Barisan Muhammadiyah Kolot

Ilustrasi

WARTAMU.ID, Humaniora – Dalam berorganisasi itu tidak semua hal berjalan secara mulus dengan mudah, sebab kadang-kadang mengalami jalan berliku-liku karena menghadapi sesama anggota sendiri yang beragam karakter dalam penilaian masing-masing. Ada yang mudah menerima, ada yang cepat mengerti, ada yang selalu membantah, ada yang sangat kaku, ada pula yang pikiran sangat kolot, ada yang ego tinggi, ada yang merasa paling berjasa, ada yang selalu membawa sejarah, dan ada pula yang baru tapi kelewat batas. Namanya dinamika kehidupan dalam berorganisasi, tentu tidak semua setuju dan sependapat terhadap rencana yang akan dikerjakan bahkan terhadap sesuatu yang sedang telah dikerjakan. Hal itu sebenarnya sangat wajar bagian dari sunatullah, yang dibutuhkan adalah kemampuan berpikir jernih, bersikap dewasa dan menyikapi dengan bijaksana. Tidak semua hal bisa dipaksakan ketika berorganisasi tapi juga tidak semua suara harus diiyakan hanya karena arusnya yang semakin tidak lagi memberikan jalan solusi. Yang terpenting adalah bisa mengerjakan dengan penuh tanggung jawab, professional yang organisatoris juga bersikap egalitarian dalam setiap persoalan yang ada.

Akan tetapi dalam berorganisasi di Muhammadiyah, ada juga kendala pada kenyataan pahit yang harus dirasakan. Yakni kehadiran para senior dan sesepuh atau yang merasa dituakan juga merasa paling sudah berjasa segala-galanya, namun pola pikir semakin ribet, ruwet, kolot, kaku, beku, batu, dan payah dimengerti. Maklumlah, terkadang semakin berumur semakin berpola banyak tingkah menguji yang muda atau di bawahnya hanya untuk menunjukkan bahwa senioritas harus tetap dihargai juga diberikan apresiasi. Setiap agenda yang ingin dilakukan dalam bermuhammadiyah di tempat masing-masing, tentu kendalanya pasti berbeda-beda ada yang kendala persoalan kaderisasi, ada persoalan amal usaha, ada persoalan politik pemerintahan, ada persoalan struktural, ada persoalan paham keagamaan, sampai persoalan yang terkecil sampai terbesar itu pasti akan dirasakan di Muhammadiyah. Termasuk perseteruan antara senior dan junior, antara atasan dan bawahan, antara pimpinan dan anggota, antara struktural dan kultural, antara yang punya jabatan dengan yang independen, antara yang merasa lama dengan yang baru dan seterusnya. Hal itu juga berlaku dalam setiap aspek kehidupan lainnya juga di semua bentuk jenis organisasi manapun. Hanya saja untuk ini Muhammadiyah sudah paling dewasa dan di level tertinggi kehebatan nya, sehingga masih dalam koridor kebaikan yang tidak sampai pada perpecahan, permusuhan juga perpisahan. Dinamika kehidupan bermuhammadiyah yang unik dan menarik, bagi yang paham tentu santai menghadapai dan bagi yang baru tahu atau reaksioner tentu merasa gelisah juga tidak tenang.

Barisan Muhammadiyah kolot ini merupakan gambaran realitas yang kerap terjadi bilamana ada beberapa orang kader yang tidak lagi up to date dan fresh pikiran, sehingga langsung menyolot dengan penuh emosi yang menyala berapi-api. Gambaran ini juga fakta di lapangan, bilamana yang bersangkutan merasa ada yang mengganjal di hati dan tidak sesuai dengan sependek pemahamannya tapi langsung dilepaskan begitu saja tanpa pertimbangan yang matang dan atau cara yang elegan lupa dengan citra modernis Muhammadiyah nya sendiri. Kalangan yang susah diajak mikir, susah menyesuaikan keadaan zaman dan selalu kolot ini kadang tidak mesti dari kalangan tua, senior atau yang berumur lama tapi juga pada mereka yang masih muda namun justru kolot layaknya orang tua. Barisan Muhammadiyah kolot ini selalu terbawa romantisme masa lalunya, yang kadang ketika melihat generasi penerus nya tidak sama dan sesuai dengan zamannya, dengan cepat mereka mengekspresikan ketidaksetujuan maupun ketidaksepakatan dengan cara yang aneh dan terbuka. Terkadang model yang beginian lah yang membuat regenerasi mati dan tidak ada penerusnya di persyarikatan baik ranting dan cabang, kalau pun di AUM karena pilihan akhir yang dengan keterpaksaan.

BACA JUGA :  Tradisi “Muang Jong” Masyarakat Belitung

Rendahnya kesadaran para barisan Muhammadiyah kolot ini bisa membuat roda gerakan persyarikatan secara struktural bisa terhenti, sebab membuat tidak nyaman generasi penerus nya akibat dari karakter seniornya dan ayahandanya yang tidak lagi up to date. Merasa selalu ingin mengatur terlalu jauhnya tak bisa dihindari serta menyamakan setiap model pimpinan harus seperti era masa lalunya ketika masih muda atau masih aktif-aktifnya ber Muhammadiyah, sehingga seakan lupa dengan perbedaan zaman tentu beda pula cara menjalankan nya. Yang diperlukan itu adalah dukungan dan apresiasi serta nasehat yang bijak bilamana emang ada sesuatu yang dianggap tidak sesuai, itupun juga sampaikan dengan kelembutan tanpa mempermalukan. Sikap kolot berMuhammadiyah ini harus segera dijauhkan dan dihapus, sebab merusak citra, memutus kaderisasi, kehilangan kenyamanan dan matinya gerakan dakwah karena dianggap ada dalang perusuh yang kolotnya bukan main serta minta ampun bebal. Generasi kolot Muhammadiyah ini kadang tidak meningkatkan literasi nya lebih luas, dikarenakan mental status quo nya begitu akut yang membuat karakter nya selalu merasa besar daripada Muhammadiyah yang seolah merasa jadi kader si paling, si kuasa dan si berjasa. Padahal yang nama organisasi itu berkelanjutan dan setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya yang tentu akan silih berganti dengan ragam model dinamikanya masing-masing.

Terkadang barisan Muhammadiyah kolot ini bisa kembali ke jalur yang lebih baik, bila antar sesama mereka yang segenerasi, seletting, seusia, seangkatan, dan seperjuangan saling melengkapi maupun menasehati dalam kebaikan. Hanya saja kadang sesama mereka juga bisa saling bertolak belakang atau malah semakin membara menjadi-jadi yang merusak mental angkatan muda Muhammadiyah maupun generasi penerusnya sendiri. Mental kolonial dalam berorganisasi bisa terjadi akibat dari melihat sisi lain dengan kacamata serba salah di matanya, padahal yang salah bisa saja pola pikir atau mindsetnya yang semakin kolot, akut, kaku, beku, dan batu tadi. Jika melihat ada kesalahan yang lain, bukan lantas menghakimi karena kesalahan itu bisa saja dulu nya terjadi pada dirinya yang tertutupi atau merasa tidak bersalah. Ada baiknya bila memasuki fase menjadi barisan Muhammadiyah kolot, lebih baik dan mendingan menjauhkan diri sampai bisa berdamai dengan diri sendiri dengan muhasabah maupun evaluasi diri. Agar kekolotan itu hilang dan sirna, dan kembali menjadi barisan Muhammadiyah yang penuh dengan pencerahan hati, pencerahan jiwa dan pencerahan berorganisasi Muhammadiyah tentunya. Pentingnya memberikan dukungan itu lebih utama daripada memberikan vonis hanya karena isi pikiran yang begitu kolot dan ditambah nyolot berapi-api lagi, bukannya mikir keselamatan diri di usia semakin uzur malah nambah musuh yang banyak di fase menjelang usia kematian. Muhammadiyah ini akan terus hidup, sekalipun semua kader-kadernya, pimpinan nya dan warganya telah dipanggil Allah yang Maha kuasa. Semoga setiap langkah-langkah dalam bermuhammadiyah diberikan kemudahan juga kekuatan agar dapat meneruskan perjuangan demi menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

BACA JUGA :  Moderasi Beragama Muhammadiyah

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Kajian Dinamika Kehidupan Muhammadiyah)