Emansipatif X Feminis: Signifikansi Peran Perempuan Modern

Oleh: Aliya Zahra (Koordinator Setara Perempuan)

WARTAMU.ID, Humaniora – Dewasa ini topik pengarusutamaan gender lebih cocok dibahas daripada kesetaraan yang cenderung klasik. Suatu hal yang tidak dapat disangkal bahwa perempuan selalu menjadi pusat perhatian di manapun ia berada bahkan meskipun tidak ada diskriminasi.

Terdapat perbedaan pola yang muncul alamiah dari diri seorang perempuan, dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips Fakta Kepemimpinan Perempuan Menurut Kanter (1976, hlm. 233-236) bahwa ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan perempuan, di antaranya adalah The mother (keibuan). Pemimpin perempuan cenderung bersikap sebagaimana layaknya seorang ibu, misalnya sewaktu anak sakit, sang ibu akan menyediakan obat. Nantinya akan timbul asumsi bahwa pemimpin perempuan mempunyai sifat simpatik, pendengar yang baik, dan mudah untuk mencurahkan permasalahan.

Kedua, The pet (kesayangan). Pemimpin perempuan cenderung menjadi kesayangan bagi bawahannya, sehingga bawahan akan lebih menjaganya. Dalam hal ini, karyawan akan menganggap pemimpin perempuan sebagai orang dekat, sehingga tidak terdapat rasa canggung.

Ketiga, The sex object (obyek seksual). Pemimpin perempuan cenderung menjadi penyemangat kerja bagi karyawannya. Dalam hal ini, pemimpin perempuan dianggap sebagai sebuah faktor yang memotivasi karyawan untuk bekerja lebih giat, akan tetapi kemauan yang timbul dari karyawan untuk bekerja lebih giat bukan karena perintah yang diberikan, tetapi karena ada dorongan dari dalam.

Hal tersebut tentunya berlaku untuk semua interaksi, sebab dasar bersosial adalah rasa percaya diri untuk menjadi memimpin.

Perlunya Sensitivitas Gender

Meskipun dianggap usang namun hal ini menjadi edukasi yang wajib dipahami oleh semua gender tanpa terkecuali, agar tanggung jawab di ranah domestik dan lingkungan sosial tidak terjadi bias.

Sama seperti pengarusutamaan gender yang menjadi jalan keluar ketimpangan gender, dengan kemajuan berpikir seharusnya membuka kolaborasi antara laki-laki dan perempuan agar sama-sama secure menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Secara konseptual, sensitifitas gender adalah kemampuan memahami ketimpangan gender terutama dalam pembagian kerja dan pembuatan keputusan yang mengakibatkan berkurangnya kesempatan dan rendahnya status sosial ekonomi perempuan dibandingkan laki-laki.

BACA JUGA :  Resensi Novel Heartling Karya Indah Hanaco

Ketimpangan gender menunjukkan adanya ketidakadilan (gender gap) dan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam rumah tangga, masyarakat dan negara. (Handi Mulyaningsih, 2008).

Secara spesifik pembagian ini adalah kesepakatan bersama karena gerakan emansipatif dan feminis tidak memiliki akses mengurusi ranah privasi individu, maka perlu kerja kolektif dan keterbukaan berpikir agar ranah tersebut bisa dijamah.

Membaca Peluang Perempuan
Tidak ada kesetaraan gender tanpa kolaborasi perempuan dan laki-laki. Membaca peluang perempuan berarti memberikan pilihan tempat yang layak bagi progresifitas perempuan.
Berkarir dari rumah sembari mengasuh anak, berkarir di rumah sembari berkuliah, atau pun berkarir di publik sebagaimana umumnya tetap menjadi simbol perempuan berdaya jika dilandasi kecerdasan.
Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah kodrat keibuan yang lemah lembut dan menjadi pembeda dari laki-laki yang perlu direpresentasikan dalam setiap kiprahnya.
Mari ciptakan kolaborasi gender yang positif, mari ciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan agar pembahasan gender tidak terpaku pada bias dan kesetaraan – namun selangkah lebih maju untuk membangun peradaban.