WARTAMU.ID, Humaniora – Tidak bisa dipungkuri bahwa dalam kehidupan itu memang akan ada pihak yang membenci dan ada pula pihak yang mencintai bahkan sampai di titik yang sangat berlebihan atas kebenciannya ataupun kecintaanya. Dalam sifat benci dan cinta ini memang terkadang tidak akan bisa kekal abadi, bahkan bisa berubah dari yang tadinya benci menjadi cinta, atau yang tadinya cinta kemudian benci, ataupun tetap terus mencintai sepuluh hati bahkan adapula yang terus membenci sampai mati. Hal ini merupakan rangkaian panjang diri manusia yan pada hakikatnya dari berbagai faktor psikologis, sosiologis dan antropologis. Rasa kebencian ini mulanya dari ketidaksetujuan yang akhirnya membesar akibat dari lingkungan yang membuat luka hati. Disisi lain rasa kecintaan pun begitu besar akibat dari lingkungan yang selalu memberikan dukungan sepenuhnya. Memang antara benci dan cinta secara keilmuan memiliki kesamaan frekuensi yang bisa menyebabkan terjatuh pada salah satunya dan bahkan akan berada di posisi itu secara bergantian dalam waktu yang panjang. Itulah kenapa Islam mengajarkan untuk tidak berlebihan secara isrof, tasayabbuh dan ujub terhadap apapun termasuk sikap benci dan cinta itu sendiri.
Dalam kehidupan berorganisasi pun tak luput dari rasa benci dan cinta di dalamnya. Hal ini karena yang namanya manusia gak luput dari perasaan hati dan jiwanya ketika menjelani sebuah aktifitas kehidupan. Idealnya memang tidak boleh terlalu membenci dan jangan pula terlalu mencintai berlebihan, hal itu dapat membuat kerugian pada diri sendiri kelak di kemudian hari hari yang akhirnya malu sendiri atau pun menjadi penyakit hati. Ketika menjadi warga dan kader Muhammadiyah pun pasti akan merasakan hal ini, yakni kebencian atau pun kecintaan dari lingkungan luar terhadap Muhammadiyah terkhusus di beberapa daerah, cabang dan ranting. Namun ternyata di dalam internal Muhammadiyah sendiri pun bisa saja terjadi kebencian dan kecintaan ketika mengalami dinamika, polemik, pereteruan, silang pendapat ataupun problematika lainnya. Hal ini karena manusia tak lepas dari hawa nafsu, amarah, dan penyakit hati lainnya yang awalnya hanya karena persoalan kecil lagi sepele tapi tak mampu diterima dengan kebesaran hati, kebesaran jiwa dan kebesaran iman. Melainkan justru sikap ambisius, arogansi dan apologis yang lebih ditonjolkan, sehingga tak mampu mengendalikan diri. Muhammadiyah sejak awal berdirinya bukan organisasi dan perkumpulan yang menanamkan kebencian kepada siapapun meski berbeda organisasi, agama dan prinsip. Akan tetapi justru menjadi organisasi yang menjadi korban kebencian dan objek kebencian baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dari pihak manapun.
Teruslah membenci Muhammadiyah sampai menjelang kematian, jika itu membuat hati merasa puas dan bahagia, yang mungkin karena persoalan baik yang menganggapnya organisasi itu tidak penting, pembaharuan yang dianggap tidak jelas, kader yang dianggap hanya elitis, atau kebencian lainnya yang padahal itu bukan Muhammadiyah nya melainkan hanya sekumpulan orang di dalamnya yang memang tak semua belum bermuhammadiyah sesungguhnya walaupun telah memahami segalanya. Pihak yang membenci Muhammadiyah ini memang tak akan musnah sampai kiamat yang itu dari berbagai pihak kalangan, atas model gerakan dakwah Muhammadiyah. Padahal lahirnya Muhammadiyah adalah untuk memberikan pencerahan dan kemajuan umat dalam dakwah konkret melalui amal usaha Muhammadiyah yang itu dapat menolong seluruh umat manusia. Hanya saja pihak yang membenci itu tak akan pernah rela dan senang pula dengan itu semua. Jika memang kebencian terhadap Muhammadiyah membuat banyak pihak mendapatkan keuntungan, maka yakinkah kelak akan dihisab dan menjadi amal buruk yang sia-sia di mata Allah. Karena kebencian hanya mengantarkan pada kerusakan hidup dan membuat segalanya menjadi lebih buruk dalam kehidupan.
Rasulullah dalam hidup nya pun tak luput dari kebencian baik dari lingkungan keluarganya sendiri sampai pada kaum kafir quraisy dan para pembenci islam. Begitu pun Kiyai Ahmad Dahlan dalam hidupnya tak lepas dari pihak para pembenci baik dari lingkungan keluarganya sendiri sampai pada lingkungan terjauh yang sampai ingin mengancam membunuhnya. Kelahiran dan kehadiran Muhammadiyah tak lepas dari pihak-pihak kaum kebencian bahkan sampai sekarang saat ini. Jika masa merintis dan Kelahiran Muhammadiyah saja bahkan sebelumnya sudah mengalami tekanan kebencian, apalagi sekarang ini yang telah besar tentu pihak kebencian pun akan semakin besar baik secara eksternal maupun internal, baik yg hanya kebencian persoalan kecil sampai pada kebencian persoalan besar. Akan telah sebuah teladan hasanah, bahwa Muhammadiyah dan para santrinya sejak dulu kala tak pernah membalas kebencian sikap dan terus berdakwah secara beramal nyata tanpa pamrih. Mental yang kuat dan sikap istiqomah tapi pasti ini yang membuat banyak pihak itu teruslah membenci Muhammadiyah sampai menjelang kematiannya sendiri dan akan menyesal sendiri akhirnya.
Kebencian itu merupakan sifat tercela yang tidak baik apalagi bila ditularkan dan mempengaruhi kepada lainnya secara meluas. Tetap saja kaum kebencian terhadap Muhammadiyah itu akan terus ada selama masih hidup, dan sebagian besarnya pun pada akhirnya jadi pihak yang mencintai dan membela perjuangan dakwah Muhammadiyah, hanya saja harus dikendalikan agar tidak berlebihan dan menjadi kelewat batas sehingga merusak citra sendiri atas pembelaan yang terlalu berlebihan pula. Sampai kapan pun bagi yang menganggap Muhammadiyah itu adalah ancaman, tentu tak pernah usai dalam membenci Muhammadiyah sekali pun mendekati ajal kematiannya. Sebagai warga Muhammadiyah yang istiqomah dan ikhlas, agar tidak terjerumus pada pihak yang terlalu membenci dan tidak pula terjerumus pada pihak yang terlau mencintai, sebab keduanya itu sama halnya dan tidka ada bedanya karena tarik menarik hanya posisi dab spektrum saja yang berbeda dan bahkan keduanya bisa saling berbalik arah dalam kondisi tertentu. Teruslah berjuang bersama Muhammadiyah untuk terus mencerdaskan Umat, mencerahkan umat dan menggerakkan umat dalam kebaikan serta kemaslahatan. Meskipun di tengah situasi tarik menarik pada kebencian yang tak berkesuduhan, akan tepat lebih utama mensyiarkan dakwah islam yang seusai dengan garis khittah Muhammadiyah dalam membangun Nusa, bangsa, agama dan negara.
Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
(Analis Intelektual Muhammadiyah Islam Berkemajuan)












