Menjaga Api di Dapur Rakyat

Oleh: Joko Supriyadi

Seorang ibu menyiapkan makanan di dapur sederhana. Di balik stabilitas pangan nasional, ada jutaan dapur rakyat yang harus tetap menyala.

Truk-truk pengangkut beras mulai memasuki halaman gudang saat langit masih gelap. Di bawah cahaya lampu yang redup, puluhan pekerja memanggul karung-karung beras ke ruang penyimpanan yang nyaris penuh. Bau gabah kering bercampur debu tipis memenuhi udara dini hari itu.

Di sudut gudang, suara karung yang diseret di lantai semen terdengar bersahutan. Seorang pekerja sibuk mencatat jumlah stok yang datang malam itu. Sesekali ia menyeka peluh meski udara masih dingin. Aktivitas seperti itu berlangsung hampir setiap hari, saat sebagian besar orang masih terlelap, rantai panjang penjaga pangan nasional sudah bergerak memastikan beras tetap tersedia di meja makan masyarakat.

Bagi banyak orang, beras mungkin hanya terlihat sebagai kebutuhan sehari-hari yang selalu tersedia di pasar. Namun di balik sebutir nasi yang tersaji di meja makan, terdapat kerja panjang yang melibatkan petani, sopir angkutan, pekerja gudang, pedagang pasar, hingga negara yang berusaha menjaga agar harga pangan tidak lepas kendali.

Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan gejolak harga kebutuhan pokok, pangan tidak lagi sekadar urusan perdagangan, melainkan persoalan ketahanan hidup. Laporan World Food Programme (WFP) 2026 memperkirakan ratusan juta penduduk dunia berisiko mengalami kelaparan akut akibat konflik, perubahan iklim, dan guncangan ekonomi global.

Di tengah situasi itu, negara dituntut hadir menjaga pangan tetap terjangkau dan di titik itulah peran BULOG menjadi semakin penting.

Selama 59 tahun, Perum BULOG hadir sebagai salah satu penyangga utama ketahanan pangan nasional. Melalui pengelolaan cadangan beras pemerintah, penyerapan gabah petani, distribusi pangan, hingga operasi pasar, BULOG berupaya menjaga agar masyarakat tetap bisa memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau.

Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menyebut stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola BULOG hingga Mei 2026 telah mencapai 5,3 juta ton dan diproyeksikan menembus 6 juta ton pada akhir Mei. Jumlah tersebut menjadi bantalan penting bagi pemerintah untuk menjaga kesinambungan distribusi dan mengendalikan gejolak harga pangan di berbagai daerah.

BACA JUGA :  Gen-Z dan Manifesto Politik Nasional

Namun bagi masyarakat kecil, peran itu sering kali tidak terlihat secara langsung.

Yang mereka rasakan hanyalah satu hal sederhana, beras tetap ada dan dapur masih bisa mengepul.

Pagi mulai ramai di Pasar Pisang Baru, Way Kanan. Di antara deretan lapak sembako yang dipenuhi aroma sayur mayur, Wita Nurmeini sibuk melayani pembeli beras yang datang silih berganti. Perempuan 32 tahun itu sudah hampir satu dekade menjadi pedagang kecil di pasar tersebut.

Baginya, gejolak harga beras selalu menjadi persoalan yang paling cepat dirasakan masyarakat.

“Kalau harga naik sedikit saja, pembeli langsung banyak mengeluh,” katanya.

Ia masih ingat bagaimana kepanikan masyarakat sempat terjadi ketika harga beras melonjak beberapa waktu lalu. Banyak pembeli membeli lebih banyak dari biasanya karena khawatir harga terus naik. Pedagang kecil seperti dirinya pun ikut cemas karena stok di pasaran mulai menipis.

Dalam situasi seperti itu, operasi pasar menjadi salah satu yang paling ditunggu masyarakat. Pemerintah juga terus melakukan distribusi beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang hingga Mei 2026 realisasinya telah mencapai ratusan ribu ton untuk menjaga keterjangkauan harga di masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga beras mulai menurun pada awal Mei 2026. Kondisi itu menjadi pertanda bahwa upaya stabilisasi pangan yang dilakukan pemerintah mulai memberi dampak terhadap pengendalian harga di berbagai wilayah.

“Kalau pasokan mulai masuk dan harga kembali stabil, masyarakat jadi tenang,” ujar Wita.

Bagi keluarga kecil dengan penghasilan pas-pasan, harga beras bukan sekadar angka ekonomi. Kenaikan beberapa ribu rupiah saja dapat menentukan apakah mereka masih mampu memenuhi kebutuhan lain seperti biaya sekolah, listrik, atau uang transportasi.

Karena itu, menjaga stabilitas pangan sesungguhnya berarti menjaga stabilitas kehidupan jutaan keluarga Indonesia.

Pengamat pangan berkali-kali mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari stabilitas sosial. Ketika harga pangan melonjak dan pasokan terganggu, kelompok masyarakat miskin menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.

BACA JUGA :  Menjadi Kader Muhammadiyah Sejati

Ancaman itu semakin nyata di tengah perubahan global. Perubahan iklim membuat musim tanam sulit diprediksi. Konflik geopolitik memengaruhi rantai distribusi pangan dunia. Sementara pertumbuhan penduduk membuat kebutuhan pangan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada mekanisme pasar semata.

Intervensi negara melalui cadangan pangan dan operasi pasar menjadi penting untuk menahan gejolak harga sekaligus menjaga masyarakat tetap memperoleh bahan pokok dengan harga yang wajar.

BULOG menilai stabilitas pangan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga kemampuan distribusi dan kesiapan cadangan pemerintah dalam menjaga pasokan tetap tersedia di tengah masyarakat.

Karena itu, ketika produksi petani melimpah, penyerapan gabah dilakukan agar harga di tingkat petani tidak jatuh terlalu rendah. Hingga awal Mei 2026, penyerapan gabah petani oleh BULOG telah mencapai lebih dari 2,4 juta ton setara beras sebagai bagian dari penguatan cadangan pangan nasional.

Penyerapan hasil panen menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan harga dan cadangan pangan nasional

Kerja-kerja itu berlangsung jauh dari sorotan. Dari gudang penyimpanan hingga distribusi antardaerah, para pekerja, sopir angkutan, dan pedagang pasar menjadi bagian dari rantai panjang yang menjaga ketahanan pangan tetap berjalan.

Dengan 1.555 gudang penyimpanan di berbagai daerah, distribusi pangan nasional bergerak hampir tanpa henti. Pemerintah juga mulai membangun gudang baru di wilayah terdepan untuk memperkuat jangkauan logistik pangan nasional hingga daerah yang selama ini sulit dijangkau.

Di dalam gudang, para pekerja terus menyusun karung beras hingga setinggi badan orang dewasa. Debu tipis beterbangan setiap kali karung dipindahkan. Di luar bangunan, truk-truk kembali bergerak menuju berbagai daerah membawa pasokan pangan untuk masyarakat.

Mereka bekerja dalam sunyi, tetapi dari kerja itulah stabilitas kehidupan jutaan orang dipertaruhkan.

BULOG juga tidak hanya berbicara soal stok beras. Bantuan pangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah terus disalurkan kepada jutaan keluarga penerima manfaat agar kelompok rentan tetap memiliki akses terhadap kebutuhan pokok di tengah tekanan ekonomi.

Karena itu, menjaga pangan berarti menjaga masa depan bangsa.

BACA JUGA :  Menjaga Masa Kini, Menyelamatkan Masa Depan: Penolakan Survei Seismik di Laut Kangean

Tanpa stabilitas pangan, sulit membayangkan pembangunan dapat berjalan baik. Anak-anak tidak dapat belajar dengan tenang ketika kebutuhan dasar keluarga terganggu. Produktivitas masyarakat menurun ketika harga kebutuhan pokok terus melonjak. Ketidakstabilan pangan bahkan dapat memicu persoalan sosial yang lebih luas.

Wita Nurmeini memahami persoalan itu dengan sederhana.

Menurutnya, masyarakat kecil tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin harga kebutuhan pokok tetap terjangkau agar dapur rumah tangga tetap bisa berjalan.

“Yang penting beras ada dan harganya jangan terlalu mahal,” katanya pelan.

Kalimat sederhana itu menggambarkan persoalan besar sebuah bangsa.

Bahwa di balik berbagai angka pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional, ada kebutuhan paling mendasar yang harus selalu dijaga: memastikan rakyat tetap bisa makan dengan layak.

Selama hampir enam dekade, BULOG menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Kerja menjaga pangan memang tidak selalu terlihat megah. Tidak selalu hadir dalam gemerlap pembangunan kota besar. Tetapi justru dari gudang-gudang penyimpanan, pasar rakyat, hingga distribusi ke berbagai daerah, stabilitas kehidupan jutaan masyarakat dipertaruhkan.

Ketahanan pangan pada akhirnya adalah tentang menjaga kehidupan keluarga-keluarga kecil di negeri ini.

Karena pada akhirnya, ketahanan pangan bukan sekadar angka stok beras atau kapasitas gudang negara.

Ia hidup di dapur-dapur sederhana.

Pada kepulan asap tungku yang tetap menyala setiap pagi.

Pada seorang ibu yang masih bisa menanak nasi untuk keluarganya.

Pada rakyat kecil yang tidak harus hidup dalam kecemasan ketika harga pangan bergejolak.

Dan selama api di dapur rakyat masih dapat dijaga, di situlah sesungguhnya harapan sebuah bangsa tetap menyala.