Muhammad Arifin Pimpin APPTIMA Periode 2026–2028, Dorong Ekosistem Penerbitan PTMA Berdaya Saing Global

Sebagai langkah menuju internasionalisasi penerbit buku PTMA, APPTIMA merencanakan penyelenggaraan Musyawarah Nasional berikutnya di Malaysia

WARTAMU.ID, Parapat (17/1) – Muhammad Arifin resmi didaulat sebagai Ketua Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APPTIMA) periode 2026–2028. Direktur Penerbit UMSU Press ini terpilih melalui Musyawarah Nasional (Munas) APPTIMA yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Parapat, pada 15–17 Januari.

Muhammad Arifin menggantikan Budi Nugroho yang telah memimpin APPTIMA pada periode sebelumnya. Penetapan kepemimpinan baru ini menjadi tonggak penting dalam upaya penguatan dunia penerbitan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Dalam kepengurusan periode 2026–2028, Muhammad Arifin didampingi oleh Mujiarto dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya sebagai Sekretaris dan Vini Wela Septiana dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat sebagai Bendahara. Munas APPTIMA juga menetapkan struktur kepengurusan lengkap beserta personalia yang akan menjalankan roda organisasi ke depan.

Muhammad Arifin menyampaikan bahwa program kerja utama APPTIMA saat ini adalah mengidentifikasi kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah yang belum bergabung sebagai anggota. “Terlebih kampus yang belum memiliki penerbit, akan kami dorong agar kampus tersebut dapat memiliki penerbit sendiri,” ujarnya.

Saat ini, jumlah kampus yang telah bergabung dengan APPTIMA baru mencapai sekitar 70 perguruan tinggi. Ia berharap ke depan semakin banyak PTMA yang berpartisipasi aktif, khususnya kampus yang telah memiliki penerbit, untuk bersinergi dan berkolaborasi demi kemajuan dunia literasi di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Menurut Muhammad Arifin, penerbit tidak hanya berperan sebagai sarana literasi akademik, tetapi juga merupakan bagian dari industri yang harus dikelola secara profesional. “Kami berharap APPTIMA dapat menjadi ekosistem perbukuan yang sehat dan berkelanjutan di Muhammadiyah,” tambahnya.

Sebagai langkah menuju internasionalisasi penerbit buku PTMA, APPTIMA merencanakan penyelenggaraan Musyawarah Nasional berikutnya di Malaysia. Hal ini didasari oleh banyaknya karya dosen PTMA yang telah diterima dan dijadikan rujukan oleh perguruan tinggi di luar negeri. “Ini menunjukkan bahwa buah pikir dosen PTMA mampu bersaing di kancah internasional,” ungkapnya.

Selain itu, APPTIMA juga berencana mengikuti berbagai pameran buku internasional sebagai upaya memperkenalkan karya dosen PTMA ke tingkat global. Muhammad Arifin menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dan pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan penerbitan. “Mau tidak mau, dunia digital harus kita gunakan agar tidak ketinggalan,” pungkasnya.

BACA JUGA :  Ribuan Milenial Sleman Antusias Ikuti Seminar Nasional Entrepreneur (Indonesia Recovery)