DAERAH  

Kajian Malam Selasa PDM Way Kanan Bahas Makna Syahadah sebagai Fondasi Keimanan dan Istiqamah

PDM Way Kanan Gelar Kajian Perdana, Ust. Benhur Ismail Kupas Makna Syahadah

WARTAMU.ID, WAY KANAN- Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Way Kanan menggelar Kajian Malam Selasa secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (01/06/2026) malam. Kajian ini mengangkat tema “Makna Syahadah” dengan menghadirkan Ust. Benhur Ismail, S.Pd sebagai pemateri dan dipandu oleh Munawar, S.Fil.I selaku moderator.

Dalam pemaparannya, Ust. Benhur Ismail menjelaskan bahwa syahadah bukan sekadar ucapan yang dilafalkan seorang muslim, melainkan sebuah kesaksian yang memiliki makna mendalam dan konsekuensi besar dalam kehidupan. Menurutnya, syahadah merupakan fondasi utama keimanan yang harus dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, kata syahadah berasal dari kata syahida yang memiliki berbagai makna, seperti hadir, melihat langsung, mendengar, mengakui, memberitahu, berjanji, hingga bersumpah. Oleh karena itu, seseorang yang bersyahadah sesungguhnya sedang menyatakan pengakuan, membuat ikrar, mengikat janji, sekaligus menguatkannya dengan sumpah di hadapan Allah SWT.

“Kesaksian selalu memiliki konsekuensi. Karena itu tidak semua orang siap menjadi saksi. Dalam Islam, syahadah berfungsi sebagai pengawal komitmen seseorang untuk tetap berada di jalan kebenaran dan menjaga konsistensi keislamannya,” jelasnya.

Ust. Benhur menguraikan bahwa Al-Qur’an menggambarkan syahadah sebagai bentuk pernyataan, janji, dan sumpah. Salah satunya tercermin dalam QS. Ali Imran ayat 18, ketika Allah, para malaikat, dan orang-orang berilmu menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Selain itu, dalam QS. Al-A’raf ayat 172 dijelaskan tentang perjanjian primordial antara Allah SWT dengan seluruh anak cucu Adam yang menjadi dasar fitrah tauhid manusia.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa syahadah yang dipahami secara benar akan mengantarkan seseorang kepada keimanan yang hakiki, yaitu iman yang dibenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui amal perbuatan. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan para ulama, termasuk dalam Tafsir Ibnu Katsir terhadap QS. Al-Baqarah ayat 177.

Namun demikian, keimanan tidak bersifat statis. Karena itu diperlukan sikap istiqamah agar iman tetap terjaga. Mengutip hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”

BACA JUGA :  Buntut Ucapan Parosil Mabsus, Pemuda Muhammadiyah Datangi Kantor DPD PDIP Lampung

Menurutnya, istiqamah merupakan kunci kebahagiaan seorang mukmin. Allah SWT menjanjikan berbagai karunia bagi mereka yang istiqamah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Fussilat ayat 30. Di antaranya adalah ketenangan hati, keberanian menghadapi kehidupan, optimisme dalam menjalani masa depan, serta kabar gembira berupa surga yang telah dijanjikan Allah SWT.

“Iman bisa mengalami pasang surut, sementara istiqamah adalah penjaganya. Orang yang mampu menjaga istiqamah akan memperoleh ketenangan hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat,” ujarnya.

Kajian yang berlangsung interaktif tersebut menjadi ruang penguatan pemahaman keislaman bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat umum. Melalui tema ini, peserta diajak untuk memahami bahwa syahadah bukan sekadar kalimat yang diucapkan, tetapi sebuah komitmen hidup yang harus diwujudkan dalam keimanan, amal saleh, dan keteguhan menjalankan ajaran Islam.

Kegiatan Kajian Malam Selasa ini merupakan salah satu upaya PDM Way Kanan dalam meningkatkan literasi keislaman dan memperkuat pembinaan ideologi bagi warga Muhammadiyah secara berkelanjutan.