Kebersamaan Warga Muhammadiyah Struktural Dan Kultural

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si dan Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. (Dok. Facebook)

WARTAMU.ID, Humaniora – Menjaga kebersamaan sesama keluarga besar persyarikatan Muhammadiyah sangatlah penting. Kebersamaan yang dibangun tentu atas dasar semangat taawun dalam kebaikan untuk memajukan semua amal usaha Muhammadiyah. Tidak ada yang merasa tinggi dan hebat di atas segalanya baik sebagai pimpinan struktural maupun sebagai jamaah kultural. Seringkali pada beberapa momentum terkadang sedikit terjadi perbedaan pendapat yang cukup mewarnai aktivitas organisasi seperti struktural dengan struktural maupun struktural dengan kultural warga Muhammadiyah. Hal ini karena masing-masing punya paradigma dan perspektif masing-masing dalam melihat laju persyarikatan maupun aum nya.

Bermuhammadiyah tidak hanya melihat para tokoh maupun pimpinan pusatnya semata, melainkan jika ditarik pada fakta empiris justru dilihat ketika berada di lingkungan nya dalam hal ini di ranting atau PRM jika ada, atau cabang PCM jika ada atau pada daerah atau PDM maupun organisasi Aisyiyah nya. Keluarga besar Muhammadiyah juga lahir dari beberapa organisasi otonom atau ortomnya seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hizbul Wathon, Tapak Suci dan juga organisasi sayapnya seperti Kokam, Lazismu, MDMC, dan lainnya. Ada yang bermula dari kaderisasi langsung maupun ortom dan ada juga yang dari keturunan keluarga atau berada lingkungan Muhammadiyah. Hal ini merupakan bagian dari kehidupan berorganisasi modern yang semua tujuan nya adalah mencari ridho Allah.

Dilihat dari sudut pandang aspek politik-sosial warga Muhammadiyah terbagi sebagai struktural maupun kultural di dalam persyarikatan. Ini memiliki perbedaan yang cukup bertolak belakang dan juga terkadang cukup beragam atau juga bisa sama juga sepaham tergantung pada kontekstual nya. Bicara pada kader struktural tentu mereka sebagai pimpinan atau anggota resmi baik di tingkat PRM, PCM, PDM, PWM, PP atau pimpinan di Ortom dengan garis serupa. Lantas agak berbeda dengan kader kultural yang bisa saja dari kader struktural yang tak lagi menjadi pengurus karena beberapa faktor bisa karena usia, penyakit, pekerjaan, berpindah, sampai pada tidak lagi dipanggil, diajak atau ikut bersama. Selain itu kader kultural lain yang tidak pernah jadi pengurus pimpinan di mana pun, akan tetapi dalam berorganisasi islam basis ormas kemasyarakatan memilih bersama Muhammadiyah sebagai warga, jamaah, simpatisan atau karena keluarga persyarikatan. Sehingga warna wanita dalam warga Muhammadiyah sudah cukup terbuka dan berada dalam warna perbedaan yang indah.

Akan tetapi gejolak antara struktural dan kultural kerap kali terjadi dalam beberapa situasi seperti politik praktis pemilu, muktamar, pemilihan pergantian pengurus, amanah jabatan di amal usaha maupun situasi polemik lainnya. Hanya saja tidak sampai pada efek yang buruk atau amoral, sebab warga Muhammadiyah dengan sendirinya bisa menjaga dan menahan diri dengan batas pemahaman yang dipengaruhi oleh gerakan islam berkemajuan versi Muhammadiyah. Itulah penting nya menjaga kebersamaan seluruh warga Muhammadiyah apapun kondisi latar belakang nya baik dari pusat sampai ranting, atas sampai bawah, dan keseluruhan nya.

Jika pun ada perselisihan atau perbedaan pendapat sesama internal struktural atau dengan kultural, tetaplah menjaga kekeluargaan dengan baik. Sebab program dan agenda Bermuhammadiyah sangat padat dan banyak, sehingga tak perlu berlanjut atau berlarut dalam hal perbedaan yang justru membuat semakin destuktif atau tidak lagi produktif lagi progresif. Kembali pada cita-cita bersama berorganisasi sesuai dengan landasan falsafah Kiyai Ahmad Dahlan dan para tokoh terdahulu dalam menginspirasi kehidupan. Terlebih bagi teman-teman yang hanya sebagai kader atau warga Kultural yang paling sering tak dianggap atau tak didengar, walau tak pernah berada kepengurusan, atau tak pernah dari alumni sekolah aum, atau kampus aum, atau ortom, dan hanya punya Ikatan keluarga saja entah dari orang tua, kakek, paman maupun lingkungan. Yang penting masih memiliki keikhlasan, kesabaran dan kesungguhan dalam hidup Bermuhammadiyah di tengah situasi yang terasing sekalipun di lingkungan nya. Tetap jaga kebersamaan warga Muhammadiyah baik struktural maupun kultural, karena itu juga sudah bagian dari dakwah ukhuwah menjaga persaudaraan sesama warga Muhammadiyah dan juga dengan seluruh anak bangsa lainnya. Dengan begitu, secara bertahap dan berkelanjutan dapat membantu persyarikatan Muhammadiyah juga negara dengan kontribusi, kemampuan dan kesanggupan masing-masing warga Muhammadiyah.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Kajian Islam, Pembangunan dan Kebijakan Publik)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca wartamu.id. (Terimakasih – Redaksi)

 2,269 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *