WARTAMU.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan para tholabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) agar tetap menjadikan akhlak dan moral sebagai pijakan utama dalam menghadapi perkembangan Artificial Intelligence (AI).
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat menghadiri Wisuda dan Pelepasan Tholabah Pengabdian PUTM Muhammadiyah yang digelar di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (29/8/2026).
Haedar terlebih dahulu menyampaikan selamat kepada para tholabah yang diwisuda maupun yang akan menjalankan masa pengabdian. Ia berharap lulusan PUTM dapat memberikan kontribusi bagi Persyarikatan Muhammadiyah, umat, bangsa, serta kemanusiaan secara luas.
Menurut Haedar, para lulusan PUTM akan memasuki kehidupan yang menghadirkan tantangan semakin kompleks. Salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi dan Artificial Intelligence yang kini semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia.
“Kita berada di era di mana teknologi informasi begitu dahsyat dan menjadi kekuatan dominan yang mempengaruhi kehidupan kita, termasuk dengan kehadiran media sosial,” ujar Haedar.
Ia menyebut AI sebagai bentuk kecerdasan buatan yang diciptakan manusia, tetapi dalam perkembangannya justru memiliki kemampuan yang membuat manusia harus kembali mempertanyakan posisi dan perannya sendiri.
“Bahkan kita hari ini sedang menyaksikan hadirnya makhluk baru ciptaan manusia sendiri, yakni Artificial Intelligence (AI). AI itu sering disebut sebagai akal imitasi, tetapi kemampuannya membuat si penciptanya sendiri merasa tidak pede. Bahkan merasa harus menjadi hambanya,” imbuhnya.
Meski AI menawarkan berbagai kemudahan dan kemampuan yang semakin maju, Haedar menegaskan bahwa manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh teknologi, terutama kemampuan menggunakan hati dan akal dengan landasan moral.
Menurutnya, manusia memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu berdasarkan prinsip baik dan buruk, benar dan salah, serta pantas dan tidak pantas. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari akhlak yang membentuk manusia sebagai makhluk beradab.
“Dari al-akhlaq al-karimah, manusia menjadi makhluk beradab yang tahu baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas, yang itu tidak dimiliki oleh makhluk lain sehebat apa pun,” jelasnya.
Haedar menilai kecanggihan teknologi tidak secara otomatis membuat sebuah sistem memiliki kesadaran moral. AI dapat menjalankan perintah sesuai sistem dan tujuan yang diberikan kepadanya, tetapi tidak memiliki kemampuan moral sebagaimana manusia.
“Bahkan robot produk dari Artificial Intelligence, ia tidak tahu tentang baik-buruk. Asal dia di-setup untuk apa pun, dia bisa melakukan apa pun, termasuk ya bisa memicu bom nuklir dengan cara yang paling saintifik tanpa dia punya seleksi moral,” ungkapnya.
Karena itu, Haedar menekankan pentingnya para tholabah PUTM mengembangkan ilmu sekaligus menjaga akhlak. Kemampuan intelektual dan penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral agar ilmu yang dimiliki benar-benar memberikan kemaslahatan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi lulusan PUTM yang dipersiapkan untuk menjalankan peran keulamaan dan pengabdian di tengah perubahan zaman. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, mereka dituntut bukan hanya mampu memahami persoalan keagamaan, tetapi juga memiliki keteguhan moral dalam menyikapi berbagai perubahan.
Sementara itu, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadi Hamzah, berpesan agar para tholabah PUTM selalu berada di barisan terdepan dalam melakukan kebaikan. Ia mengaitkan pesan tersebut dengan semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
Menurut Ustadi, semangat tersebut harus diwujudkan melalui karya nyata yang memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat. Kemajuan tidak cukup hanya diukur melalui kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusia mengarahkan kemajuan tersebut untuk kemaslahatan.
Ia menilai umat Islam perlu terus menghasilkan karya dan inovasi yang dapat memudahkan kehidupan manusia, namun tetap berpegang pada norma dan nilai moral yang membedakan antara baik dan buruk.
Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak menjadi alasan bagi manusia untuk meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya, kemajuan teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat kemanfaatan dan peradaban.
Wisuda dan Pelepasan Tholabah Pengabdian PUTM Muhammadiyah tersebut menjadi momentum penting bagi para calon ulama muda untuk memasuki fase pengabdian. Pada kegiatan tersebut, sebanyak 66 tholabah PUTM diwisuda, sementara 44 tholabah lainnya dilepas untuk menjalankan pengabdian.
Bekal ilmu, akhlak, dan semangat fastabiqul khairat diharapkan menjadi modal bagi para tholabah untuk menghadapi tantangan zaman sekaligus mengambil peran dalam membangun umat, bangsa, dan kemanusiaan.










