Pelanggan cukup scan QR Code untuk pesan & bayar langsung dari HP. Kelola keuangan bisnis jadi lebih simpel dan terpantau online.

Muhammadiyah Dinilai Punya Modal Kuat untuk Berkiprah di Dunia Internasional

Muhammadiyah Punya Modal Besar untuk Perkuat Peran di Dunia Internasional

WARTAMU.ID, JAKARTA Muhammadiyah dinilai memiliki modal sosial, kelembagaan, sumber daya manusia, dan tradisi keilmuan yang kuat untuk memperluas perannya di tingkat internasional. Penguatan jejaring global, produksi pengetahuan, serta diplomasi Islam menjadi sejumlah langkah yang dinilai penting dalam agenda internasionalisasi Muhammadiyah.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Fuad Fanani dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (28/8/2026). Dalam paparannya, Fuad membahas pentingnya patriotisme, alasan internasionalisasi Muhammadiyah, langkah yang telah dan perlu dilakukan, hingga berbagai tantangan yang dihadapi.

i
Aplikasi Kasir Posbon
Pelanggan cukup scan QR Code toko untuk membuka menu produk, lalu pesan dan bayar langsung dari HP. Semua otomatis masuk ke dashboard kasir.
Coba

Menurut Fuad, internasionalisasi Muhammadiyah tidak perlu dipertentangkan dengan kecintaan terhadap Indonesia. Justru, sejarah Persyarikatan menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap dunia internasional berjalan beriringan dengan komitmen kuat terhadap tanah air.

Ia mencontohkan sejumlah tokoh Muhammadiyah yang pernah menempuh pendidikan atau berinteraksi dengan dunia Islam internasional, tetapi kemudian membawa pengetahuan dan pengalaman tersebut untuk dikembangkan di Indonesia.

KH Ahmad Dahlan, misalnya, pernah dua kali pergi ke Makkah. Namun, ia tidak memilih menetap di sana. Pengetahuan yang diperolehnya justru dibawa pulang dan dikembangkan melalui gerakan pendidikan dan dakwah di Indonesia.

“Yang diambil itu ide Indonesia, bukan ide kejawaan, bukan ke-Yogyakarta-an, bukan ke-Jawa Timur-an ataupun ke luar Jawa,” ujar Fuad.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa patriotisme dan keterbukaan terhadap dunia luar bukan dua hal yang bertentangan. Muhammadiyah memiliki tradisi mengambil gagasan dari berbagai penjuru dunia, mengolahnya, kemudian membumikannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Fuad juga mengaitkan internasionalisasi dengan prinsip li ta‘ārafū dalam QS Al-Hujurat ayat 13. Menurutnya, perintah untuk saling mengenal dapat diwujudkan dalam konteks kekinian melalui diplomasi, pembangunan jejaring, serta hubungan antarmasyarakat lintas negara.

BACA JUGA :  'Aisyiyah Galang Gerakan Praksis: Mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin Melalui Aksi Nyata

“Tujuannya itu untuk ta’aruf. Ta’aruf itu kalau bahasa sekarang, ya berdiplomasi, berjejaring, berhubungan dengan yang lain,” katanya.

Selain itu, ia mengaitkan semangat internasionalisasi dengan QS Al-Jumu’ah ayat 10 yang memuat perintah untuk menyebar di muka bumi. Prinsip tersebut, menurut Fuad, dapat menjadi inspirasi bagi Muhammadiyah untuk memperluas dakwah, pendidikan, pengabdian, dan kerja sama di berbagai belahan dunia.

“Tidak cukup dengan apa yang kita punyai hari ini,” tegasnya.

Fuad melihat Muhammadiyah memiliki sejumlah kekuatan yang dapat menjadi fondasi internasionalisasi. Tradisi keilmuan dan keterbukaan terhadap gagasan menjadi salah satu kekuatan penting yang telah berkembang sejak awal berdirinya Persyarikatan.

Ia mencontohkan KH Ahmad Dahlan yang membaca karya-karya pembaru Islam, termasuk pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Rida melalui Tafsir Al-Manar. Gagasan tersebut kemudian dipelajari dan disesuaikan dengan konteks masyarakat Indonesia.

Tradisi pendidikan juga menjadi modal penting. Tingkat pendidikan kader dan pimpinan Muhammadiyah yang relatif kuat dinilai dapat mendukung kemampuan Persyarikatan dalam membangun jejaring dan memainkan peran di tingkat global.

Menurut Fuad, kebutuhan untuk memperkuat internasionalisasi semakin penting seiring perubahan konfigurasi dunia. Tatanan global kini bergerak menuju pola multipolar dengan semakin banyak pusat kekuatan dan kepentingan.

Dalam kondisi tersebut, Muhammadiyah memiliki peluang untuk memperkenalkan corak Islam yang moderat, terbuka, dan berkemajuan. Apalagi, sentimen negatif terhadap Islam masih muncul dalam sebagian wacana global, termasuk yang berkembang setelah peristiwa 11 September 2001 dan menguatnya narasi war on terror.

Fuad menilai Indonesia memiliki modal yang kuat untuk memainkan peran tersebut, antara lain melalui jumlah penduduk Muslim yang besar, pengalaman demokrasi, sumber daya manusia, dan kekuatan ekonomi.

Sementara Muhammadiyah memiliki modal tambahan berupa jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, serta berbagai amal usaha yang tersebar luas.

Keberadaan rumah sakit, perguruan tinggi, sekolah, pesantren, serta berbagai organisasi dan komunitas Muhammadiyah di luar negeri menjadi infrastruktur penting dalam membangun jejaring internasional.

“Jadi saya kira itu merupakan modal besar,” ujarnya.

Namun, Fuad mengingatkan bahwa internasionalisasi tidak cukup hanya dengan membangun institusi atau memperluas keberadaan organisasi di luar negeri. Menurutnya, berbagai institusi tersebut merupakan hardware, sedangkan Muhammadiyah juga membutuhkan software berupa gagasan, riset, kajian, diskusi, dan produksi pengetahuan yang dapat diperbincangkan di tingkat internasional.

BACA JUGA :  Unik Emak-emak Relawan Edukasi Covid-19, "Suami Sendiri Tak Mau Vaksin"

Ia mendorong agar kajian mengenai Muhammadiyah dilakukan secara lebih serius, kritis, dan berkelanjutan. Penguatan kajian internasional penting agar Muhammadiyah tidak hanya dikenal melalui keberadaan institusinya, tetapi juga melalui gagasan dan kontribusinya terhadap masyarakat dunia.

Fuad menceritakan pengalamannya ketika menulis disertasi mengenai Muhammadiyah di Australian National University. Menurutnya, dorongan dari akademisi di luar negeri menunjukkan bahwa kajian tentang Muhammadiyah masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan, terutama dalam melihat perkembangan Persyarikatan setelah era Reformasi.

Ia juga mengingat pesan Buya Ahmad Syafii Maarif agar kajian tentang Muhammadiyah dilakukan secara kritis dan tetap menjaga jarak sebagai peneliti. Tradisi akademik tersebut dinilai penting agar Muhammadiyah dapat dipahami secara lebih objektif oleh masyarakat internasional.

Dalam bidang diplomasi, Fuad menyarankan Muhammadiyah menggunakan pendekatan active hedging, yakni aktif membangun hubungan dan kerja sama dengan berbagai negara, kelompok, serta komunitas tanpa terjebak pada keberpihakan terhadap satu kekuatan tertentu.

“Active hedging itu kita harus bergerak dan mau bekerja sama dengan siapa saja,” katanya.

Fuad juga melihat peluang Muhammadiyah untuk memainkan peran sebagai jembatan antara dunia Islam dan Barat. Kerja sama dengan pemerintah, Nahdlatul Ulama, serta berbagai organisasi lainnya dapat diarahkan untuk memperkuat dialog dan mengurangi kesalahpahaman antara masyarakat Muslim dan masyarakat Barat.

Menurutnya, pengalaman Muhammadiyah di sejumlah negara menunjukkan bahwa Persyarikatan memiliki modal sosial yang cukup kuat. Citra sebagai organisasi Islam yang relatif terbuka dan ramah dapat menjadi modal penting dalam membangun hubungan internasional.

“Ini kan modal diplomasi yang lebih besar,” ujarnya.

Selain membangun hubungan dengan masyarakat Barat, Fuad mendorong Muhammadiyah membuka ruang yang lebih luas bagi imam dan tokoh Muslim dari berbagai negara. Pertukaran tersebut dapat menjadi bagian dari diplomasi Islam sekaligus memperkuat jaringan masyarakat Muslim lintas negara.

Lebih jauh, ia mengusulkan agar Muhammadiyah mulai mempertimbangkan peran yang lebih besar sebagai mediator dalam konflik internasional, termasuk konflik di Timur Tengah.

Menurut Fuad, kemampuan menjadi mediator tidak selalu bergantung pada kekuatan negara. Hubungan antarmasyarakat atau people-to-people relations juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kepercayaan dan dialog.

BACA JUGA :  Kolaborasi Forum PRB dan Sekber SPAB Jadi Kunci Percepatan Implementasi Pendidikan Tangguh Bencana

“Jadi soal mediasi ini sebetulnya bisa kita lakukan dan kita bisa konkretkan,” katanya.

Fuad menilai Muhammadiyah telah memiliki infrastruktur yang dapat menopang peran tersebut. Keberadaan Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah, sekolah, universitas, serta berbagai amal usaha di sejumlah negara dapat menjadi basis untuk membangun jejaring sekaligus diplomasi masyarakat.

Meski demikian, kekuatan kelembagaan tersebut perlu diimbangi dengan produksi gagasan. Kajian dan penelitian tentang Muhammadiyah harus diperluas agar dunia internasional mengenal Persyarikatan bukan hanya melalui nama atau tokohnya, tetapi juga melalui pemikiran, pengalaman, dan kontribusinya.

Pada akhirnya, internasionalisasi Muhammadiyah diarahkan bukan sekadar untuk memperluas keberadaan organisasi, melainkan menghadirkan nilai, gagasan, dan kemanfaatan Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat global.

Dengan modal keilmuan, kelembagaan, sumber daya manusia, serta jejaring yang telah dimiliki, Muhammadiyah dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya dalam diplomasi Islam sekaligus mengambil bagian lebih aktif dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan dan tantangan global.