BANDAR LAMPUNG – Momen peluncuran buku Kisah dari Tanah Lado: 15 Cerita Rakyat Lampung menjadi salah satu agenda istimewa dalam Festival Literasi Lampung 2026 yang digelar di Gedung Nuwo Baca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Selasa (28/7/2026).
Pada kesempatan tersebut, penulis asal Kabupaten Way Kanan, Eko Prasetyo, mewakili 15 penulis dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Lampung menyerahkan buku secara simbolis kepada Bunda Literasi Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, yang didampingi Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela.
Penyerahan buku tersebut menjadi simbol kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung, pegiat literasi, dan para penulis lokal dalam mendokumentasikan sekaligus melestarikan kekayaan budaya daerah melalui karya sastra. Buku Kisah dari Tanah Lado memuat 15 cerita rakyat yang berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Lampung. Setiap cerita disusun kembali dengan bahasa yang lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan nilai budaya maupun pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Penerbitan buku ini merupakan langkah strategis Pemerintah Provinsi Lampung untuk menjaga memori sejarah, melestarikan kearifan lokal, serta memperkenalkan kekayaan sastra lisan Lampung kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital.
Sebanyak 15 penulis terlibat dalam penyusunan buku tersebut, yakni Pancaria Suhesti, Edythia Rio Wirawan, Siti Nurfajriah, Mimin Mintarsih, Duli Serly, Nani Rahayu, Haura Khoida, Umi Setaworo, Mohammad Medani, Udo Z. Karzi, B. Putro Zardani, Akhmadi Sumaryanto, Mohamad Nur Sholihin, Pilian Tiwi, dan Eko Prasetyo.
Eko Prasetyo mengatakan keberhasilan penerbitan buku tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan kunci dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di Provinsi Lampung.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Lampung perlu terus menghadirkan berbagai inovasi di bidang literasi meskipun di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Program kolaboratif dinilai mampu menjadi katalisator lahirnya karya-karya baru yang bersumber dari kekayaan budaya daerah.
“Literasi di Lampung akan lebih baik jika Pemerintah Provinsi terus melakukan upaya-upaya inovatif di tengah maraknya efisiensi. Festival Literasi Lampung menjadi contoh kolaborasi yang berhasil mempertemukan penulis lokal, Bunda Literasi di setiap kabupaten dan kota, serta Bank Indonesia sebagai mitra sehingga melahirkan buku kumpulan cerita rakyat ini. Saya berharap karya seperti ini mampu memantik lahirnya lebih banyak karya yang menggali kekayaan budaya Lampung sehingga menjadi warisan pengetahuan yang tidak lekang dimakan zaman,” ujar Eko.
Bunda Literasi Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya daerah sekaligus memperkuat ekosistem literasi di Lampung.
Sementara itu, Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, berharap buku tersebut menjadi media pembelajaran bagi generasi muda agar lebih mengenal sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur masyarakat Lampung.
Peluncuran buku Kisah dari Tanah Lado: 15 Cerita Rakyat Lampung diharapkan menjadi pemantik lahirnya lebih banyak karya literasi berbasis budaya lokal yang mampu memperkuat identitas Lampung sekaligus mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.












