Menjadi Elit Muhammadiyah

Ilustrasi Dok Foto Istimewa

WARTAMU.ID, Humaniora – Muhammadiyah semakin besar dan semakin maju jaya berkat semua kader yang telah banyak membangun berbagai macam amal usaha Muhammadiyah. Bermuhammadiyah sama dengan beribadah hablum minalloh wa hablum minannas, yang menjalankan dakwah islam berkemajuan melalui gerakan organisasi islam berbentuk persyarikatan. Dari para generasi awal sampai pada menuju generasi keempat bahkan generasi kelima Muhammadiyah dalam membesarkan Muhammadiyah menjelang 2 abad nya. Semua menjalani kehidupan di persyarikatan dengan niat mengharap ridho Allah semata, melalui teladan para generasi sebelumnya.

Kader Muhammadiyah itu sangat beragam ada yang menjadi tokoh elit, tokoh bangsa, tokoh organisasi, tokoh AUM, guru, dosen, pejabat, aparat, tenaga ahli, pebisnis, bankir, arsitektur, ekonom, psikolog dan politisi bahkan profesi kreatif lainnya. Hanya saja tidak semua menjadi elit Muhammadiyah baik dalam kancah pimpinan pusat maupun dalam kancah kehidupan nasional di negeri ini. Umumnya elit selalu dikonotasikan menjadi kurang baik, akibat hanya mementingkan status quo nya sendiri dan hanya berada di circle elit melebihi kalangan atas melainkan kalangan yang lebih tinggi layaknya memiliki singgsana sendiri. Walaupun tidak semua elit Muhammadiyah begitu, sebab masih lebih banyak elit Muhammadiyah tetap bersahaja, soleh, merakyat membumi dan juga dekat dengan rakyat, ummat dan warga Muhammadiyah di lingkungan sosial masyarakat.

Menjadi Elit Muhammadiyah saat ini cenderung jika memiliki jabatan publik, jabatan politik, jabatan pemerintahan atau bahkan jabatan politikus. Sehingga terkadang elit Muhammadiyah yang lain yang lebih Ikhlas menjadi kalah pamor dan kalah pengaruh akibat dianggap tak banyak memberikan bantuan materi, bantuqn komersial, bantuan lobby kepentingan maupun bantuan yang sifatnya kekuasaan. Padahal dulunya, menjadi elit Muhammadiyah itu adalah para tokoh Muhammadiyah sekaligus tokoh bangsa yang benar-benar menjalani kehidupan yang seimbang antara orientasi dunia dan akhirat.

Lantas kenapa bermunculan Kader Muhammadiyah yang ingin menjadi elit Muhammadiyah dengan jalan, cara, dan sikap yang cenderung instan, dadakan, memaksa lewat jalan politik kekuasaan dan politik praktis ini. Ada banyak kemungkinan yang terjadi tentunya, seperti halnya agar selalu mendapatkan tempat paling istimewa agar pengaruhnya secara kepentingan politik selalu mendapatkan karpet merah yang lebih istimewa. Tentunya banyak faktor lain yang bisa didapatkan melihat realitas di lingkungan Muhammadiyah masing-masing, yang itu tentunya dapat dilihat dan dibaca setiap warga Muhammadiyah sendiri pada umumnya. Sehingga menjadi elit Muhammadiyah itu tidak selalu dan melulu karena jabatan politik yang didapatkan, melainkan mestinya elit Muhammadiyah adalah sebagai guru bangsa, guru rakyat, guru ummat dan guru bagi seluruh warga Muhammadiyah.

BACA JUGA :  Gedung Rektorat UMPRI Siap Diresmikan

Harapan terbesar bagi warga dan kader yang menjadi elit Muhammadiyah, hendaknya untuk lebih besar mengabdi kepada ummat dan bangsa tanpa harus melekat kepentingan yang hanya bersifat politik praktis dan politik kekuasaan semata. Sebab ada hal yang lebih urgensi dan afdhol, yakni merawat marwah persyarikatan Muhammadiyah sama halnya juga akan merawat harkat martabat bangsa ini agar tetap menjaga moralitas lagi budi luhur. Tidak masalah dalam hal apapun, tidak punya beban moralitas apapun, bahkan menjadi elit Muhammadiyah yang tetap berada pada nilai, khittah, pedoman, prinsip, ideologi dalam Muhammadiyah itu sendiri. Semoga semakin banyak yang menjadi elit Muhammadiyah dengan mengamalkan mizanul hayat atau keseimbangan hidup, baik dunia dan akhirat, baik organisasi dan profesi, baik rakyat dan ummat, baik jabatan dan amanah pun begitu dengan yang lainnya. Dengan begitu para elit Muhammadiyah tetap menjadi contoh teladan yang baik bagi seluruh warga Muhammadiyah agar tetap mengharapkan keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat tentunya.

Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA.
(Kader Kokam Diklatsar Sleman-DIY)