WARTAMU.ID, Humaniora – Sebagai warga Muhammadiyah tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah AUM, apalagi jika berada di dalamnya atau sebagai pimpinan yang ikut serta membantu dalam setiap prosesnya. Akan tetapi akan menjadi aneh jika masih tidak tahu secara arti dan makna apa itu AUM tapi bekerja dan beraktivitas di dalamnya, sehingga itu menjadi banyak faktor penilaian. Terlepas dari itu, AUM adalah bentuk amal usaha dari Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah islam yang orientasinya merupakan beramal soleh secara nyata, konkret dan faktual. Sehingga AUM ini pun beragam pengelolaannya baik dimiliki langsung oleh PRM, PCM, PDM, PWM dan PP Muhammadiyah tentunya. Semua tergantung program kerja organisasi melalui para pimpinan struktural yang sedang mengemban amanah.
Namun terkadang ada hal yang dapat memperlambat gerak kerja atau pembangunan AUM, hal itu kemungkinan besar terjadinya miss komunikasi, lemah koordinasi, dualisme kepemilikan, atau pun juga tak sejalan seiringan dengan pimpinan. Akan tetapi juga lebih banyak yang terkordinasi dengan baik sehingga terjalin hubungan relasi antara pimpinan persyarikatan dan pimpinan AUM jika dengan orang yang berbeda. AUM adalah aset Muhammadiyah yang itu punya nilai secara materi, tergantung bagaimana bentuk fisik, fasilitas dan nilainya itu pada tiap-tiap tingkatan. Untuk merintis, membangun, mengembangkan, membesarkan dan bahkan sampai memuaskan AUM itu adalah kerja sama yang besar lagi berjamaah oleh seluruh warga Muhammadiyah yang memiliki kepedulian terhadap persyarikatan ini.
Di dalam dinamika amal usaha Muhammadiyah tentu tidak lepas dari problematika dan dinamika terhadap manajemen atau tata kelolanya dari seluruh aspek. Aspek pertama paling dominan adalah ketika amal usaha diisi dan merekrut tenaga dari luar warga Muhammadiyah, akan tetapi diberikan kemudian formalitas persyaratan dan ia tidak benar-benar menjadi warga Muhammadiyah secara tunggal melainkan juga sebagai anggota di banyak organisasi lain atau bahkan memang dilainnya. Aspek kedua adalah kekurangan kader generasi penerus yang melanjutkan kepemimpinan di amal usaha Muhammadiyah, khususnya pada tingkatan PCM dan PRM kasta paling bawah pimpinan struktural persyarikatan yang nilai aset amal usahanya juga sangat kecil secara nominalistik, statistik dan materialistik.
Idealnya ketika membangun amal usaha Muhammadiyah itu tentu dengan cara berjamaah dan bersama-sama. Jika amal usahanya dianggap kecil atau miskin, maka susah dan sedih harus dirasakan berjamaah bersama demi mempertahankan serta memperjuangkannya agar tetap hidup, serta jangan pula dengan rela, sengaja atau tanpa kesedihan jika akirjnya mati atau tutup. Jika amal usahanya sedang atau stagnan, itu pun juga harus dinikmati dan disyukuri secara berjamaah bersama artinya masih ada lahan dakwah bermuhammadiyah di amal usaha, sehingga jangan lagi mempersulitkannya. Apalagi jika amal usaha yang besar atau berkembang lagi bonafit, tentu secara berjamaah bersama juga senang, bahagia, bersyukur. Sehingga jangan lagi malah dianggap sebagai rebutan kursi seperti dalam politik, rebutan makanan tak karuan seperti hewan, atau perang menghantam menang kalah seperti ingin menghancurkan tabik kekuasaan dan sebagainya. Bermuhammadiyah dan beramal usaha itu tentu tak lepas dari meneladani sang pendiri dan sang pencerah Kiyai Ahmada Dahlan yang penuh dengan keikhlasan, kesabaran, keistiqomahan, ketakwaan, kemandirian, kebersamaan dan kekuatan hati yang besar.
Sudah seharusnya kita sebagai warga Muhammadiyah ikut bahagia dan bangga dengan adanya amal usaha Muhammadiyah yang dibangun secara berjamaah bersama. Sebab itu sudah merupakan bentuk membangun negeri, membangun bangsa dan membangun agama baik secara fisik maupun mental. Tidak mudah memang, tapi juga tidak sulit jika dijalani dengan sepenuh hati dan kebersamaan yang mencerminkan persaudaraan antar sesama warga Muhammadiyah baik struktural maupun kultural dan seterusnya.
Dengan adanya amal usaha Muhammadiyah itu, menandakan bahwa Muhammadiyah hadir untuk umat dan tentunya juga jangan dilupakan kepada warganya. Pentingnya kesejahteraan itu adalah sikap yang dicontohkan Kiyai Ahmad Dahlan sekaligus juga pesan nya yang paling fenomenal yakni hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Ini pesan dapat dimaknai secara tersirat maupun tersurat dengan penuh pedalaman maupun penghayatan. Berapapun nilai asetnya baik yang masih jutaan, ratusan, miliyaran dan triliunan harus disyukuri sehingga dapat memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia. Apalagi jika memberikan jalan kemudahan dan kesejahteraan yang dinikmati secara bersama-sama dengan jalan yang besar sesuai dengan prinsip, manhaj, dan khittah Muhammadiyah. Dengan begitu, mari membangun amal usaha Muhammadiyah secara berjamaah bersama dari kecil dan zero sampai besar dan hero, sehingga ini menjadi buah kenikmatan hasil dakwah dengan kendaraan gerakan dakwah persyarikatan Muhammadiyah tentunya.
Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA.
(Alumni Pendidikan Intensif Mubaligh Muda Berkemajuan)












