DAERAH  

Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan Jadi Tema Musywil Ke-12 Nasyiah Jatim

Musywil PWNA Jatim XII

WARTAMU.ID, Gresik – Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-12 Nasyiatul Aisyiyah (NA) Jawa Timur (Jatim) yang diselenggarakan di Gresik mengusung tema ‘Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan, Menguatkan Peradaban’.

Menurut Hervina Emzulia MPd, tema ini tergolong amat urgen. “Kita saat ini berada pada peradaban media dan teknologi yang pergerakannya kian tak terkendali dan terprediksi. Zaman yang serba tak pasti ini memunculkan apa yang oleh para ahli disebut sebagai disrupsi. Dan, kita semua, suka tidak suka akan turut terimbas. Tanpa kecuali Nasyiatul Aisyiyah,” ujarnya.

Adapun Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi yang selama ini mengusung narasi gerakan perempuan berkemajuan menurut Hervina juga memerlukan bukti pada ranah aksi. “Artinya, gerakan-gerakan yang dipelopori Nasyiatul Aisyiyah haruslah senantiasa relevan dengan zaman, kendati Nasyiatul Aisyiyah harus tetap mempertahankan jati diri,” imbuhnya.

Hervina menegaskan, narasi gerakan perempuan muda akan tetap menuntut pembuktian dengan gerakan berkelanjutan. Maka, menguatkan peradaban menjadi fokus isu gerakan pada gelaran Musywil XII ini.

Program Strategis

Sejalan dengannya, urgensi tema ini juga diungkap Ria Eka Lestari SSi, Ketua Bidang Sosial dan Hukum NA Jatim. Dia melihat perjalanan NA Jatim yang terus berkomitmen memberdayakan peran perempuan muda untuk masyarakat melalui berbagai program. Antara lain, aksi antikekerasan terhadap anak dan perempuan, menciptakan keluarga muda tangguh, Nasyiah tanggal stunting, dan terakhir ialah gerakan memberantas buta aksara.

Menurut Tari, panggilan akrabnya, langkah strategis itu menjadi ikhtiar nyata untuk terus mewujudkan perempuan muda berkemajuan dalam berbagai sektor. “Sehingga gerakan perempuan muda berkemajuan urgen untuk dilakukan! Sangat urgent saya kira,” ujarnya.

Mengingat, peran aktif perempuan muda menyasar semua aspek kehidupan. Baik dalam hal pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. “Apalagi menghadapi tantangan dan permasalahan yang semakin kompleks. Kenyataan itu menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan,” tambahnya.

Tari juga mengungkap, pemikiran dan langkah strategis perempuan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan tentu dibutuhkan melalui posisi dan peran masing-masing. “Kehadiran perempuan di berbagai ruang menjadi kekuatan untuk menciptakan perubahan,” ungkapnya.

Fasilitator Guru Penggerak ini melanjutkan, “Dibutuhkan dukungan gerakan serentak agar kiprah dakwah semakin kokoh, luas, dinamis, dan progresif. Ketika gerakan perempuan muda sampai di tahap itu, sinergi tanpa diskriminasi akan membangun kehidupan berperadaban dengan umat terbaiknya.”

Masifnya Gerakan Perempuan Muda

Nyatanya, lanjut Tari, kemasifan gerakan perempuan muda Jawa Timur sudah di tataran cukup. “Meski progres dan berbagai kemajuan telah kita rasakan, pada kenyataannya berbagai perlakuan salah yang merugikan perempuan masih terjadi,” ungkapnya.

Tari mencontohkan, baru-baru ini Komnas Perempuan menggaungkan kembali kebebasan pers dan pemenuhan hak jurnalis perempuan. “Padahal sejak tahun 2022 Indonesia telah memiliki UU No 12 tentang TPKS. Ternyata, Dewan Pers masih perlu menerbitkan Pedoman Pemberitaan Kekerasan Seksual termasuk Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dan Pedoman Perlindungan Perempuan Jurnalis dalam menjalankan tugasnya,” imbuhnya.

Menurut buku Profil Perempuan Indonesia 2021 menyebutkan bahwa kuantitas perempuan Jawa Timur terhitung lebih banyak jumlahnya daripada laki-laki. 50,63 persen penduduk Jawa Timur adalah perempuan, 49,37 persen sisanya adalah laki-laki. Tari berpendapat, ini menjadi peluang bersama untuk mampu memajukan peradaban bersama.

“Harusnya sinergi para perempuan bisa lebih masif sehingga perempuan dapat lebih memiliki kesempatan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang setara dalam pembangunan,” ujarnya.

Gerakan perempuan bukan hanya demonstrasi perihal kesetaraan saja tapi juga dalam berbagai cara. Terkait hal ini, Tari berpendapat, “Menurut saya sih bisa dikelompokkan dalam gerakan kesukarelaan (voluntary), gerakan keswasembadaan (self generating), dan gerakan keswadayaan (self supporting). Saya pikir tiga gerakan ini mampu menunjukkan kemampuan perempuan untuk menciptakan public sphere yang komunikatif dan ideal”.

Tari menegaskan, “Berbagai keterampilan memang perlu dimiliki perempuan agar mampu unjuk potensi dan memiliki value terbaiknya. Perjuangan perempuan akan terus berjalan jika saya dan kamu terus bergandeng tangan untuk saling membesarkan dan menguatkan sehingga mampu membawa peradaban lebih berkemajuan.”

Harapan

Tari lantas menyampaikan harapannya. “Perempuan Jawa Timur harus berbudaya. Mengingat perempuan adalah potensi negeri dan anak adalah masa depan bangsa. Upaya-upaya terhadap perlindungan perempuan dan anak perlu peran semua pihak sehingga terbentuk perempuan berdaya, anak terlindungi, Jawa Timur maju!”

Tak hanya itu, Tari berharap semua unsur masyarakat harus bisa merangkul kesetaraan untuk masa depan yang lebih baik. “Perempuan setara, perempuan masa depan berkemajuan, semoga bisa kita wujudkan bersama. Oleh karenanya Musywil Ke-12 NA Jatim membawa narasi besar yaitu gerakan perempuan muda berkemajuan untuk menguatkan peradaban. Kita perempuan, kita muda dan kita berdampak!”

Hervina juga menyampaikan harapannya. “Saya berharap, kepada siapa pun, para perempuan, yang senantiasa istiqamah di jalan perjuangan dan pergerakan, semoga senantiasa berada pada saf yang rapi!” ujarnya.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *