RAGAM  

Sambut Ramadhan, Damai Dalam Perbedaan

Oleh : HERIMIRHAN, S. Ag (Guru SMP Lazuardi Haura GCS, Pengurus DPW AGPAII Prov. Lampung)

Herimirhan, S.Ag (DPW AGPAII Provinsi Lampung)

WARTAMU.ID, Lampung – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah menggelar Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1443 H pada hari Jumat (1/2/2022).

Dalam sidang tersebut Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama, menyampaikan bahwa ibadah tarawih sudah dapat dilakukan pada hari, Sabtu (2/4/2022), sementara ibadah puasa dapat dilakukan pada esok hari, “Sidang tadi sudah selesai dilaksanakan, siding diawali oleh pemaparan hilal yang disampaikan menjelang Magrib oleh pakar astronomi yang juga anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag, Profesor H. Thomas Djamaluddin bahwa ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia pada posisi antara 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit,” tutur beliau.

Namun demikian ada juga sebagian masyarakat telah lebih dahulu melaksanakan puasa pada hari sebelumnya. Organisasi keagamaan Muhammadiyah sudah lebih dahulu menetapkan jadwal puasa dan imsakiyah Ramadan 1443 Hijriah atau 2022.

Muhammadiyah telah menetapkan jadwal awal puasa Ramadan 1443 Hijriah jatuh pada Sabtu, 2 April 2022. Penetapan jadwal puasa itu dilakukan lewat Maklumat Nomor 01/MLM/I.0/E/2022 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1443 Hijriah. Adapun dalam maklumat tersebut, juga ditetapkan mengenai 1 Syawal 1443 H yang ditetapkan pada Senin, 2 Mei 2022.

Penetapan awal Ramadan dan Syawal 1443 Hijriah tersebut berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Organisasi keagamaan lain seperti Jemaah Tarekat Naqsabandiyah. Tarekat yang ada di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) menetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 1 April 2022. Para penganut tarekat ini menetapkan awal puasa Ramadhan lewat metode hisab munjid dan bukan dengan cara rukyat atau melihat bulan.

Edizon, mantan Sekretaris Pengurus Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang, mengatakan, dari penetapan Ramadhan yang dilakukan, jumlah puasa Ramadhan 2022 genap 30 hari. “Motode yang kami lakukan menggunakan hisab munjid. Dari penetapan (awal ramadhan) ibadah puasa genap 30 hari,” sebagaimana dikutip SuaraSumbar.id.

Dinamika perbedaan argumentasi penetapan awal puasa sejatinya menjadi pelajaran berharga tentang nilai nilai moderasi dalam bidang keagamaan, bahwa perbedaan itu indah dan damai, tidak mengklaim dirinya yang paling benar dan menyalahkan yang lain. Karena semua argumentasi yang disajikan tentang penetapan awal bulan suci ramadhan memiliki metode dan caranya masing masing. Jadikan perbedaan itu menjadi suatu rahmat dan welas asih sebagaimana diungkapkan “Al – Ikhtilaafu Ummati Rahmah” (perbedaan di antara umatku adalah rahmat), begitulah bunyi sabda Rasulullah SAW yang tertuang dalam haditsnya.

Dalam menentukan awal bulan Ramadan dan bulan Syawal untuk memulai dan mengakhiri puasa, sampai saat ini jumhur (mayoritas ulama) berpedoman pada rukyat. Yang dimaksud adalah melihat bulan baru (هلال) dengan mata kepala (رؤية بصرية), bukan penglihatan ilmiah (رؤية علمية) dengan menggunakan perhitungan (حساب).

Bila penglihatan riil dengan mata kepala tidak terjadi meski karena terhalang awan, mereka menggenapkan bulan Syakban/Ramadhan menjadi 30 hari. Dasar mereka adalah hadis riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Berpuasalah kamu ketika telah melihat hilal Ramadan dan berhentilah kamu berpuasa ketika telah melihat hilal bulan Syawal, jika hilal tertutup bagimu maka genapkanlah bulan syakban menjadi 30 hari”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kehadiran bulan yang penuh keberkahan, bulan penuh pengampunan dan welas asih adalah suatu kebahagiaan dan keniscayaan yang selalu menjadi momentum yang selalu dinanti, sebagai hamba Allah yang memiliki lisensi keimanan telah mendapatkan panggilan langsung dari Allah SWT melalui perantara firmannya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah : 183).

Sebagai umat yang beriman sepatutnya dapat mempersiapkan diri untuk menyambutnya baik secara fisik, mental dan spiritual, harta dan lainnya agar semangat serta mengisi aktivitas dan ibadah Ramadhan secara maksimal maupun optimal. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai disebutkan “Barangsiapa yang bergembira datangnya bulan ramadhan, diharamkan Allah jasadnya menyentuh api neraka”. diperkuat juga dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah “seandainya umatku tahu keutamaan bulan puasa merekan akan meminta supaya bulan yang ada dijadikan puasa selamanya.

Sambut bulan Ramadhan dengan bahagia, adalah ciri-ciri orang yang diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT. “Ramadhan adalah cara Allah SWT untuk kembali mengangkat derajat kita sehingga kita semua yang mungkin telah berlumur dengan dosa, di bulan ramadhan ini waktunya untuk bangkit kembali, menjadi hamba-Nya.” datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang dinanti-nantikan, maka perlu dipersiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika kita semua menjumpai Ramadhan.

“Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Baginda Rasulullah SAW sebagai suri tauladan (uswatun hasanah) dalam menanti hadir bulan yang penuh berkah dua bulan sebelumnya beliau sudah memohon kepada Allah SWT agar dipanjangkan usianya sehingga Beliau dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Menjelang Ramadhan tiba beliau juga menyampaikan basyarah (kabar gembira) sekaligus pengarahan dan motivasi kepada para sahabatnya terkait dengan bulan Ramadhan.

Seperti yang diriwayatkan oleh sayyid bin thawus dan syeikh shaduq, dengan sanad dari Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khatab ra, dia berkata: bahwa Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam pada suatu hari menjelang bulan Ramadhan tiba berpidato di hadapan kami:

“Wahai manusia Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah Subhana Wa Taala dengan membawa berkah rahmat dan magfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah Subhana Wa Taala. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama, inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah Subhana WaTaala dan dimuliakan oleh-NYA. Dibulan ini nafas-nafas mu menjadi tasbih tidurmu ibadah amal-amal mu diterima dan doa-doamu diijabah.

Bermohonlah kepada Allah Subhana WaTaala Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah Subhana Wa Taala membimbingmu untuk melakukan shiyam (puasa) dan membaca kitab-NYA. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah SWT dibulan agung ini. Sesungguhnya diri-dirimu tergadai Karena amal – amal mu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat Karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa ini maka disisi Allah SWT nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia di beri ampunan atas adosa-dosa yang lalu. Siapa yang membaguskan akhlaqnya dibulan ini ia akan berhasil melewati sirathal mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Sesungguhnya pintu-pintu surge dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhan mu agar tidak pernah menutupkan nya kembali bagimu, pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabb mu untuk tidak akan pernah di bukakan kembali bagimu, setan-setan terbelenggu maka mintalah agar ia tidak lagi pernah menguasai dirimu kembali.

Ramadhan adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu bulan memberi pertolongan dan bulan Allah SWT memberi rezki kepada mukmin di dalamnya. Ramadhan itu bulan welas asih penebar kasih sayang, kedamaian, keperdulian social, pelebur dosa.

Oleh Karena itu perbanyaklah dengan empat perkara dibulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhan Tuhan mu, dan dua perkara lagi kamu sangat membutuhkannnya; dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan mohon ampun kepada-NYA,sedangkan dua perkara yang kamu sangat membutuhkan nya ialah memohon surga dan perlindungan dari neraka.

Marhaban Yaa Ramadhan 2022.

Oleh : Herimirhan, S.Ag
DPW AGPAII Provinsi Lampung

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)