Konten Kreator Muhammadiyah

Ilustrasi

WARTAMU.ID, Humaniora – Ruang produktivitas di era digital tidak lagi hanya sekedar pekerjaan reguler dan manual di kehidupan nyata baik di kantor, sekolah, kampus, perusahaan maupun lainnya. Bahkan semua itu juga tetap masuk dalam ruang digital sebagai akun yang juga hidup terjun di dunia sosial media. Produktivitas itu kini bisa diisi melalui ruang sosial media dengan berbagai metode dan juga bermacam motif yang dilakukan. Bila di kehidupan nyata itu ada sesuatu yang buruk, jelek, negatif, zalim, maksiat, kemungkaran, fitnah, namimah, ghibah, buruk dan tercela lainnya begitu juga di kehidupan dunia maya sosial media. Sosial media menjadi ruang dan alat bagi siapapun dengan maksud serta tujuan yang beaneka ragam baik untuk eksistensi, monetisasi, komersialisasi, politisasi, transaksionalisasi, dan kontestasi apapun. Konten kreator adalah orang yang menciptakan, membuat, memproduksi, mengedit, menyusun konten kemudian diupload, diposting, diunggah, dipublish ke akun sosial medianya untuk mendapatkan respon dari pengikutnya. Sebagai konten kreator tentu akan mendapatkan reaksi baik sebagai pecinta lovers maupun sebagai pendengki haters terhadap konten-konten yang telah disajikan. Era digital sebagai era baru dalam cyber memberikan kesan bahwa itulah sebuah keniscayaan yang akan terjadi di ruang digital sebagai mestinya di ruang kehidupan nyata. Hanya saja bentuk, model, waktu, ruang, alat dan sebagainya yang membedakan sikap emosional nya dalam memahami konten-konten sosial media.

Kesuksesan konten kreator itu beragam ada yg kreator profesional-premium, kreator profesional-maksimum, kreator profesional-medium, kreator profesional-minimum, kreator eksis, kreator narsis, kreator problematis, kreator politis, kreator agamis, kreator akademis, kreator filosofis, kreator selebritis, kreator sadis, dan kreator ekstrimis serta lainnya. Para kreator digital yang sukses di semua sosial media merupakan kreator superis, kreator yang sukses di salah satu atau dua kreator dinamis dan kreator yang sukses di salah satu aplikasi sosial media merupakan kreator spesialis. Adapun aplikasi sosial media nya ada di YouTube, Facebook, Instagram, Tiktok, X Twitter, dan Whatsapp sebagai aplikasi terbanyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Hasil monetisasi para konten kreator pun beragam dari yang hanya nol zero sampai hero dari angka ratusan, ratus ribuan, jutaan, puluh jutaan, ratus jutaan, sampai milyaran dari akumulasi bulanan maupun tahunan. Keuntungan lainnya ialah adanya iklan sponsor, biaya endors, followers, tips, bintang, koin, sawer dan berbagai istilah yang beragam di setiap aplikasi. Namanya konten kreator tentu produktivitas kinerjanya adalah konten-konten baik foto gambar, video, teks, dan lainnya yang sebagian orang memandang seperti bukan sebuah profesi pekerjaan reguler umum lainnya. Yang jelas konten kreator ini lah yang mengisi ruang digital sosial media yang juga bagian dari perputaran ekonomi sebagai lahan bisnis komersial di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Orang yang sukses di dunia nyata beluk tentu sukses di sosial media, orang yang sukses di sosial media pun belum tentu sukses di dunia nyata jika akhirnya akan tenggelam tergantikan dengan hal baru yang lebih viral terbaru lagi. Konten kreator termasuk profesi baru yang juga dapat menghasilkan uang sekaligus menciptakan segmen pasar perputaran uang yang cukup besar. 3 aplikasi sosial media yang dapat menghasilkan uang terbesar dan terbanyak yakni YouTube, Facebook dan Tiktok untuk pasaran netizen Indonesia. Konten kreator nama lainnya youtuber, facebooker, instagramer dan tiktokers baik yang sudah profesional maupun yang masih reguler. Perjalanan karir para konten kreator juga beragam latar belakang sekaligus berbeda aspek pilihan segmentasi nya, hal itu tergantung pada kreator itu sendiri dalam menciptakan konten-konten. Beberapa hal konten itu sebenarnya kebanyakan meniru ide konsep gagasan saja, yang membedakan hanya aktor, ruang, waktu, tenpat, property, editing dan beberapa latat saja. Meskipun memang ada konten kreator yang benar-benar pelopor, otentik, dan orisinil konsep sebagai pencipta utama sebelum jadi Viral, POV, FYP, Booming, meledak dan istilah-istilah sosial media lainnya. Sosial media menjadi sarana aktivitas hiburan, pekerjaan, politik, agama, olahraga termasuk pendidikan dan lainnya. Tentu nya setiap konten ada yang bersifat edukatif, informatif, sensitif juga lainnya yang harus dilakukan filterisasi sebagai upaya menyaring nya.

BACA JUGA :  UMKO Berikan Pelatihan Penggunaan E-Learning Bagi Guru SMA/SMK Kotabumi

Konten kreator Muhammmadiyah sebenarnya jumlahnya masing sangat sedikit dan level mikro, beberpaa akun resmi official persyarikatan Muhammmadiyah juga tidak begitu banyak diakses oleh netizen termasuk netizen Muhammmadiyah maupun non Muhammmadiyah. Akan tetapi para konten kreator Muhammmadiyah mulai bermunculan dengan berbagai lintas profesi masing-masing baik sebagai guru, dosen, pengajar, pendidikan, muballigh, kader sosmed dan lainnya dengan ciri khas personal individu masing-masing. Setidaknya ada 3 jenis konten kreator Muhammmadiyah sebagai gambaran besar nya yakni pertama konten kreator Muhammmadiyah Formal yang menggunakan alat fasilitas operasional Muhammmadiyah baik untuk persyarikatan maupun juga untuk akun pribadi. Kedua konten kreator Muhammmadiyah Mandiri yakni yang membuat segala konten dengan berbagai peralatan baik pemula seadanya sampai profesional dengan kepemilikan sendiri pribadi untuk dakwahnya Muhammmadiyah maupun akun pribadinya. Ketiga konten kreator Muhammmadiyah Afiliasi yakni mereka yang tidak masuk dalam pimpinan struktur manapun, tidak pula dalam amal usaha Muhammmadiyah juga tidak terlibat dalam program kerja namun tetap warga Muhammmadiyah kultural yang membuat konten tentang Muhammmadiyah sebagai dakwah atau juga reupload, repost dan reproduksi kembali konten Muhammmadiyah dari berbagai akun yang ada.

Jadilah konten kreator Muhammmadiyah sebagai penyeimbang umat netizen di sosial media, agar dapat memberikan pencerahan dan pencerdasan yang pertengahan di saat netizen pro maupun kontra atau cinta serta benci yang berlebihan dianata keduanya. Perlunya hadir para konten kreator Muhammmadiyah mandiri atau personel independen yang membawa narasi konten tawasuth-tajdid dan tawazun-tanwir sebagai model serta nilai hasanah dalam dunia perkontenan sosial media. Jika konten kreator lain diluar sana mencari nafkah dengan cara kegaduhan, polemik, kekacauan dari sisi cinta yang berlebihan atau benci berlebihan, maka konten kreator Muhammmadiyah harus mencari disisi hikmah kebijaksanaan yang mengedepankan nilai-nilai islami, syar’i, dan imani dalam detail konten sosial media. Konten kreator Muhammmadiyah harus membawa arus tengah netizen sebagai barisan wasahtiyyah di tengah kontestasi dunia para konten kreator termasuk pada bidang dakwah dan agama. Karena memang sebagian kecil konten kreator Muhammmadiyah itu masih ada yang membawa arus lovers atau haters sekalipun dia tokoh Muhammmadiyah yang juga membawa paham Muhammmadiyah karena sangking pahamnya juga seniornya serta populernya. Yang dibutuhkan banyak kini dan kelak ada para konten kreator Muhammmadiyah yang berjiwa Pertengahan tidak mengikuti arus Kiri atau Kanan dan juga tidak berkedok merasa paling Muhammmadiyah karena jabatan amanah atau kebesaran nama yang dimiliki nya. Dunia digital dan dunia sosial media juga perlu pencerahan ajaran Muhammmadiyah layaknya Teologi Al Maun, Teologi Wal Asri dan juga Pemikiran Ideologis Kiyai Ahmad Dahlan di ruang sosial media menghadapi jahiliyah modern netizen yang semakin marak merajalela. Semoga para konten kreator Muhammmadiyah dapat mengisinya juga membawa arus perubahan pertengahan untuk netizen sosial media agar tidak perlu terpengaruh para barisan lovers dan haters termasuk kepada konten kreator Muhammmadiyah yang masih bermain, menikmati, dan menyelami di ruang polemik serta problematik tersebut tentunya.

BACA JUGA :  WR II Unismuh Makassar Prof Andi Sukri Syamsuri: Artificial intelligence Berdampak Kurang Interaksi Guru dengan Peserta Didik

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Intelektual Muhammmadiyah Islam Berkemajuan)