Kunjungi Pos Pelayanan Relawan Muhammadiyah Pronojiwo, Wakil Ketua LLHPB : Awas Menjadi Wisatawan Bencana

Kunjungi Pos Pelayanan Relawan Muhammadiyah Pronojiwo, Wakil Ketua LLHPB : Awas Menjadi Wisatawan Bencana

WARTAMU.ID, Lumajang (Jawa Timur) – Relawan Muhammadiyah mendapat kunjungan dari Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LILHPB) PPA, Rahmawati Husein, pada Minggu (23/1/2022) yang lalu di Pos Pelayanan (Posyan) Erupsi Muhammadiyah Respon Bencana Erupsi Gunung Semeru, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Dalam kunjungan tersebut, Rahmawati yang juga merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini berbagi pengalamannya menjadi relawan.

Menurutnya, para calon relawan harus mengetahui standar kemanusiaan sebelum terjun ke lapangan. “Kerja relawanpun harus menggunakan standar kemanusiaan. Misalnya, minum berapa hari yang harus dikerjakan, shelter ruangan yang dibutuhkan terutama pada saat bencana di masa pandemi,” ujar Rahma.

Berdasarkan Core Humanitarian Standard, Rahmawati memaparkan bahwa, standar kemanusian terdiri dari sembilan komitmen terhadap komunitas dan warga terdampak krisis. Sembilan komitmen yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Respons kemanusiaan harus sesuai dan relevan
2. Respons kemanusiaan harus efektif dan tepat waktu
3. kemanusiaan harus mendorong peningkatan kapasitas lokal dan tidak menimbulkan akibat buruk
4. Respons kemanusiaan berdasarkan pada komunikasi, partisipasi, dan umpan balik
5. Pengaduan disambut baik dan ditangani
6. Respons kemanusiaan harus terkoordinasi dan saling melengkapi
7. Pekerja kemanusiaan senantiasa belajar dan meningkatkan diri
8. Staf didukung dalam melaksanakan pekerjaannya dengan efektif dan diperlakukan dengan adil dan setara
9. Sumber-sumber daya dikelola dan digunakan dengan bertanggungjawab sesuai peruntukannya

Kerja kemanusiaan kata Rahma, dipandu oleh empat prinsip, yakni kemanusiaan, imparsialitas, independensi, dan netralitas yang harus dijaga.

Lanjut dia, pengetahuan tersebut diberikan agar masyarakat tidak menjadi bagian dari Wisatawan Bencana atau turis yang hanya ingin melihat-lihat lokasi bencana saja. Hal itu bisa memberatkan relawan atau warga yang terdampak.

“Membantu kemanusiaan itu tidak hanya bermodal niat. Niat saja tidak cukup, tetapi harus memahami standar, mau berkoordinasi tidak bekerja sendiri, harus memiliki kemampuan,” terangnya.

Perempuan yang akrab dipanggil Bu Ama oleh para mahasiswanya menuturkan, di masa pandemi relawan harus tetap menjaga protokol kesehatan, mengingat banyak orang dari luar daerah yang datang tanpa diketahui, apakah mereka membawa virus atau tidak.

“Karena virus itu tidak ada yang berjalan sendiri tapi yang bawa orang, jadi untuk mengurangi risiko tetap harus prokes,”tuturnya.

Rahma juga mengingatkan kesehatan para relawan agar menjaga imun tubuh. Penerapan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas dan interaksi. “Karena kerja di daerah bencana itu kan butuh fisik harus kemana kemari. Kalau capek nggak makan vitamin, imunnya menurun bisa risiko. Kalau ada satu aja yang kena bisa menular,”tandasnya.

Lanjut dia, para relawan juga harus memahami bahwa bekerja di kebencanaan bukanlah tugas yang bisa dikerjakan sendirian, tetapi semua divisi harus saling melengkapi.

Kontributor: Aisyah Amira Wakang

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *