalami penurunan. Respon emosi negatif saat COVID19 tidak hanya terjadi pada orang awam saja, namun kaum pekerja medis pun terkena.

Hasil studi di Singapura menunjukkan bahwa COVID-19 berdampak terhadap pekerja medis dan non medis yang bekerja di rumah sakit, seperti kecemasan, stres ,post tautamtic stress disorder ( PTSD) dan depresi (Tan, dkk., 2020). Sementara studi Huang, dkk (2020) di China menunjukkan bahwa perawat mengalami emosi negatif (cemas dan takut). Sebagai garda terdepan dalam penanganan COVID-19, pekerja medis (dokter, perawat, & staff) menghadapi situasi yang tidak pasti, penuh risiko,dan tertekan sehingga mudah mengalami gannguan psikologis. COVID-19 memberikan dampak signifikan terhadap kondisi mental pekerja medis. Sebenarnya perubahan emosi, seperti khawatir, cemas dan stres merupakan respon biasa ketika menghadapi situasi pandemi. Hal itu merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri atau tanda bahwa ada ancaman yang kita hadapi. Namun, apabila berlebihan, maka akan menganggu kondisi psikologis individu, seperti mengalami depresi.

Data Kementerian ketenagakerjaan mencatat sampai tanggal 10 Apri 2020, sudah ada 1,5 juta yang kehilangan pekerjaan karena COVID-19 (Cnbnindonesia, 2020). Ketika kebutuhan hidup terganggu, maka kondisi ini akan rentan menimbulkan gangguan psikologis lebih hebat dibandingkan COVID-19 itu sendiri. Artinya, pandemi COVID19 secara tidak langsung mempengaruhi kondisi psikologis. Relasi sosial terbatas, tidak dapat berkumpul dengan keluarga (mudik), menimbullkan perasaan kehilangan, kesendirian dan kesepian yang berpotensi memperburuk emosi individu.

Hasil studi Brooks, dkk (200) pada 24 artikel tentang dampak karantina wilayah menunjukkan sebagian besar penelitian yang diulas melaporkan efek psikologis negatif termasuk gejala stres pasca-trauma, kebingungan, dan kemarahan. Stresor termasuk durasi karantina yang lebih lama, ketakutan akan infeksi, frustrasi, kebosanan, persediaan yang tidak memadai, informasi yang tidak memadai, kerugian finansial, dan stigma. Situasi psikologis ini yang dirasakan negaranegara yang mengalami karantina atau lockdown, seperti Itali, Spanyol, Rusia, India dan Iran. Perubahan Perilaku Sosial COVID-19 telah mengubah signifikan kehidupan manusia hanya dalam hitungan bulan, perilaku sosial manusia berubah drastis akibat penyesuaian terhadap pandemi COVID19.

Perubahan tidak hanya terjadi pada level individu tetapi juga kelompok, organisasi dan perusahaan. Hampir semua aspek terkena, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik dan agama. Perubahan itu menimbulkan ketidaknyamanan dan gejolak sosial di masyarakat. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan media online di beberapa wilayah di Indonesia, terdapat perubahan perilaku masyarakat akibat COVID-19.

Perubahan itu berasal dari inisiatif sendiri maupun himbauan atau perintah dari otoritas yang berwenang. Misalnya jaga jarak sosial ketika berinteraksi, dan peningkatan solidaritas masyarakat dalam bentuk kepeduliaaan dan perilaku prososial pada masa pandemi. Di sisi lain, pandemik dapat meyebabkan perubahan perilaku berdampak gejolak sosial di tengah masyarakat.Misalkan, penolakan jenazah pasien COVID-19 di beberapa daerah. salah satu yang menjadi masalah pada situasi pandemi adalah stigma (Taylor, 2019; APA, 2020). Stigma adalah suatu keyakinan negatif dari individu atau kelompok mengenai sesuatu. Stigma dapat berkaitan dengan sesuatu yang tampak dan tak tampak, kontrol dan tidak terkontrol, penampilan, perlaku dan kelompok. Stigma dibentuk sebagai hasil konstruksi oleh masyarakat, dan budaya pada konteks tertentu. (Major, & O’Brien, 2005).

Stigma memiliki dampak signifikan bagi individu dan sosial (Frost, 2011). Stigma dapat merusak kesehatan mental, dan fisik pada penderita penyakit. Stigma dapat berupa penolakan sosial, gosip, kekerasan fisik, dan penolakan layanan. Mengalami stigma dari orang lain dapat menyebabkan peningkatan gejala depresi, dan stres (Earnshaw, 2020). Ketika seseorang terkena COVID19, maka orang lain akan cenderung memberi stigma negatif ke orang tersebut. Bahayanya, pasien menginternalisasi sitgma dari orang lain (Frost, 2011), bahwa dia orang buruk,orangyang salah karena terinfeksi penyakit. Akibatnya akan memperburuk kondisi psikologis pasien. Stigma negatif penyakit COVID-19, membuat orang cenderung melakukan perbuatan yang melanggar norma, yaitu kebohongan atau tidak jujur ketika ditanyakan berkaitan dengan COVID-19.

Pengaruh Sosial dan Konformitas Dalam Psikologi pengaruh sosial merupakan salah satu tema yang banyak dikaji dan diteliti. Pengaruh sosial berkaitan bagaiman individu atau kelompok mempengaruhi atau dipengahi orang lain (individu, kelompok). Dalam konteks situasi pandemi COVID-19, pengaruh sosial menjadi penting khususnya bagi pemerintah untuk mempengaruhi perilaku masyarakat dalam mengurangi penyebaran COVID-19. Ketika situasi pandemi, keinginan untuk isolasi ditentukan oleh sikap, persepsi norma sosial dan persepsi kontrol perilaku (Zhang, dkk, 2020). Penelitian Wise, dkk (2020) menunjukkan bahwa persepsi risiko tertular dan persepsi dampak COVID-19 (ekonomi, pelayanan kesehatan) meningkat perilaku protektif individu (mencuci tangan, menjaga jarak sosial). Ketakutan dan kecemasan terhadap virus COVID-19 berperan penting dalam mempengaruhi perilaku protektif, seperti mencuci tangan, jarak sosial (Harper, dkk., 2020).

Bagi, pemerintah dan piha-pihak terkait yang bertangung jawab dalam penanganan COVID-19, dapat meiningkatkan sosialisasi tentang cara pencegahan dan penganan COVID-19, serta memberikan informasi yang jelas dan akurat dalam penanganan wabah ini. Selain itu, pemimpin harus mampu menunjukkan kebijakankebijakan yang mampu mengurangi dampak COVID-19 khususnya bagi orang-orang yang rentan, seperti buruh, pekerja harian, pedagang kecil dan sebagainya.Pemerintah harus mampu menjamin aksek layanan kesehatan, dan kebutuhan hidup dengan menjamin stabilitas harga. Akhirnya, kesuksesan program pemerintah tergantung kerjasama semua pihak dalam membantu pemerintah Indonesia dalam mengurangi penularan dan dampak pandemic COVID-19 baik secara materi maupun psikologis.

PENUTUP

Sejauh ini dampak gerak sosial berjarak dapat dikatakan salah satu rekayasa tingkah laku yang mampu menahan laju penularan penyakit ini. Pada beberapa negara, jumlah penderita berkurang baik secara nyata maupun secara perhitungan prediksi. Hal ini untuk sementara membuat kita dapat menarik nafas sejenak. Namun kondisi ini belum berakhir. Tulisan ini dibuat dalm kondisi pandemik masih berlangsung. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan. Jumlah yang tertular masih meningkat, dan angka kematian masih mengikutinya. Walau demikian kita masih optimistis dalam menghadapi wabah ini, dengan prinsip psikologi. Saatnya untuk psikologi berubah dari “psikologi untuk Anda” menjadi “Psikologi dari kita, oleh kita, dan untuk kita”. 

Download Artikel Lengkap >>Disini<<

Oleh : Elma Rabbani Akas
Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)

 

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *