WARTAMU.ID, Malang – Sebagai bagian dari rangkaian Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), mahasiswa bersama dosen pendamping menghadirkan kegiatan bermanfaat bagi masyarakat di bidang pendidikan dan pengasuhan anak usia dini. Salah satu agenda penting terselenggara di TK Muslimat NU 30, Dusun Biru Mluwo RT. 06 RW. 02, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ibu Retno Firdiyanti, S. Psi., M. Psi., yang membawakan materi tentang parenting bertema ”Memahami Indra ke-6, ke-7, dan ke-8 pada Anak”. Kehadiran beliau menjadi momen berharga bagi para orang tua dan guru untuk memperdalam pemahaman seputar tumbuh kembang anak di luar lima indra klasik.
Mengapa Indra ke-6 s.d. ke-8 Penting?
- Dalam literatur perkembangan anak, indra ke-6, ke-7, dan ke-8 kerap merujuk pada:
Vestibular (keseimbangan & orientasi gerak): membantu anak menjaga postur, mengatur keseimbangan, dan merasa aman saat bergerak. - Proprioseptif (posisi & tekanan tubuh): memberi “peta” tentang di mana posisi bagian tubuh, seberapa kuat menggenggam, mendorong, atau melompat.
- Interoseptif (sinyal dari dalam tubuh): membantu anak mengenali rasa lapar/haus, lelah, butuh ke toilet, hingga menyadari detak jantung saat cemas.
Ketiganya fondasional bagi konsentrasi, regulasi emosi, kemandirian, serta kesiapan belajar. Anak yang kebutuhan sensori ini terpenuhi biasanya lebih tenang, mudah fokus, dan lebih siap mengikuti aktivitas sekolah.
Inti Materi: Cara Praktis Menstimulasi di Rumah dan di Sekolah
- Ibu Retno menekankan bahwa stimulasi sensori tidak harus mahal, yang penting konsisten, aman, dan menyenangkan.
Stimulasi Vestibular (keseimbangan/gerak)
Main ayunan, jungkat-jungkit, papan titian/garis lurus, “pesawat” (dibopong miring), atau jalan di permukaan berbeda (rumput/pasir/ubin). Aktivitas berguling di matras, melompat di tempat, menari bebas mengikuti musik. Prinsip: mulai pelan, durasi singkat, amati respons anak, hindari gerakan berputar berlebihan. - Stimulasi Proprioseptif (posisi & tekanan)
“Heavy work” yang aman: mendorong kursi ringan, menarik keranjang mainan, merapikan kelas, membawa buku tipis. Meremas playdough, meronce manik, mencubit kertas origami, seni kolase menekan/menempel. Permainan memeluk bantal, “wall push-up”, atau menyusun balok besar. Prinsip: tekanan dalam dosis kecil tapi sering, memberi efek menenangkan dan meningkatkan kesadaran tubuh. - Stimulasi Interoseptif (sinyal internal)
Check-in tubuh: “apakah perut terasa lapar/haus?”, “napas cepat atau lambat?”. Rutinitas ke toilet terjadwal; ajarkan mengenali tanda-tanda sebelum “darurat”. Latihan napas sederhana (hitung 4 masuk, 4 tahan, 4 keluar), mindful minute setelah bermain. Kamus emosi: bantu anak menamai sensasi (“perutku kencang saat gugup”) lalu pilih strategi menenangkan.
Ibu Retno juga mengingatkan tanda overload sensori: anak tampak mudah kesal, menolak disentuh, atau justru mencari gerak berlebihan. Strategi ringkas: kurangi rangsangan (suara/kerumunan), tawarkan “pojok tenang”, beri aktivitas proprioseptif singkat (memeluk bantal, wall push-up), lalu ajak bernapas bersama.
Suasana sosialisasi berlangsung hangat dan interaktif. Orang tua berbagi tantangan, misalnya anak yang enggan berhenti bermain gawai atau mudah kewalahan di tempat ramai, sementara guru memaparkan praktik di kelas seperti sirkuit sensori (titian, meronce, sudut baca tenang) sebelum memasuki sesi belajar. Diskusi dua arah membuat materi mudah dipahami dan langsung aplikatif.
Kehadiran Ibu Retno Firdiyanti, S.Psi., M.Psi. mendapat apresiasi tinggi karena menyampaikan konsep yang kerap terdengar “teknis” menjadi sederhana, konkret, dan inspiratif. Kegiatan PMM ini menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi, sekolah, dan masyarakat mampu menghadirkan dampak nyata, anak lebih siap belajar, guru lebih terbantu, orang tua lebih percaya diri dalam mendampingi.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan orang tua dan tenaga pendidik semakin termotivasi untuk menghadirkan pola asuh serta lingkungan belajar yang sehat, penuh kasih sayang, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.












