Muhammadiyah Musiman

Moh. Ridho Ilahi Robbi (Angkatan Muda Muhammadiyah Sumenep)

WARTAMU.ID, Humaniora – Salah satu Ormas islam terbesar di dunia adalah Muhammadiyah. Organisasi ini berdiri pda tahun 1912 dan didirikan oleh seorang ulama bernama Ahmad Darwis yang kemudian mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan setelah menunaikan ibadah Haji. Selain menjadi Ormas terbesar di dunia, Muhammadiyah juga menjadi ormas terkaya dengan aset yang diperkirakan mencapai 400 Triliyun.

Perkembangan Muhammadiyah sendiri semakin tahun semakin pesat, meskipun menurut saya pribadi di beberapa daerah (Terutama pedesaan) masih tergolong minoritas dibandingkan Ormas yang dijuluki sebagai “Adik Bungsu” Muhammadiyah yakni NU (Nahdlatul Ulama).

Selayaknya organisasi pada umumnya, tentu Muhammadiyah memiliki sistem pengkaderannya sendiri (Darul Arqom, Baitul Arqom DLL). Kader-kader Muhammadiyah memiliki keunikan tersendiri, mungkin hal ini dikarenakan seseorang yang baru menjadi kader Muhammadiyah berasal dari berbagai macam golongan dan dari latar belakang yang berbeda. Seperti saya pribadi, yang memang tidak termasuk kader tulen muhammadiyah (Blasteran). Latar belakang saya mengenal Muhammadiyah adalah karena rasa penasaran yang teramat sangat tinggi, sehingga saya mencari tahu tentang Muhammadiyah dan kemudian mengikuti pengkaderan dasar di salah satu Organisasi otonom Muhammadiyah yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Rasa penasaran itu, membuat saya mengulik tentang muhammadiyah, bahkan saya sempat mendatangi pimpinan Ortom Muhammadiyah hanya untuk menanyakan bagaimana majelis tarjih muhammadiyah dalam mengambil hukum syari’at. Dan dari rasa penasaran itulah benih cinta pada organisasi ini mulai tumbuh. Namun ada beberapa teman yang mungkin tidak seberuntung saya dalam mengenal Muhammadiyah, hal ini mungkin akibat dari tidak selesainya pengkaderan yang mereka jalani, atau mungkin saja mereka hanya “mengejar sesuatu” di Muhammadiyah.

Pengkaderan yang tidak tuntas itu seringkali menimbulkan krisis identitas bagi kader-kader organisasi pada umumnya, dan pada Muhammadiyah khususnya, sehingga melahirkan Varian baru, yakni Muhammadiyah Musiman. Istilah ini saya tujukan kepada mereka yang memiliki sifat selektif dalam keterlibatan organisasional, dimana mereka hanya aktif pada moment-moment tertentu, seperti event besar atau moment-moment spesifik, tanpa adanya kontribusi yang berkelanjutan.

Fenomena ini lahir tidak lain karena adanya krisis identitas daripada kader Muhammadiyah itu sendiri. Seseorang yang mengaku Muhammadiyah namun hanya muncul saat adanya kepentingan pribadi atau hanya pada saat suasana ramai yang menyenangkan, seakan hanya memanfaatkan organisasi tanpa adanya dedikasi untuk memikirkan bagaimana organisasi dapat mencapai nilai-nilai dan tujuan organisasi, kecuali tujuan mereka dari awal memang hanya untuk “memanfaatkan”.

BACA JUGA :  Motivation and Affect

Pada level yang lebih dalam, Muhammadiyah musiman menunjukkan kelemahan dalam kesadaran akan tanggung jawab kolektif. Organisasi seperti Muhammadiyah memerlukan komitmen dan keterlibatan yang berkelanjutan dari para anggotanya untuk dapat berfungsi secara optimal dalam mewujudkan misi dan visinya. Namun, ketika anggota hanya terlibat sesekali, hal ini menciptakan kesenjangan antara retorika dan praksis, antara idealisme dan realitas.

Selain itu, Muhammadiyah musiman juga mencerminkan sikap konsumtif terhadap agama. Ketika seseorang hanya aktif dalam organisasi untuk merasakan manfaat pribadi atau untuk mengejar status sosial, hal ini menunjukkan bahwa agama hanya dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan individual, bukan sebagai sarana untuk berkontribusi pada perbaikan masyarakat. Tentu hal ini sangat melenceng dari tujuan awal muhammadiyah.

Namun, kritik terhadap Muhammadiyah musiman tidak semata-mata ditujukan pada individu. Karena, organisasi juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan anggotanya untuk terlibat secara aktif dan berkelanjutan. Hal ini adalah upaya dalam membangun keterlibatan kader dalam bermuhammadiyah, memberikan ruang untuk partisipasi, dan memotivasi kader untuk berkontribusi secara nyata.

Dalam menghadapi fenomena Muhammadiyah musiman seperti ini, menurut saya perlu diambil langkah-langkah konkret. Pertama, perlu adanya edukasi dan pembinaan yang menguatkan identitas organisasional dan membangun kesadaran akan pentingnya keterlibatan aktif. Kedua, perlu diciptakan mekanisme yang memfasilitasi partisipasi yang berkelanjutan, seperti program-program pengembangan kader dan kegiatan rutin yang menarik minat kader. Dan ketiga, pentingnya pembinaan nilai-nilai solidaritas dan tanggung jawab sosial, agar kader tidak hanya berkontribusi saat berada dalam lingkaran kepentingan pribadi, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan mereka.

Kesimpulannya, Muhammadiyah musiman adalah tantangan yang perlu diatasi bersama oleh seluruh kader dan pimpinan organisasi. Ini tidak hanya tentang mengkritik perilaku individu, tetapi juga tentang merefleksikan kembali nilai-nilai dan komitmen yang menjadi landasan dari gerakan keagamaan ini. Hanya dengan keterlibatan yang tulus dan berkelanjutan, Muhammadiyah dapat terus menjadi kekuatan yang membawa perubahan positif bagi masyarakat Indonesia.