WARTAMU.ID, Baturaja OKU (Sumsel) — Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Baturaja menyelenggarakan Kuliah Dosen Tamu dengan tema “Survival Politik dan Tata Kelola Daerah: Pelajaran Mendesain Kepemimpinan dari Kayong Utara.” Acara yang berlangsung di Auditorium Universitas Baturaja ini menghadirkan H. Effendi Ahmad, S.Pd.I, Wakil Bupati Kayong Utara Provinsi Kalimantan Barat periode 2018–2023, sebagai narasumber utama. Selasa, (02/12/2025).
Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme ini dibuka oleh Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, Yahnu Wiguno Sanyoto, M.I.P. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya memahami dinamika politik lokal secara komprehensif, terutama dalam konteks otonomi daerah yang menuntut pemimpin untuk cerdas secara politik sekaligus cermat dalam tata kelola. Sesi diskusi dipandu oleh Eva Susanti, M.Si., dan dihadiri para dosen serta mahasiswa Ilmu Pemerintahan.
Dalam pemaparannya, narasumber memberikan sudut pandang langsung dari pengalaman memimpin daerah, khususnya dinamika antara survival politik dan tata kelola pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa otonomi daerah memberikan kewenangan besar kepada kepala daerah, namun sekaligus menghadirkan tekanan besar dari dua sisi: menjaga stabilitas politik dan memenuhi tuntutan pelayanan publik yang transparan serta akuntabel. Dua tekanan ini, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dan menjadi bagian penting dalam seni memimpin.
Kajian yang menjadi dasar materi kuliah menjelaskan bahwa survival politik mencakup berbagai strategi seperti politik transaksional, pembagian sumber daya, pencitraan, populisme, hingga kooptasi terhadap oposisi. Sementara itu, tata kelola daerah yang baik menuntut proses pemerintahan yang partisipatif, transparan, adil, dan efektif. Ketegangan antara kepentingan politik jangka pendek dan kebutuhan tata kelola jangka panjang menjadi tantangan utama yang harus dikelola pemimpin daerah.
Dalam penjelasannya, narasumber menguraikan empat model kepemimpinan yang banyak ditemukan dalam praktik pemerintahan daerah: model pragmatis-transaksional, populis-karismatik, institusional-reformis, dan model hybrid. Setiap model memiliki konsekuensi terhadap tata kelola dan kualitas pembangunan. Ia menekankan bahwa kepemimpinan yang ideal adalah yang mampu memanfaatkan energi politik untuk memperkuat agenda pembangunan, bukan sebaliknya.
Materi kuliah juga menyoroti pentingnya membangun legitimasi berbasis kinerja sebagai strategi survival politik jangka panjang. Pemimpin harus mampu menunjukkan hasil nyata kepada publik, memperkuat birokrasi daerah, membangun sistem yang transparan, serta memastikan kebijakan publik diterima masyarakat melalui komunikasi politik yang efektif.
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis, dengan mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai strategi menghadapi tekanan elite, tantangan reformasi birokrasi di daerah, dan cara mengubah praktik politik menjadi dasar penguatan tata kelola. Narasumber memberikan jawaban berbasis pengalaman langsung, sehingga diskusi terasa relevan dan membumi.
Acara ini menegaskan bahwa survival politik bukanlah hambatan bagi tata kelola, tetapi dapat menjadi energi positif jika dikelola dengan perspektif reformis. Pemimpin daerah ideal adalah yang mampu menyinergikan logika politik dan logika tata kelola secara seimbang, menjadikan pembangunan sebagai dasar konsolidasi kekuasaan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Baturaja berharap mahasiswa semakin memahami kompleksitas dunia pemerintahan daerah dan mampu membangun perspektif kritis mengenai desain kepemimpinan lokal yang efektif dan berkelanjutan.












